Rabu, 29 Desember 2010

Mou Hitotsu no Hanayome

Title: Mou Hitotsu no Hanayome
Pairing: UruhaxKai; uruhaxofc
Chapter: 1/1 (oneshot)
Genre: Angst, romance, drama
Rating: PG
Warning: dead character

“KRIIIIIIING!!!”

Aku mulai membuka mataku. Ah… ternyata alarm jamku berbunyi. Kuambil jam dari meja dekat tempat tidurku. Mataku terbelalak melihat sekarang sudah jam sembilan pagi.

“Gawat! Aku terlambat! Kuso!” kataku sambil terburu-buru menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera mengenakan baju serba putih. Setelah memakai dasi, aku mengenakan tuxedo putih dan sedikit berdandan.

“Yosh! Aku sudah siap! Semoga aku tidak terlambat ke acara pemberkatan pernikahan,” kataku sambil meraih kunci mobilku.

Aku benar-benar tidak tenang. Karena ini adalah pertama kalinya. Pertama kalinya di dalam hidupku aku dihancurkan oleh orang yang benar-benar aku sayangi.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan sebuah gereja. Gereja di mana seharusnya aku merasa bahagia.

“Kai!” terdengar suara Aoi memanggilku. Aku melambaikan tangan dan menghampirinya.

“Aoi, Ruki, Reita, kalian sudah datang. Maaf aku terlambat. Kau tahu sendiri kan aku orangnya pelupa. Hahaha…,” aku menyebut ini senyum kamuflase.

“Kai, bisa kita berbicara berdua saja?” ajak Ruki.

“H… Hai,” jawabku.

Ruki melangkahkan kaki menjauh dari mereka dan mencari tempat sesepi mungkin. Dan akhirnya kami berhenti di belakang gereja. Tak ada orang sama sekali.

“Nah, di sini sudah tidak ada orang lagi. Jadi kau bisa menangis sekarang,” kata Ruki.

“Apa maksudmu, Ruki? Aku… Aku tidak ingin menangis. Kau tahu, hari ini kan hari bahagia untuk kita semua,” kataku.

“Kau tak usah berbohong! Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini,” tiba-tiba Ruki memelukku dan aku tiba-tiba merasa pipiku basah. Sangat basah.

Aku memeluk Ruki erat-erat sambil menangis di pelukannya. Benar-benar menangis seperti seorang anak kecil yang baru saja dipukul oleh temannya.

“Ruki… Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa harus begini? Aku mencintainya tapi kenapa harus berakhir seperti ini?” aku terus menangis di pelukan Ruki.

“Menangislah terus sampai kau tenang. Kai, aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi mungkin Tuhan berkata lain. Mungkin Uruha bukan jodohmu. Dan pasti ada seseorang yang lebih baik dari Uruha yang dipersiapkan Tuhan sebagai jodohmu,” kata Ruki yang sedikit membuatku tenang.

Aku melepaskan pelukan dari Ruki dan mengusap air mataku. Dan aku melihat wajah Ruki yang begitu perhatian kepadaku. Hanya dia yang bisa membuatku tenang di saat seperti ini. Dan hanya dia yang mengetahui bahwa aku mencintai Uruha.

“Baiklah, sekarang mari kita masuk. Acaranya segera dimulai,” Ruki menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju ke dalam gereja dan duduk di sebelah Reita dan Aoi.

“Kau tak apa-apa, Kai? Kenapa matamu merah?” tanya Reita.

“Ah… Tadi mataku kemasukan debu. Karena gatal aku mengusap mataku. Tapi aku tidak tahu kalau mataku menjadi merah,” jawabku dan langsung duduk.

Dan tepat saat aku duduk, aku melihat sosok Uruha yang sedang berdiri di depan altar menunggu pengantin wanita memasuki ruangan.

Aku harus kuat! Kataku di dalam hati. Ini demi kebaikan Uruha. Demi kebahagiaan Uruha! Aku tidak boleh menangis di depannya.

Aku memalingkan wajahku dari Uruha saat dia menatapku. Aku tidak bisa menatap matanya. Itu akan membuat hatiku sakit.

Pemberkatan segera dimulai. Aku melihat Uruha dan Erika sudah berada di depan altar. Aku hanya bisa menahan air mataku mengalir. Tangan Ruki menggenggam tanganku. Hal itu lah yang membuatku lebih kuat saat ini. Tapi… aku masih tidak bisa merelakan Uruha menikah dengan perempuan yang telah hamil 1 bulan itu.

“Ozaki Erika, apakah kau bersedia menerima Takashima Kouyou sebagai suamimu dalam susah dan senang?” pendeta itu memulai pemberkatannya.

“Ya. Saya bersedia,” jawab Erika.

“Takashima Kouyou, apakah kau bersedia menerima Ozaki Erika sebagai istrimu dalam susah dan senang?”

Dengan reflek, aku melepaskan tangan Ruki dari genggamanku dan mengambil pistol yang telah aku persiapkan dari rumah. Aku langsung berdiri dari tempat duduk dan mengacungkan moncong pistol itu ke arah Uruha. Aku menarik pemicunya dan… sebuah dentuman keras dari pistol menggema di gereja itu.

+++

“URUHA! URUHA!!” teriakku sambil terbangun dari tidurku.

Keringatdinginku bercucuran dari kepala hingga kaki. Semua tubuhku bergetar. Ya Tuhan… Ternyata aku baru saja mimpi buruk. Tapi mimpi buruk itu terlihat nyata. Mimpi buruk itu seakan-akan berada di depan mataku.

Ponselku bordering. Aku meraihnya dari atas laci dekat tempat tidurku. Dan ternyata Uruha yang meneleponku.

“Hai, moshi-moshi, Uruchan!” jawabku.

“Kai-chan, bisakah kita bertemu? Aku ingin mengatakan sesuatu denganmu,” tanya Uruha.

“Hmm… Baiklah. Di mana kita akan bertemu?” kataku.

“Di kafe dekat apartemenmu saja. Aku sedang menuju ke sana sekarang,” kata Uruha.

“Kenapa kau tidak langsung ke apartemenku? Kita kan bisa ngobrol di sini,” tanyaku.

“Aku tidak bisa lama-lama, sayang!” jawab Uruha.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan ke sana sebentar lagi,” kataku dan menutup teleponku.

Beberapa menit kemudian, aku sudah siap untuk menemui Uruha di kafe yang telah kita bicarakan. Aku masih memikirkan tentang mimpiku barusan. Dan aku berencana untuk membahasnya dengan Uruha nanti.

Aku menunggu Uruha di kafe tersebut. Dan tak lama kemudian, aku melihat Uruha datang. Aku melambaikan tangan kepada Uruha dan dia segera menuju ke arahku.

“Gomen nee, aku terlambat,” kata Uruha.

“Aku juga baru saja sampai. Oh ya, aku juga ada sesuatu yang ingin kubahas denganmu,” kataku.

“Oh ya? Kalau begitu katakan saja, Kai-chan!” kata Uruha.

“Tidak. Kau saja dahulu. Sepertinya kau ingin berbicara sesuatu yang penting,” kataku.

“Hmm… baiklah kalau begitu. Ini tentang hubungan kita berdua,” ujar Uruha.

“Kenapa dengan kita?” tanyaku sambil tersenyum dan memegang tangannya.

“Kai-chan, aku tidak tahu harus bagaimana menyampaikan padamu. Aku tahu ini hanya akan membuatmu membenciku seumur hidupmu. Tapi aku harus mengatakan hal ini. Aku harap kau bisa menerimanya,” ucap Uruha.

“Apa itu? Uruchan, tolong jangan membuatku penasaran,” tanyaku.

“Etooo… Aku rasa kita sudahi saja hubungan kita ini,” jawab Uruha sambil menundukkan kepala.

“Apa? Aku salah dengar kan, Uruchan? Kenapa? Kenapa kau bicara seperti itu?” tanyaku yang benar-benar merasa terkejut dengan perkataan Uruha tadi.

“Ini semua salahku! Aku… Aku… Aku menghamili perempuan lain. Dan… Dan sekarang dia sedang mengandung anakku, Kai-chan,” ujar Uruha dengan sangat ketakutan.

Tiba-tiba aku teringat akan mimpiku tadi. Menikah? Perempuan lain? Jadi inikah arti dari mimpiku tadi? Semua pertanyaan tiba-tiba berkerumun di otakku.

“Siapa? Siapa perempuan itu, Takashima Kouyou?” tanyaku dengan geram dan aku memegang sebuah gelas dengan sangat erat.

“Dia… Dia temanku saat aku SMA. Namanya Erika. Maafkan aku Kai-chan! Saat itu aku sedang mabuk dan aku tidak sadar saat melakukannya, hontou gomen!” Uruha berdiri dan berlutut di kakiku. Aku hanya bisa menahan emosi supaya air mataku tidak keluar di depan Uruha.

Aku menarik baju Uruha dengan sekuat tenaga. Tanganku sudah mengepal dengan sangat kuat. Aku merapatkannya ke dinding kafe itu.

“Kau berani mengkhianatiku, hah??” teriakku di depannya. Dan sebuah pukulan hebat kulayangkan ke wajahnya. Uruha merasa kesakitan.

Aku lepaskan Uruha. Dengan air mata yang menetes dari mataku, aku meninggalkannya meringkuk di sana. Aku segera kembali ke apartemenku dan segera menceritakan kepada Ruki tentang perbuatan Uruha.

Aku duduk di pinggir tempat tidur. Dengan putus asa aku mengambil sekaleng bir dari lemari es dan meminumnya. Tiba-tiba tanganku membuka laci di sebelah tempat tidurku. Lalu aku mengeluarkan sebuah pistol. Aku mengecek isinya dan setelah itu, aku mengarahkan pistol ke kepalaku.

“Kai? Apa kau di dalam?” tiba-tiba aku mendengar suara Ruki.

Dengan segera aku menarik pemicunya.

“DOOOR!!!”

Tubuhku mulai melemas dan aku segera terkulai. Aku masih mendengar sebuah langkah kaki yang berlari mendekat ke arahku.

“KAI!!!!! YA TUHAN, APA YANG KAU LAKUKAN?!” Ruki segera menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mataku dengan sayup.

“Ruki… Sakit! Kepalaku sakit,” aku menangis. Darah mengalir deras dan setiap aku bersuara, kekuatanku menghilang dengan cepat. Aku mulai lemas.

“KAI, BERTAHANLAH! AKU AKAN MEMANGGIL AMBULANS UNTUKMU! JANGAN PERGI DULU!” teriak Ruki sambil menangis.

“Gomen… nee… Ruki,” kataku dan setelah itu aku merasa kekuatanku hilang tak tersisa. Selamat tinggal Uruha. Kau pergi meninggalkan aku. Dan aku pergi meninggalkan dunia ini. Sangat adilkah semua yang aku lakukan ini? Tubuhku terasa ringan. Aku merasa terbang dan dapat melihat Ruki menangis dengan keras sambil memeluk tubuhku yang penuh darah.

+++
OWARI

Rabu, 15 Desember 2010

Sleeping Handsome

Title: Sleeping Handsome
Chapter: one shot
Author: yukamijo
Genre: drama, humor maybe
Warning: -
Rating: PG
Pairing: AoixKazuki

Di jaman dahulu kala, hiduplah Raja Byou dan Ratu Manabu yang tidak memiliki anak. Masalah ini membuat mereka bersedih setiap hari. Padahal mereka sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan seorang anak.

“Raja, bagaimana ini? Kenapa kita belum mempunyai anak sampai sekarang? Padahal anak cacatpun aku reila melahirkan,” kata Ratu Manabu yang sedang gelisah memikirkan hal tersebut.

“Huss!! Ngomong apa sih? Jangan ngomong pengen dikasih anak cacat donk! Tar kalo dikasih beneran gimana? Reila kau?” Raja Byou marah-marah saat mendengar Ratu Manabu mengatakan hal aneh tersebut.

“Lalu bagaimana? Aku kan juga ingin punya anak. Pembantu kita si Ruki aja yang boncel itu punya anak si Kai, hasil cintanya sama si noseless Reita,” Ratu Manabu pun menangis.

“Cup cup, sayang. Begini saja.kita jalan-jalan ke taman dulu untuk menyegarkan otak kita sambil kita pikirkan langkah dan strategi selanjutnya,” bujuk Raja Byou dan ternyata Ratu Manabu mau menerima ajakannya.

Sesampainya di taman, Ratu Manabu memandangi air kolam yang penuh dengan ikan. Namun tiba-tiba Ratu Manabu terjatuh karena kagetnya.

“Ada apa, Ratuku?” tanya Raja Byou terkejut melihat istrinya tiba-tiba terjatuh.

“I… Itu… Itu… Ada ikan bisa ngomong!” jawab Ratu Manabu sambil memeluk Raja Byou.

“Hai! Kenalin, aku adalah ikan ajaib. Namaku Mao,” kata ikan yang bernama Mao itu dengan memonyong-monyongkan bibirnya.

“Apa maumu ikan monyong?” tanya Raja Byou sambil membentak.

“Sabar donk! Aku mau memberikan berita bahagia kepada kalian nih,” kata ikan Mao.

“Be… Berita apa?” tanya Ratu Manabu sesenggukan.

“Begini, kalian ingin punya anak kan?” tanya ikan Mao disambut dengan anggukan kepala dari Raja Byou dan Ratu Manabu secara bersamaan. “Tenang, kalian bakal punya anak seperti yang kalian idam-idamkan.”

“WHAT?? SUMPEH LO??” tanya Raja Byou dan Ratu Manabu bersamaan. Namun ikan Mao ternyata sudah pergi lebih dulu sebelum mereka selesai berbicara.

“Jaaaah… Ilang duluan. Dasar ikan kurang ajar! Ada orang tua ngomong malah ditinggal pergi,” kata Raja Byou marah-marah.

+++

Tak lama setelah kejadian itu, Ratu Manabu pun hamil. Dan setelah 9 bulan, akhirnya Ratu Manabu melahirkan seorang putra yang sangat cantik dan tidak ada yang menandingi kecantikannya bahkan perempuan sekalipun. Lalu mereka menamai pangeran kecil itu Kazuki.

Karena kelahiran yang sangat ditunggu-tunggu tersebut, Raja Byou yang sangat bahagia tersebut mengadakan sebuah pesta besar-besaran. Semua keluarga, sanak saudara, orang-orang di negeri visual kei, peri-peri yang cantik dan jelek semua diundang.

Namun masalahnya, Raja Byou hanya memiliki persediaan piring emas yang sedikit, yaitu hanya 12 piring. Padahal Peri di negeri visual kei ada 13. Jadi Raja Byou hanya mengundang 12 peri saja dan meninggalkan satu peri saja. Semua tamu dan peri telah hadir dan setelah perjamuan mereka memberikan hadiah-hadiah terbaiknya untuk pangeran kecil itu.

“Aduh… Pangeran Kazuki ini cantik sekali sih? Kalau begitu, Peri Tsurugi bakal ngasih kecantikan yang tak ada batasnya,” kata Peri Tsurugi sambil mengayunkan tongaktnya.

“Hmm… Benar kata Peri Tsurugi. Pangeran Kazuki memang cantik. Kalau begitu, aku akan memberikannya berkat kekayaan,” kata Peri Leda.

“Kalau gitu, Peri Sujek bakal ngasih berkat kecentilan dan kenarsisan seperti dhek Waccha aja!” kata Peri Sujk.

Semua berkat-berkat dari para peri sudah diberikan kepada pangeran Kazuki. Dan ketika Peri Uruha selesai memberikan berkatnya kepada pangeran Kazuki, tiba-tiba Peri Tatsurou yang tidak diundang pun muncul dengan sangat marah dan berniat membalas dendam kepada Raja Byou dan Ratu Manabu.

“Heh, Peri Tatsurou, kok kamu ke sini sih? Kan kamu nggak diundang sama Raja Byou!” kata Peri Jin terkejut dengan kedatangan peri Tatsurou.

“Eh suka-suka gw donk! Kan gw juga punya sayap buat terbang. Emang situ aja yang punya sayap?” jawab Peri Tatsurou yang sudah marah dengan gaya sedikit seperti okama taman lawang.

Pada saat itu pula, kerajaan visual kei terjadi kekacauan dan gonjang ganjing karena kedatangan peri tak diundang tersebut.

“Hei kau Raja Byou jelek! Berani-beraninya kau tidak mengundang aku sang Peri Tatsurou yang mempunyai kekuatan bagai Superman? Mau mati kau ya?” kata Peri Tatsurou sambil marah-marah.

“Gomen, Peri tatsurou. Bukan maksudku tidak mengundang dirimu. Tapi saya mempertimbangkan kalau saya mengundang anda, pasti Pangeran Kazuki bakal nangis-nagis terus karena melihat wajah anda yang serem itu,” jawab Raja Byou.

“Kurang ajar! Wajah cantik gini dibilang serem! Kan gw udah maskeran pake masker jengkol setiap hari. Hmm… Kalau begitu terimalah kutukanku!! Tapi aku tidak akan mengutuk dirimu. Aku akan mengutuk Pangeran Kazuki! Di usianya yang ke-15 tahun, Pangeran Kazuki akan mati karena tertusuk jarum jahit! Hahaha…! Keren kan kutukan gw?!,” kata Peri Tatsurou sambil tertawa terbahak-bahak.

Wkwkwkwk…. Terdengar suara tertawa terbahak-bahak di ruangan pesta tersebut. Dan terlihat wajah Peri Tatsurou jengkel.

“Hahaha… Hey, peri nistah, mana ada orang mati gara-gara tertusuk jarum doank?” tanya Peri Zero sambil gulung-gulung di lantai.

“Bah! Kau tak percaya sama aku? Lihat saja nanti. Pasti kau akan menyesal!” kata Peri Tatsurou dengan logat Bataknya.

Saat Peri Tatsurou mengayunkan tongkatnya, Peri Hizaki juga mengayunkan tongkatnya dan menangkal kutukan dari Peri Tatsurou. Setelah tahu kutukannya berhasil ditangkal oleh Peri Hizaki, Peri Tatsurou menghilang entah kemana.

“Kok ilang? Kemana perginya?” tanya Ratu Manabu kaget.

“Raja Byou dan Ratu Manabu tidak usah cemas. Paling-paling Peri Tatsurou sedang apdet status di twitter. Dan masalah kutukan, karena semuanya sudah tahu bahwa Peri Tatsurou sangat kuat dari yang lain, maka kutukan tersebut masih berlaku namun saya sudah menghambat kutukan tersebut. Pangeran Kazuki tidak akan mati. Dia hanya akan tertidur selama 100 tahun,”

“WHAT?? 100 TAHUN?? KAGAK SALAH LO??” kata Ratu Manabu syok sambil menggendong Pangeran Kazuki.

“Hey peri, lama sekali dia tertidur? Emang ngga ada diskonan? Jangan lama-lama donk! Kan kasihan si pangeran menderita,” tanya Raja Byou yang juga syok.

“LO KATE GW TOKO BUKU?? PAKE DISKONAN SEGALA! Udah bagus gw kagak matiin Pangeran kau! Udah ah. Gw pulang aja!” kata peri Hizaki.

Karena insiden tersebut, akhirnya pesta dibubarkan. Dan Raja Byou memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk memusnahkan semua jarum di negeri visual kei. Sementara itu, semua berkat yang diberikan peri-peri tersebut terwujud. Pangeran Kazuki tumbuh menjadi pangeran yang cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.

+++

Dan tepat pada ulang tahun Pangeran Kazuki yang ke-15, bertepatan dengan Raja Byou dan Ratu Manabu harus meninggalkan istana dan Pangeran Kazuki ditinggalkan di istana sendirian. Hanya Reita sang pembantu kepercayaan Pangeran Kazuki yang menemani hari-hari Pangeran Kazuki di istana.

“Reisek (Reita pesek), malang bener ya nasib gw. Di saat gw ultah, nyak babe ngga ada di istana. Padahal gw kan mau bikin pesta yang dipenuhi dengan bishie-bishie keren dan kece kayak gw,” kata Pangeran Kazuki dalam ke-manyun-an.

“Sabar Bos! Kan Raja Byou dan Ratu Manabu sedang tugas kenegaraan. Walaupun si Bos ngga bisa mengadakan pesta, kan masih ada saya, seorang bishie keren dan kece yang siap menemani si Bos,” Reita menghibur Pangeran Kazuki.

“Hah? Gw ngga salah denger? Lo bishie keren dan kece? Wkwkwk… Lo mah bishie yang kagak punya idung! Sama noh ma si Sule. Hahaha… Udah ah, gw mau jalan-jalan keliling istana dulu ye! Lo di sini aja. Gw kagak bakal kemana-mana kok,” kata Pangeran Kazuki.

“Tapi Bos… Kalau Raja dan Ratu tahu gimana?” Reita sedikit takut.

“Goblok! Raja dan Ratu kan lagi dinas ke luar negeri. Studi banding etika ke Yunani kayak anggota DPR negeri sebelah. Jadi kagak bakal tahu, dodol!” Pangeran Kazuki memukul kepala Reita.

“Oh iya juga ya? Hehehe… Ya sudah kalau begitu Pangeran Kazuki silahkan jalan-jalan. Saya tunggu di dapur ya! Sambil pacaran sama istri saya neng Ruki,” kata Reita yang langsung ditinggalkan oleh Pangeran Kazuki.

Pangeran Kazuki langsung menjelajahi setiap ruangan di istana. Sampai akhirnya dia berada di sebuah kamar yang sempit dan sangat asing baginya. Di dalam kamar tersebut ternyata ada seseorang yang sedang menjahit dan terlihat sangat sibuk.

“Hey kau! Apa yang kau lakukan di sini?” kata Pangeran Kazuki dengan lantang. Orang tersebut menoleh ke arah Pangeran Kazuki.

“Lo kagak liat gw lagi ngapain? Gw lagi mancing! Jelas-jelas gw lagi jahit jubah gw yang sobek,” kata orang itu sewot.

“Hooo… Gw piker lo lagi naek odong-odong. Lo lagi jahit? Gw mau lihat donk! Emak gw kagak pernah jahit noh. Jadi gw kagak pernah tahu cara menjahit baju dengan baik dan benar,” kata Pangeran Kazuki yang langsung mendekat ke orang tersebut. “Bagus juga jahitan lo. Gw mau donk nyobain!”

Ditariknya jubah orang tersebut dan Pangeran Kazuki mulai menjahit di jubah orang tersebut. Sampai akhirnya Pangeran Kazuki berhasil membuat pola pokemon di jubah orang itu.

Namun sebelum dia berhasil menyelesaikan jahitan pokemonnya, jarum yang dia pegang tak sengaja menusuk jarinya yang lentik. Tiba-tiba saja tubuh Pangeran Kazuki lemas dan tergolek di lantai.

Setelah Raja Byou dan Ratu Manabu tahu kabar pangeran yang tertusuk jarum jahit, mereka langsung pulang ke istana. Raja dan Ratu sangat terpukul melihat pangerannya yang cantik itu tergolek lemas di ranjang kamarnya.

“Raja, bagaimana ini? Pangeran kita yang cantik sekarang tertidur. Kalau sampai 100 tahun pangeran kita tertidur, kecantikannya akan menghilang dan akhirnya tua dan keriput. Ratu tidak mau sampai itu terjadi,” Ratu Manabu menangis di pelukan Raja Byou.

“Tenanglah, Manabuku sayang. Aku sudah punya akal untuk menghambat penuaan Kazuki sejak usia dini,” kata Raja Byou.

“Apa itu Rajaku sayang?” tanya Ratu Manabu ingin tahu.

“Ini dia! Kolagen. Ramuan yang dipercaya menunda penuaan dan keriput. Kalau banyak-banyak minum ini, Kazuki tidak akan tua walaupun usianya sudah 100 tahun,” jawab Raja Byou sambil mengeluarkan sebotol kecil ramuan kolagen dengan gaya iklan.

“Ramuan kolagen? Rajaku dapet dari mana?” tanya Ratu Manabu.

“Tadi Raja ketemu sama mbah Kamijo di warung kopi di depan istana. Lalu mbah Kamijo ngasih Raja ini,” jelas Raja Byou.

“Hoooo….,” Ratu Manabu menganggukkan kepalanya.

Lalu Ratu Manabu pun setuju dengan perkataan Raja Byou. Dan akhirnya Pangeran Kazuki setiap hari diminumi kolagen tersebut secara teratur. Dan benar saja, Pangeran Kazuki tidak terlihat tua sama sekali. Dia tetap terlihat seperti remaja belia pada umumnya.

+++

Tahun-tahun sudah berlalu. Kerajaan negeri visual kei mulai runtuh dan bangkrut. Akhirnya Raja dan Ratu harus pindah di sebuah gubuk tua di tengah hutan. Mereka tak lupa juga membawa sang Pangeran.

Tapi kehidupan Raja Byou dan Ratu Manabu tidaklah lama. Akhirnya mereka meninggal dan meninggalkan Pangeran Kazuki yang masih tetap tertidur di ranjangnya sampai 100 tahun lamanya.

Pada suatu hari, ada seorang pangeran negeri seberang yang sedang menjelajahi hutan tersebut. Walaupun kata orang-orang hutan tersebut berbahaya dan angker, pangeran tersebut tidak takut.

“Pangeran Aoi, anda tidak takut? Hutan ini kan angker,” kata prajuritnya, Hiroto.

“Tak ada yang Aoi takuti! Kau takut ya, Mpon?” tanya Aoi.

“Anoo… Sedikit sih,” jawab Hiroto yang sehari-hari dipanggil Mpon itu.

“Cemen kau! Gitu aja takut. Kalau begitu, kita istirahat dulu. Mumpung di situ ada gubuk di depan. Baru besok kita lanjutkan perjalanan kita ke barat,” ajak Aoi. Mpon pun mengikuti Aoi dari belakang. Karena Mpon hanyalah seorang prajurit bawahan Pangeran Aoi.

Aoi dan Mpon akhirnya mencari pemilik gubuk tersebut tapi setelah menjelajahi gubuk dan berteriak-teriak, ternyata tak ada seorangpun. Akhirnya Mpon menghampiri kamar Pangeran Kazuki. Namun saat mereka sedang melihat-lihat isi kamar tersebut…

“WAAAAAAAAAAAAA!!!” Aoi dan Mpon berteriak sekencang mungkin dan keluar dari gubuk saat melihat ada seseorang berpakaian serba putih duduk di lantai.

“Katanya Pageran kagak takut? Tapi kok jeritnya paling keras?” protes Mpon.

“Sarap!! Itu tadi kan reflek! Ngomong-ngomong itu tadi hantu atau orang ya?” kata Pangeran Aoi ngeles.

“Saya mana tahu, Pangeran! Pangeran Aoi aja yang ngecek. Saya jaga-jaga di sini,” kata Mpon. Dengan reflek Pangeran Aoi memukul kepala Mpon.

“Mang sapa yang jadi pangeran? Lo ato gw? Udah! Lo ke dalem deh!” perintah Pangeran Aoi.

Namun sebelum Mpon mengerjakan perintah dari Pangeran Aoi, tiba-tiba mereka melihat orang yang berpakaian putih itu keluar dari gubuk tersebut.

Orang itu mendekati mereka berdua sambil berlarian. Dan tiba-tiba…. BRUAAK!!! Orang berpakaian putih itu langsung memeluk Pangeran Aoi.

“Heh! Siapa kau? Berani-beraninya meluk Pangeran seganteng gw seenaknya?” Pangeran Aoi marah-marah.

“OMIJOOO… Ganteng banget cowok ini… Emang kagak salah gw mata gw walaupun udah 100 tahun kagak dipake,” kata orang tersebut yang ternyata Pangeran Kazuki yang sudah terbangun dari kubur.

“Gw juga pangeran tau! Nama gw Kazuki! Tapi sekarang udah ngga jadi pangeran. Istana gw udh runtuh duluan dan gw baru bangun dari tidur panjang gw,” Pangeran Kazuki tiba-tiba menangis di pelukan Pangeran Aoi. Pangeran Aoi yang tidak tega langsung memeluknya.

“Eh? Bukannya di mana-mana putri tidur nunggu ada pangeran datang terus nyium dia dulu baru bisa bangun?” Pangeran Aoi bertanya keheranan.

“Kelamaan noh nunggu pangeran bishie lewat! Gw tar keburu tua! Lagian gw kan sebenernya bisa bangun cuma dengan nyium bau bishie keren lewat,” kata Pangeran Kazuki.

“Lalu baru sekarang lo bangun?” tanya Pangeran Aoi.

“Sebenernya gw udah bangun dari dulu. Soalnya gw sering nyium bau bishie-bishie berkeliaran. Tapi gw ngga pernah buka mata. Baru kali ini aja,” jawab Pangeran Kazuki.

“Trus kok baru sekarang buka matanya?” lanjut Pangeran Aoi.

“Soalnya gw pernah mimpi gw didatengin peri. Trus peri itu bilang gw kudu buka mata kalo gw ketemu ma pangeran bishie yang bibirnya kayak gurameh. Kalo ngga, gw bisa langsung mati,” jawab Pangeran Kazuki.

“JADI LO MENGHINA GW PUNYA BIBIR KAYAK GURAMEH?? KURANG AJAR LO!” bentak Pangeran Aoi.

Namun tiba-tiba di saat Pangeran Aoi sedang marah-marah, Pangeran Kazuki malah mencuri kesempatan untuk mencium bibir Pangeran Aoi. Pangeran Aoi seketika itu membatu dan tubuhnya tidak bisa bergerak saking syoknya.

Di dalam dada Pangeran Aoi terasa seperti band kesayangannya the GazettE sedang menggelar konser. Dan tiba-tiba Pangeran Aoi memeluk Pangeran Kazuki dan membalas ciuman Pangeran Kazuki dengan French kiss yang melelehkan tubuh Pangeran Kazuki.

“Namaku Aoi,” kata Pangeran Aoi tiba-tiba.

“Namaku Kazuki,” balas Kazuki.

Setelah memperkenalkan nama masing-masing, kegiatan mereka yang sempat terhenti akhirnya mereka lanjutkan kembali. Mpon sang prajurit hanya melihat dari jauh dengan melongo.

FIN
+++

A/N: maaf kalau sedikit melenceng dari cerita slid an sedikit nistah. Mungkin akan ada lanjutannya nanti kalau author kagak males. Dan maaf juga kalo ficnya agak jelek.

Selasa, 18 Mei 2010

The love from a dead orchestra 3/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 3/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

PART 3

“Kami-kun, aku di sini,” Teru melambaikan tangannya.

Aku mendatangi Teru dan duduk di sebelahnya.

“Apa yang ingin kau ceritakan padaku?” aku langsung bertanya kepada Teru.

“Kau tahu, aku sedang jatuh cinta sekarang. Kau tahu siapa yang aku sukai, Kami-kun?” tanya Teru.

“Jelas aku tidak tahu siapa yang kau sukai. Memang siapa dia?” tanyaku penasaran.

“Dia adalah seseorang yang manis menurutku. Kau pasti mengatakan hal itu,” kata Teru sambil tersenyum sendiri.

“Apa aku kenal dia, Teru-kun?” tanyaku sekali lagi dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.

“Un!”

“Dare?” tanyaku.

“Leader sekaligus gitaris Versailles, Hizaki-kun,” Teru masih memasang senyum di wajahnya.

“Are? Hi… Hizaki-kun?” aku sangat terkejut.

Tiba-tiba di dalam hatiku seperti ada sebuah api yang semula kecil kemudian berubah menjadi kobaran api yang sangat besar. Apa yang sebenarnya terjadi padaku sekarang ini?

“Kami-kun? Kani-kun? Kenapa kau diam?” Teru mengguncang bahuku.

“Ah… Gomen. Kau… Kau menyukai Hizaki-kun?” tanyaku lebih lanjut.

“Un. Hizaki-kun sangat manis bagiku. Kau juga berpikiran begitu kan? Dia selalu membantuku saat aku kesusahan berlatih gitar. Aku sangat menyukainya,” kata Teru.

“Lalu apakah kau akan menyatakan perasaanmu padanya?” tanyaku.

“Entahlah. Menurutmu, aku harus bagaimana? Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini besok saat kita bertemu untuk latihan,” jawab Teru.

“Hmm… Mungkin lebih baik kau mengatakan secepatnya. Sebelum semuanya terlambat,” kataku.

“Sou ka? Kalau begitu aku akan melakukannya besok. Tapi aku takut dia akan menolakku,” wajah kekanak-kanakan Teru mulai muncul.

“Optimislah pada dirimu sendiri!” jawabku.

“Un! Aku pasti bisa melakukannya besok. Kau tidak minum, Kami-kun?” Teru menawariku untuk minum.

“Iie. Sepertinya aku harus segera kembali. Aku masih ada urusan. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?” kataku berbohong kepada Teru.

“Daijoubu. Lagipula aku hanya ingin mengatakan hal itu padamu. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi ke tempat Yuki,” kata Teru.

Aku memberikan salam perpisahan pada Teru dan segera pulang ke apartemenku. Aku segera menyalakan mobilku dan segera pergi dari bar tersebut.

Setelah sekitar 1 jam aku mengendarai mobilku, akhirnya aku sampai di apartemenku. Aku langsung menuju ke atas dan membuka pintu apartemenku.

Saat aku membuka pintu apartemenku, aku melihat sosok Hizaki yang sedang tertidur di sofa rung tamuku.

Aku mengamati sosok Hizaki. Dan memang benar apa kata Teru. Dia memang manis. Tidak! Dia sangat manis. Aku segera mengambil selimut dari kamarku dan menyelimuti Hizaki. Namun belum selesai aku menyelimutinya, tiba-tiba dia terbangun.

“Kami-kun, okaeri!” sapa Hizaki dengan nada masih mengantuk.

“Ah, tadaima, Hizaki-kun. Kau tidur lah di kamarku. Daripada kau harus tidur di sofa.” Kataku.

“Iie. Aku tadi hanya ingin menyiapkan makan malam untukmu. Kau belum makan kan?” tanyanya dengan lembut.

“Hizaki-kun, mungkin mulai sekarang, kau tidak usah mengurusiku lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau tidak perlu membuatkan makanan dan sepertinya kau tidak perlu ke apartemenku lagi,” entah apa yang aku katakan padanya.

“Kami-kun, kau tidak apa-apa?” tanya Hizaki sambil menyentuh dahiku.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir padaku,” kataku.

“Tidak. Kau demam! Badanmu terasa panas,” katanya dan langsung mengambil air es dan sebuah handuk kecil dari dapur dan kembali ke ruang tamu.

“Aku tidak apa-apa, Hizaki-kun. Sekarang keluarlah dari apartemenku,” kataku.

“Tapi kau…,” sebelum dia selesai berbicara, aku menampik baskom berisi air es yang dia bawa sehingga airnya berceceran di mana-mana.

“PLAAAK!!!”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Amat sangat panas rasanya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba menjadi seperti ini padaku?! Apa aku berbuat sebuah kesalahan besar karena aku memperhatikanmu? Aku mencintaimu, Kamijo Yuji! Apapun yang terjadi padamu aku tetap akan mencintaimu! Walaupun kau berbuat kasar seperti ini, walaupun kau masih terbayang-bayang oleh You-kun, aku akan tetap mencintaimu! Ingat itu! Terserah kau mau atau tidak! Dan kalau kau tidak menyukai aku berada di sini, baiklah aku pergi sekarang!” kata Hizaki dengan sangat marah. Dia membanting pintu apartemenku.

“Hizaki-kun, andai saja kau tahu, sebenarnya aku juga menyukaimu. Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya. Tapi jika aku tetap berada di sampingmu, aku tidak tega dengan perasaan Teru yang juga mencintaimu. Jadi aku putuskan lebih baik aku mundur,” kataku dengan sedikit meneteskan air mata.

+++

“Kami-kun, ohayou!” terdengar suara Hizaki membangunkanku.

Aku perlahan-lahan membuka mataku dan betapa terkejutnya aku. Hizaki sudah berada di sebelahku sambil memeras sebuah handuk kecil.

“Ittai!” kepalaku terasa sangat berat. Badanku juga tersa seperti terbakar.

“Sudah aku katakan bahwa kau demam kemarin. Kau tak percaya padaku,” kata Hizaki seolah-olah kemarin tak terjadi apa-apa.

“Kenapa kau ada di sini? Sekarang sudah jam 9. Waktunya latihan, kau tahu?” kataku memaksa untuk bangun dari tempat tidur, namun Hizaki menahanku.

“Hari ini kita tidak ada latihan. Aku telah mengatakan kepada yang lain bahwa aku mengubah jadwal latihan besok pagi karena kau sedang sakit,” kata Hizaki.

“Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit!” bantahku.

“PLAAAK!!”

Sebuah tamparan kembali melayang ke pipiku.

“Kau tak usah keras kepala! Kau demam! Dan sekarang, suka atau tidak, aku tetap akan menjagamu. Aku akan menyiapkan bubur untukmu,” Hizaki keluar dari kamarku.

Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di meja sebelah tempat tidurku bergetar. Kulihat sejenak dan ternyata Yuki meneleponku.

“Moshi-moshi, Yuki-kun,” sapaku.

“Kami-kun, daijoubu ka? Aku mendengar kabar dari Hizaki-kun bahwa kau sedang sakit,”

“Ah, daijoubu. Aku hanya demam. Istirahat sebentar pasti aku akan sembuh kembali,”

“Sou ka? Aku segera menuju ke tempatmu bersama dengan Teru-kun. Jyaa!”

Yuki mewnutup teleponnya. Aku kembali meletakkan ponselku di meja. Dan tak lama kemudian, Hizaki datang membawakan sarapan untukku.

“Sekarang, saatnya kau sarapan dan setelah itu minum obat,” kata Hizaki sambil menyendokkan bubur untukku.

“Hizaki-kun,” aku membuka mulutku.

“Nani?” tanyanya.

“Kenapa kau mencintaiku?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja.

“Kau bertanya padaku kenapa? Hahaha…,” dia hanya tertawa. “Nee, Kami-kun, aku tak memiliki alasan yang spesifik untuk mencintai seseorang. Yang perlu kau tahu sekarang, aku mencintaimu lebih dulu sebelum kau bersama dengan You-kun,” katanya.

“Nani? Selama itukah kau memendam perasaan padaku? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” aku bertanya seperti menginterogasinya.

“You-kun mencintaimu. Itu alasannya kenapa aku tidak pernah mengatakannya padamu. Dan di saat-saat terakhir You-kun, dia memberiku pesan terakhir,” jawab Hizaki.

“Apa pesan terakhirny? Apa aku boleh mengetahuinya?” tanyaku.

“Dia berkata padaku untuk tetap mencintaimu selamanya dan tetap berada di sisimu selamanya,” jawabnya sambil menyuapiku.

“Dia bilang begitu? Aku tidak menyangka You-chan sejahat itu,” kataku.

“Kau bilang apa? You-chan tidak jahat! Awalnya dia tidak tahu kalau aku mencintaimu. Namun beberapa minggu sebelum dia meninggal, tak sengaja membaca buku harianku dan akhirnya dia mengetahuinya,” jelas Hizaki. “Kenapa kau tanyakan itu padaku?”

“Aku… Aku hanya…,” aku terdiam sejenak dan kemudian tanganku memelukny erat-erat. “Aishiteru!”

“Aku dat…,” suara Teru terdengar jelas di telingaku.

Dan saat aku menoleh melihat pintu kamarku, Teru dan Yuki sudah berdiri di sana. Dengan segera, aku melepaskan pelukanku dari Hizaki.

“Kami-kun, apa yang sedang kau lakukan? Kau mengkhianatiku?” kata Teru.

“Ano… Iie… Aku hanya…,” aku tersendat-sendat mengatakannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” kata Yuki.

Aku melihat ke arah Hizaki, Teru dan Yuki secara bergantian. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.

“Kami-kun, apa kau menyukai Hizaki-kun? Jawab aku dengan jujur!” teriak Teru sambil hampir melayangkan pukulan ke arahku. Untung Yuki langsung menahan Teru.

“Apa yang kau lakukan, Teru-chan? Kenapa kau harus memukul Kami-kun?” tanya Yuki sedikit emosi.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” Hizaki mulai menampakkan kebingungannya.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku tadi sekarang juga!” teriak Teru.

“Aku… Aku mencintai Hizaki,” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Hizaki-kun, apa kau juga mencintai Kami-kun?” tanya Teru masih dengan nada emosi yang tinggi.

“Aku… Aku mencintainya. Sangat mencintainya,” jawab Hizaki.

Tiba-tiba Teru memukul tembok kamarku dan menghela napasnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk cemburu kepada Kami-kun,” kata Teru.

“Apa sebenarnya maksudmu, Teru-kun?” tanya Yuki.

“Dia mencintai Hizaki-kun,” jawabku.

“Aku?” Hizaki terkejut.

“Hai. Kemarin malam dia mengatakannya padaku. Karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak memperhatikanku lagi. Karena aku tidak terga melihat Teru-kun. Gomen nee, Hizaki-kun,” lanjutku.

“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan marah kepada kalian berdua. Sesuatu hal yang sia-sia nee? Hahaha…,” kata Teru yang tiba-tiba kembali ceria seperti biasanya.

“Lebih baik kita pulang saja, Teru-kun. Sepertinya memang Kami-kun hanya demam. Besok pasti dia sudah sehat kembali. Ikuzo!” Yuki mengajak Teru untuk segera meninggalkan apartemenku.

Dan akhirnya, hanya aku dan Hizaki di situ. Hizaki menatapku dengan tatapan yang tajam.

“Jadi, apa benar yang kau katakan tadi?” tanya Hizaki.

“Apa yang aku katakan tadi?” aku pura-pura melupakan hal yang terjadi tadi.

“Kau tak usah berpura-pura lupa kejadian barusan! Aku tidak bercanda denganmu, Kami-kun,” kata Hizaki.

“Aku… Aku tidak bercanda padamu,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Dan dia membalas senyumanku.

“Aishiteru, Hizaki-kun,” kataku sambil memeluknya.

“Hontou ka, Kami-kun?” aku mengangguk dan dia membalas pelukanku dengan sebuah ciuman yang sangat hangat di bibirku. “Aishiteru, Kami-kun.”

Kami berdua larut dalam ciuman yang hangat. You-chan, gomen nee. Aku sangat lega mengetahui bahwa kau telah merestui kami berdua untuk bersatu.

OWARI

+++

The love from a dead orchestra 2/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 2/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

PART 2

You-chan, aku benar-benar ingin bertemu denganmu saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Hizaki membuatku bimbang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku.

Ting… Tong… Terdengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan membukakan pintu.

“Hizaki-kun?” aku terkejut melihat Hizaki di depan pintu.

“Kami-kun, aku… aku… Apakah aku boleh masuk sebentar?” kata Hizaki penuh dengan ketakutan.

“Ma… Masuklah!” kataku mempersilakan dia masuk. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

“Aku… Aku ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tahu aku telah melakukan hal yang keterlaluan padamu,” kata Hizaki agak gugup karena ketakutan.

“Oh… Aku juga minta maaf padamu tentang kejadian kemarin. Sebenarnya aku tidak bermaksud marah dan meninggalkanmu di makam You-chan sendirian,” kataku.

“Ja… Jadi, kau memaafkanku, Kami-kun?” Hizaki sedikit memperlihatkan senyuman bahagianya di depanku. Dan tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam dadaku. Tapi aku tidak tahu apa itu.

“Kau tidak salah apapun terhadapku. Jadi tidak ada yang harus dimaafkan. Dan aku juga berterima kasih kau mau jujur padaku tentang perasaanmu padaku,” kataku sambil sedikit tersenyum.

“Arigatou, Kami-kun!” Hizaki tiba-tiba memelukku dengan erat. “Lalu, apakah kau menjawab perasaanku?”

“Eh?” aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hizaki itu.

“Hahaha… Lupakan! Aku hanya bercanda,” jawab Hizaki. “Apa kau sudah makan malam?”

“Ah, belum. Aku tidak tahu harus makan apa mala mini,” aku menjawab seadanya.

“Kalau begitu biar aku saja yang memasak sesuatu untukmu,” Hizaki langsung menuju ka dapurku dan membuka isi kulkasku.

Semua bahan makanan di dalam kulkasku dia cek satu per satu. Jika ada bahan yang sudah tidak bisa dipakai, dia membuangnya. Dan entah kenapa bayanganmu selalu terlihat di dalam diri Hizaki, You-chan.

“Bukan, dia bukan You-chan!” kataku lirih sambil memukul-mukul kepalaku sendiri.

“Apa yang kau lakukan, Kami-kun?” Hizaki melihatku sedang memukul-mukul kepalaku. Seketika itu aku langsung berhenti melakukannya.

“Ah… Iie. Hanya saja aku sedikit pusing,” aku berbohong.

“Kau sakit? Kalau begitu duduklah! Biar aku yang menyiapkan makan malam untukmu,” kata Hizaki sambil mendudukkanku di kursi meja makan.

Kenapa dia sangat baik padaku? Padahal saat itu aku sudah jahat dan menolaknya mentah-mentah. Aku mulai berpikir, apakah dia yang terlalu baik padaku atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku dari orang lain sehingga aku tidak bisa melihat kebaikan orang lain.

Beberapa menit kemudian, Hizaki mulai menghidangkan makan malam untukku.

“Nee Kami-kun, makanlah!” kata Hizaki sambil duduk di depanku.

“Kau tidak ikut makan? Kita makan bersama-sama,” kataku.

“Ah, aku sudah makan. Kau makan saja!” kata Hizaki.

“Baiklah kalau begitu. Itadakimasu!” ucapku.

“Kami-kun, apa kau besok ada waktu? Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat. Tenang saja, bukan ke makam You-kun” cepat-cepat Hizaki memperjelas perkataannya.

“Lalu, ke mana kau ingin mengajakku?” tanyaku.

“Etoo… aku ingin mengajakmu untuk menemaniku membeli gitar yang baru. Gitarku sekarang sudah sedikit rusak,” jawab Hizaki.

“Oh, baiklah. Besok aku akan menemanimu. Hitung-hitung aku ingin meminta maaf padamu,” kataku sambil tersenyum.

“Sudahlah, kau tak memiliki kesalahan apapun padaku,” kata Hizaki. “Kalau begitu, aku harus kembali ke apartemenku. Jyaa na!” ucap Hizaki.

“Jyaa! Mata ashita! Ano Hizaki-kun, arigatou kau sudah memasakkan ini untukku,” Hizaki hanya tersenyum dan keluar dari apartemenku.

Tiba-tiba di dalam pikiranku, aku membayangkan Hizaki menjadi kekasihku. Entah apa yang ada di otakku sekarang ini. Di dalam diriku terasa seperti ada gunung es yang tiba-tiba leleh dan melebur menjadi air yang mengalir tenang saat aku mengingat Hizaki. You-chan, bukan maksudku untuk melupakanmu. Aku akan tetap mengingat dirimu.

+++

Aku bersiap-siap untuk mengantarkan Hizaki membeli gitar barunya. Aku mengambil mantel yang kugantung di dekat pintu depan. Setelah itu aku mengunci apartemenku dan berjalan menuju apartemen Hizaki.

Aku mengetuk pintu apartemennya dan tak lama kemudian, dia muncul.

“Ah, Kami-kun. Kau sudah siap?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia menggandeng tanganku, mengajakku untuk langsung pergi.

Hari itu terasa seperti aku tak memiliki beban sama sekali selama aku pergi dengan Hizaki. Hizaki selalu memiliki bahan pembicaraan untuk diperbincangkan. Dan aku merasa terhibur berada di dekatnya.

“Ittai!” teriak Hizaki.

“Nande?” tanyaku khawatir.

“Ada debu masuk di mataku. Sakit sekali,” kata Hizaki.

“Kalau begitu, buka matamu pelan-pelan. Aku akan meniup matamu supaya debunya keluar,” aku memegang pipinya dan mendekatkan bibirku ke wajahnya dan aku meniup matanya.

“Ah, terima kasih, Kami-kun. Aku sudah merasa enakan,” kata Hizaki. “Kami-kun? Kenapa kau diam saja? Kami-kun?”

Aku memperhatikan wajahnya yang sangat manis tanpa berkedip sama sekali. Dan tiba-tiba, wajahku mendekat ke wajahnya. Seperti ada sebuat magnet yang hebat yang menyedotku. Bibirku sekarang mendekat pada bibirnya dan akhirnya bibir kami bersatu. Dan aku menciumnya!

Entah apa yang membuatku melakukan ini semua, namun saat aku menciumnya, sebuah perasaan yang manis meloncat-loncat di dalam diriku.

“Ano… Kami-kun,” katanya.

“Ah, Gomen nee, Hizaki-kun. Aku… Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu,” kataku segera meminta maaf padanya.

“Dai… Daijoubu, Kami-kun. Kita harus secepatnya membeli gitar. Aku tidak mau pulang terlalu malam nanti,” kata Hizaki sambil langsung berjalan mendahuluiku.

Aku mengikutinya dari belakang. Hizaki tidak menoleh ke belakang sama sekali. Seperti dia tidak menyadari keberadaanku. Di saat aku sedang memikirkan Hizaki, tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar.

“Moshi-moshi, Teru-kun,” ternyata itu adalah telepon dari Teru.

“Kami-kun, apa kau bisa menemaniku minum nanti malam? Aku membutuhkan seorang teman untuk menemaniku,”

“Minum? Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi kenapa kau tidak mengajak Yuki-kun atau Hizaki-kun?”

“Mereka sibuk. Aku hanya ingin bercerita sesuatu hal denganmu. Baiklah kalau kau bisa, kita bertemu di bar biasanya. Aku tunggu kau di sana jam 7 malam. Jyaa!”

Setelah kata terakhir itu, aku langsung menutup teleponku dan aku kembali mendekati Hizaki.

+++

Senin, 15 Februari 2010

The love from a dead orchestra 1/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 1/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

“Kami-chan, bagaimana jika aku beli yang ini saja?”

“Hmm… Bagaimana kalau yang ini saja? Suaranya lebih bagus yang ini,”

“Sou ka? Baiklah aku ambil yang ini. Arigatou, Kami-chan!”

Kata-katanya itu teringat jelas saat aku melintasi toko alat musik yang dulu pernah kami kunjungi berdua. Masih kuingat tawanya saat itu. Sekarang tawa dan senyumnya tak akan pernah ada di depan mataku. Dia telah meninggalkan aku untuk selamanya. You-chan…

+++

“Kami-kun, kau tak apa-apa? Aku lihat kau selalu tidak bersemangat akhir-akhir ini semenjak You-san meninggalkan kita,” Hizaki menghampiriku.

“Oh… Iie. Aku baik-baik saja,” jawabku. “Memang tidak mudah melupakan orang yang yang kita sayangi dan kita cintai. Dan entah kenapa aku seperti kehilangan jiwaku saat aku tahu dia meninggal. Rasanya dia sangat jahat telah meninggalkan aku sendiri di sini.”

“Hmm… Ya memang semua ini sangat berat bagimu. Tapi aku juga tidak bisa diam saja saat melihatmu seperti ini. Ingat, kau masih memiliki Versailles dan penggemar-penggemarmu di luar sana. Bukannya aku menyuruhmu untuk melupakan You-san, tapi jangan terus larut dalam kesedihan. Aku juga sedih ditinggal oleh You-san, tapi aku berusaha untuk bangkit kembali. Berikan senyuman terbaikmu untuk kita yang masih ada untuk mendukungmu. Ne!” kata Hizaki memberikan sedikit pencerahan.

“Gomen, Hizaki-kun! Aku akan berusaha untuk tidak bersedih lagi. Arigatou na!” kataku.

“Yosh! Douita shimashite, Kami-kun! Dan aku yakin You-san tidak ingin melihatmu selalu bersedih seperti ini,” katanya. “Oh ya, aku akan pindah apartemen besok. Apa kau mau membantuku?”

“Kau pindah? Ke mana?” tanyaku dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Hizaki. “Hmm… Baiklah. Aku akan membantumu. Mumpung aku besok tidak ada kerjaan.”

“Baiklah. Aku tunggu kau jam 8 pagi di apartemenku,” kata Hizaki dan dia langsung pergi meninggalkanku.

Aku menginat kembali apa yang tadi dikatakan oleh Hizaki. Setelah aku pikirkan, mungkin ada benarnya juga kata-katanya. Aku tidak boleh bersedih terus seperti ini. Aku harus bias bangkit dari kesedihan ini dan kembali bersama Versailles untuk menghibur penggemarku. Dan setelah aku piker-pikir, Hizaki adalah satu-satunya orang yang selalu berusaha untuk memberiku semangat semenjak kepergian You-chan. Gomen, You-chan. Bukannya aku ingin melupakanmu. Kau akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Karena kau adalah cinta abadiku.

Keesokan paginya, aku bersiap-siap untuk membantu Hizaki untuk memindahkan barang-barangnya ke apartemennya yang baru. Tapi entah di mana letak apartemennya yang baru.

Aku keluar dari apartemenku menuju tempat parkir. Aku mengendarai mobilku dan langsung menuju ke tempat Hizaki.

Setelah aku sampai di tempat Hizaki, aku segera menghampirinya. Dan ternyata di sana ada Yuki dan Teru yang ikut membantu.

“Ah! Kami-kun! Ternyata kau juga. Gomen aku telah merepotkanmu hari ini,” kata Hizaki.

“Iie. Kau tidak merepotkanku. Kita adalah teman. Sudah sepatutnya untuk saling menolong. Oh ya, apa yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Tolong angkat kotak di sebelah sofaku itu ke dalam mobil box di depan. Aku akan membantu Teru-san,” katanya. Aku langsung melakukan apa yang dikatakannya. Dan tak lupa aku menyapa kedua temanku yang lainnya. Dengan membantu Hizaki, aku sedikit melupakan kesedihanku tentang You-chan. Gomen ne, You-chan.

Setelah beberapa jam membantu mengemasi barang-barang Hizaki, aku bersama Hizaki ke dalam mobilku untuk berangkat ke apartemen Hizaki yang baru.

“Hizaki-kun, sebenarnya di mana letak apartemenmu yang baru?” tanyaku.

“Tenang saja. Kau pasti akan tahu. Baiklah, kalau begitu, biar aku saja yang mengendarai mobilmu. Bagaimana?” katanya sambil tersenyum padaku. Dan aku menyetujuinya.

Setelah beberapa menit kami berada di dalam mobil, akhirnya Hizaki menghentikan mobilku. Dan setelah aku melihat ke luar, aku terkejut melihat apartemen barunya.

“Chotto Matte, Hizaki-kun! Bukankah ini apartemenku? Kenapa kau berhenti di sini?” tanyaku penasaran.

“Hahaha… Ne, Kami-kun, di sinilah aku akan tinggal nantinya. Inilah apartemen baruku,” jawabnya sambil tertawa melihat kekagetanku. “Sekarang bantu aku merapikan apartemen baruku, ne?”

Aku dan Hizaki turun dari mobil dan segera menuju ke mobil box lalu menurunkan barang-barang Hizaki. Aku berpikir, ada baiknya juga Hizaki tinggal di apartemen yang sama denganku. Setidaknya aku bisa lebih sering sharing dengannya tentang Versailles dan juga masalah pribadiku.

“Ano… Hizaki-kun, kamar mana yang akan kau tinggali?” tanyaku.

“Hmm… Tidak jauh dari tempatmu. Kita satu lantai dan juga kita bertetangga,” jawabnya sambil tersenyum.

“Eee… Sou ka? Yokatta! Kalau begitu bagus lah. Aku akan sering-sering mampir ke tempatmu,” kataku.

“Baiklah. Pintuku akan selalu aku buka untukmu,” Hizaki tersenyum kembali.

+++

“Ohayou gozaimasu, Kami-kun!” sapa Hizaki yang sudah berada di depan mataku saat aku bangun tidur.

“Ah! Hizaki-kun, kenapa kau ada di kamarku?” tanyaku yang terkejut melihatnya. Namun dia hanya tersenyum manis.

“Kau pasti lupa untuk mengunci apartemenmu, iya kan?” tanyanya. Aku mengingat-ingat lagi apa yang aku kerjakan semalam. Dan ternyata memang benar. Aku lupa menguncinya karena aku sudah terlanjur mengantuk tadi malam.

“Sekarang cepatlah mandi dan sarapan! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Hizaki sambil menarik selimut yang masih aku pakai. Dan entah kenapa aku merasa Hizaki adalah You-chan yang dulu selalu memperhatikanku.

Aku segera bangun dan menuju ke kamar mandi. Dan beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Lalu aku menuju ke ruang makan dan di sana tiba-tiba aku melihat sosok You-chan yang seddang menungguku untuk sarapan bersama.

“You-chan??” kataku lirih. Dan dia membalik badannya. Saat dia membalik badannya, ternyata dia bukan You-chan. Dia Hizaki. Hizaki yang menungguku untuk sarapan. Kuso!! Aku tidak bisa melupakan You-chan!

“Kami-kun, doaijoubu ka?” tanya Hizaki.

“Ah, daijoubu,” kataku dan langsung duduk. “Kau menyiapkan ini semua?”

“Un! Hanya ini yang ada di kulkasmu. Jadi aku pakai bahan yang ada,” jawabnya.

Aku mencicipi sarapan buatannya. Dan dia kembali membuatku terkejut. Ini… Ini sama dengan yang biasa dibuat oleh You-chan untukku. Kenapa bisa begini? Hizaki… Tak mungkin dia adalah You-chan!

“Nan desu ka, Kami-kun? Apa sarapan buatanku tidak enak?” tanyanya ragu-ragu.

“Nandemonai! Hanya… Sarapan buatanmu mengingatkanku pada You-chan. Gomen ne!” kataku.

Benar-benar hatiku tidak bisa menerima ini semua. You-chan tidak bisa digantikan dengan orang lain. Sekalipun itu adalah Hizaki. Beberapa menit kemudian, aku selesai memakan sarapanku yang dibuatkan oleh Hizaki.

“Baiklah. Sekarang mari kita pergi!” kata Hizaki sambil menarik tanganku.

“Ke… Ke mana kita akan pergi? Ini masih terlalu pagi,” kataku.

“Ke makam You-kun,” jawabnya.

“Makam… Makam You-chan? Nande?” aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.

“Ada sesuatu yang harus aku katakan padanya,” jawabnya lagi.

“Lalu kenapa kau ajak aku bersamamu?” tanyaku lagi.

“Karena ini ada hubungannya denganmu. Jadi kau harus ikut,” katanya.

Dia menarik tanganku dan segera menuju ke tempat parkir. Aku hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Di dalam mobil pun aku hanya terdiam tanpa mengajaknya untuk berbicara. Walaupun aku merasa penasaran dengan apa yang akan dia perbuat padaku di makam You-chan.

Setelah sampai di makam You-chan, dia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku segera turun dari mobil. Dia membuka bagasi dan mengambil sebuah karangan bunga lili.

Aku mengikuti langkahnya pergi. Setelah berada di depan nisan You-chan, dia menaruh karangan bunga lili tersebut di makam You-chan dan berdoa. Dan aku juga tidak lupa berdoa untuk You-chan.

Setelah berdoa, aku bertanya padanya, “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Dia tersenyum dan tiba-tiba menarik tanganku sehingga tak ada jarak antara aku dan dia. Dan dia tiba-tiba mendekatkan bibirnya padaku. Dan akhirnya… dia menciumku.

Secara reflek tanganku bergerak dan menampar wajahnya. Aku melepaskan dekapannya.

“APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN? KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?” aku berteriak karena marah pada Hizaki.

“Aku… Aku hanya ingin meminta ijin pada You-kun. Aku ingin menggantikan tempat You-kun di hatimu,” jawabnya.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Aku mencintaimu, Kami-chan,” katanya.

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Hanya You-chan yang boleh memanggilku dengan nama itu!” kataku. “Aku pergi! Aku akan naik taksi!”

Aku benar-benar pergi dari situ. Hizaki sama sekali tidak mencoba menghentikan langkahku. Dia hanya melihatku pergi dari kejauhan.

“Ne You-chan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Aku ingin kau selamanya di hatiku. Aku tidak mau posisimu digantikan oleh siapapun,” dan tak kusadari, aku meneteskan air mataku.

+++
to be continued

Kamis, 28 Januari 2010

My forgot anniversary

Chapter: Oneshot
Author: Yukamijo
Genre: g angst2 amat (kagak ngarti yg bgini2an)
Warnings: -
Rating: PG
Pairings: Kai x ??

“Tadaima!”

Aku mendengar kau mengucapkan salam itu dan membuka pintu apartemenku. Aku membuka mataku dan aku melihat dengan samar kau duduk di depanku. Kau mencoba untuk menciumku namun aku mendorong tubuhmu.

“Dari mana saja kau?” tanyaku dengan perasaan marah. “Kau tahu, aku menunggumu semalaman di sini. Dan