Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 3/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them
PART 3
“Kami-kun, aku di sini,” Teru melambaikan tangannya.
Aku mendatangi Teru dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang ingin kau ceritakan padaku?” aku langsung bertanya kepada Teru.
“Kau tahu, aku sedang jatuh cinta sekarang. Kau tahu siapa yang aku sukai, Kami-kun?” tanya Teru.
“Jelas aku tidak tahu siapa yang kau sukai. Memang siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Dia adalah seseorang yang manis menurutku. Kau pasti mengatakan hal itu,” kata Teru sambil tersenyum sendiri.
“Apa aku kenal dia, Teru-kun?” tanyaku sekali lagi dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.
“Un!”
“Dare?” tanyaku.
“Leader sekaligus gitaris Versailles, Hizaki-kun,” Teru masih memasang senyum di wajahnya.
“Are? Hi… Hizaki-kun?” aku sangat terkejut.
Tiba-tiba di dalam hatiku seperti ada sebuah api yang semula kecil kemudian berubah menjadi kobaran api yang sangat besar. Apa yang sebenarnya terjadi padaku sekarang ini?
“Kami-kun? Kani-kun? Kenapa kau diam?” Teru mengguncang bahuku.
“Ah… Gomen. Kau… Kau menyukai Hizaki-kun?” tanyaku lebih lanjut.
“Un. Hizaki-kun sangat manis bagiku. Kau juga berpikiran begitu kan? Dia selalu membantuku saat aku kesusahan berlatih gitar. Aku sangat menyukainya,” kata Teru.
“Lalu apakah kau akan menyatakan perasaanmu padanya?” tanyaku.
“Entahlah. Menurutmu, aku harus bagaimana? Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini besok saat kita bertemu untuk latihan,” jawab Teru.
“Hmm… Mungkin lebih baik kau mengatakan secepatnya. Sebelum semuanya terlambat,” kataku.
“Sou ka? Kalau begitu aku akan melakukannya besok. Tapi aku takut dia akan menolakku,” wajah kekanak-kanakan Teru mulai muncul.
“Optimislah pada dirimu sendiri!” jawabku.
“Un! Aku pasti bisa melakukannya besok. Kau tidak minum, Kami-kun?” Teru menawariku untuk minum.
“Iie. Sepertinya aku harus segera kembali. Aku masih ada urusan. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?” kataku berbohong kepada Teru.
“Daijoubu. Lagipula aku hanya ingin mengatakan hal itu padamu. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi ke tempat Yuki,” kata Teru.
Aku memberikan salam perpisahan pada Teru dan segera pulang ke apartemenku. Aku segera menyalakan mobilku dan segera pergi dari bar tersebut.
Setelah sekitar 1 jam aku mengendarai mobilku, akhirnya aku sampai di apartemenku. Aku langsung menuju ke atas dan membuka pintu apartemenku.
Saat aku membuka pintu apartemenku, aku melihat sosok Hizaki yang sedang tertidur di sofa rung tamuku.
Aku mengamati sosok Hizaki. Dan memang benar apa kata Teru. Dia memang manis. Tidak! Dia sangat manis. Aku segera mengambil selimut dari kamarku dan menyelimuti Hizaki. Namun belum selesai aku menyelimutinya, tiba-tiba dia terbangun.
“Kami-kun, okaeri!” sapa Hizaki dengan nada masih mengantuk.
“Ah, tadaima, Hizaki-kun. Kau tidur lah di kamarku. Daripada kau harus tidur di sofa.” Kataku.
“Iie. Aku tadi hanya ingin menyiapkan makan malam untukmu. Kau belum makan kan?” tanyanya dengan lembut.
“Hizaki-kun, mungkin mulai sekarang, kau tidak usah mengurusiku lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau tidak perlu membuatkan makanan dan sepertinya kau tidak perlu ke apartemenku lagi,” entah apa yang aku katakan padanya.
“Kami-kun, kau tidak apa-apa?” tanya Hizaki sambil menyentuh dahiku.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir padaku,” kataku.
“Tidak. Kau demam! Badanmu terasa panas,” katanya dan langsung mengambil air es dan sebuah handuk kecil dari dapur dan kembali ke ruang tamu.
“Aku tidak apa-apa, Hizaki-kun. Sekarang keluarlah dari apartemenku,” kataku.
“Tapi kau…,” sebelum dia selesai berbicara, aku menampik baskom berisi air es yang dia bawa sehingga airnya berceceran di mana-mana.
“PLAAAK!!!”
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Amat sangat panas rasanya.
“Apa yang membuatmu tiba-tiba menjadi seperti ini padaku?! Apa aku berbuat sebuah kesalahan besar karena aku memperhatikanmu? Aku mencintaimu, Kamijo Yuji! Apapun yang terjadi padamu aku tetap akan mencintaimu! Walaupun kau berbuat kasar seperti ini, walaupun kau masih terbayang-bayang oleh You-kun, aku akan tetap mencintaimu! Ingat itu! Terserah kau mau atau tidak! Dan kalau kau tidak menyukai aku berada di sini, baiklah aku pergi sekarang!” kata Hizaki dengan sangat marah. Dia membanting pintu apartemenku.
“Hizaki-kun, andai saja kau tahu, sebenarnya aku juga menyukaimu. Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya. Tapi jika aku tetap berada di sampingmu, aku tidak tega dengan perasaan Teru yang juga mencintaimu. Jadi aku putuskan lebih baik aku mundur,” kataku dengan sedikit meneteskan air mata.
+++
“Kami-kun, ohayou!” terdengar suara Hizaki membangunkanku.
Aku perlahan-lahan membuka mataku dan betapa terkejutnya aku. Hizaki sudah berada di sebelahku sambil memeras sebuah handuk kecil.
“Ittai!” kepalaku terasa sangat berat. Badanku juga tersa seperti terbakar.
“Sudah aku katakan bahwa kau demam kemarin. Kau tak percaya padaku,” kata Hizaki seolah-olah kemarin tak terjadi apa-apa.
“Kenapa kau ada di sini? Sekarang sudah jam 9. Waktunya latihan, kau tahu?” kataku memaksa untuk bangun dari tempat tidur, namun Hizaki menahanku.
“Hari ini kita tidak ada latihan. Aku telah mengatakan kepada yang lain bahwa aku mengubah jadwal latihan besok pagi karena kau sedang sakit,” kata Hizaki.
“Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit!” bantahku.
“PLAAAK!!”
Sebuah tamparan kembali melayang ke pipiku.
“Kau tak usah keras kepala! Kau demam! Dan sekarang, suka atau tidak, aku tetap akan menjagamu. Aku akan menyiapkan bubur untukmu,” Hizaki keluar dari kamarku.
Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di meja sebelah tempat tidurku bergetar. Kulihat sejenak dan ternyata Yuki meneleponku.
“Moshi-moshi, Yuki-kun,” sapaku.
“Kami-kun, daijoubu ka? Aku mendengar kabar dari Hizaki-kun bahwa kau sedang sakit,”
“Ah, daijoubu. Aku hanya demam. Istirahat sebentar pasti aku akan sembuh kembali,”
“Sou ka? Aku segera menuju ke tempatmu bersama dengan Teru-kun. Jyaa!”
Yuki mewnutup teleponnya. Aku kembali meletakkan ponselku di meja. Dan tak lama kemudian, Hizaki datang membawakan sarapan untukku.
“Sekarang, saatnya kau sarapan dan setelah itu minum obat,” kata Hizaki sambil menyendokkan bubur untukku.
“Hizaki-kun,” aku membuka mulutku.
“Nani?” tanyanya.
“Kenapa kau mencintaiku?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja.
“Kau bertanya padaku kenapa? Hahaha…,” dia hanya tertawa. “Nee, Kami-kun, aku tak memiliki alasan yang spesifik untuk mencintai seseorang. Yang perlu kau tahu sekarang, aku mencintaimu lebih dulu sebelum kau bersama dengan You-kun,” katanya.
“Nani? Selama itukah kau memendam perasaan padaku? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” aku bertanya seperti menginterogasinya.
“You-kun mencintaimu. Itu alasannya kenapa aku tidak pernah mengatakannya padamu. Dan di saat-saat terakhir You-kun, dia memberiku pesan terakhir,” jawab Hizaki.
“Apa pesan terakhirny? Apa aku boleh mengetahuinya?” tanyaku.
“Dia berkata padaku untuk tetap mencintaimu selamanya dan tetap berada di sisimu selamanya,” jawabnya sambil menyuapiku.
“Dia bilang begitu? Aku tidak menyangka You-chan sejahat itu,” kataku.
“Kau bilang apa? You-chan tidak jahat! Awalnya dia tidak tahu kalau aku mencintaimu. Namun beberapa minggu sebelum dia meninggal, tak sengaja membaca buku harianku dan akhirnya dia mengetahuinya,” jelas Hizaki. “Kenapa kau tanyakan itu padaku?”
“Aku… Aku hanya…,” aku terdiam sejenak dan kemudian tanganku memelukny erat-erat. “Aishiteru!”
“Aku dat…,” suara Teru terdengar jelas di telingaku.
Dan saat aku menoleh melihat pintu kamarku, Teru dan Yuki sudah berdiri di sana. Dengan segera, aku melepaskan pelukanku dari Hizaki.
“Kami-kun, apa yang sedang kau lakukan? Kau mengkhianatiku?” kata Teru.
“Ano… Iie… Aku hanya…,” aku tersendat-sendat mengatakannya.
“Apa yang kalian bicarakan?” kata Yuki.
Aku melihat ke arah Hizaki, Teru dan Yuki secara bergantian. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
“Kami-kun, apa kau menyukai Hizaki-kun? Jawab aku dengan jujur!” teriak Teru sambil hampir melayangkan pukulan ke arahku. Untung Yuki langsung menahan Teru.
“Apa yang kau lakukan, Teru-chan? Kenapa kau harus memukul Kami-kun?” tanya Yuki sedikit emosi.
“Apa sebenarnya yang terjadi?” Hizaki mulai menampakkan kebingungannya.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku tadi sekarang juga!” teriak Teru.
“Aku… Aku mencintai Hizaki,” kataku sambil menundukkan kepalaku.
“Hizaki-kun, apa kau juga mencintai Kami-kun?” tanya Teru masih dengan nada emosi yang tinggi.
“Aku… Aku mencintainya. Sangat mencintainya,” jawab Hizaki.
Tiba-tiba Teru memukul tembok kamarku dan menghela napasnya.
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk cemburu kepada Kami-kun,” kata Teru.
“Apa sebenarnya maksudmu, Teru-kun?” tanya Yuki.
“Dia mencintai Hizaki-kun,” jawabku.
“Aku?” Hizaki terkejut.
“Hai. Kemarin malam dia mengatakannya padaku. Karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak memperhatikanku lagi. Karena aku tidak terga melihat Teru-kun. Gomen nee, Hizaki-kun,” lanjutku.
“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan marah kepada kalian berdua. Sesuatu hal yang sia-sia nee? Hahaha…,” kata Teru yang tiba-tiba kembali ceria seperti biasanya.
“Lebih baik kita pulang saja, Teru-kun. Sepertinya memang Kami-kun hanya demam. Besok pasti dia sudah sehat kembali. Ikuzo!” Yuki mengajak Teru untuk segera meninggalkan apartemenku.
Dan akhirnya, hanya aku dan Hizaki di situ. Hizaki menatapku dengan tatapan yang tajam.
“Jadi, apa benar yang kau katakan tadi?” tanya Hizaki.
“Apa yang aku katakan tadi?” aku pura-pura melupakan hal yang terjadi tadi.
“Kau tak usah berpura-pura lupa kejadian barusan! Aku tidak bercanda denganmu, Kami-kun,” kata Hizaki.
“Aku… Aku tidak bercanda padamu,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Dan dia membalas senyumanku.
“Aishiteru, Hizaki-kun,” kataku sambil memeluknya.
“Hontou ka, Kami-kun?” aku mengangguk dan dia membalas pelukanku dengan sebuah ciuman yang sangat hangat di bibirku. “Aishiteru, Kami-kun.”
Kami berdua larut dalam ciuman yang hangat. You-chan, gomen nee. Aku sangat lega mengetahui bahwa kau telah merestui kami berdua untuk bersatu.
OWARI
+++
Selasa, 18 Mei 2010
The love from a dead orchestra 2/3
Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 2/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them
PART 2
You-chan, aku benar-benar ingin bertemu denganmu saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Hizaki membuatku bimbang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku.
Ting… Tong… Terdengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan membukakan pintu.
“Hizaki-kun?” aku terkejut melihat Hizaki di depan pintu.
“Kami-kun, aku… aku… Apakah aku boleh masuk sebentar?” kata Hizaki penuh dengan ketakutan.
“Ma… Masuklah!” kataku mempersilakan dia masuk. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”
“Aku… Aku ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tahu aku telah melakukan hal yang keterlaluan padamu,” kata Hizaki agak gugup karena ketakutan.
“Oh… Aku juga minta maaf padamu tentang kejadian kemarin. Sebenarnya aku tidak bermaksud marah dan meninggalkanmu di makam You-chan sendirian,” kataku.
“Ja… Jadi, kau memaafkanku, Kami-kun?” Hizaki sedikit memperlihatkan senyuman bahagianya di depanku. Dan tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam dadaku. Tapi aku tidak tahu apa itu.
“Kau tidak salah apapun terhadapku. Jadi tidak ada yang harus dimaafkan. Dan aku juga berterima kasih kau mau jujur padaku tentang perasaanmu padaku,” kataku sambil sedikit tersenyum.
“Arigatou, Kami-kun!” Hizaki tiba-tiba memelukku dengan erat. “Lalu, apakah kau menjawab perasaanku?”
“Eh?” aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hizaki itu.
“Hahaha… Lupakan! Aku hanya bercanda,” jawab Hizaki. “Apa kau sudah makan malam?”
“Ah, belum. Aku tidak tahu harus makan apa mala mini,” aku menjawab seadanya.
“Kalau begitu biar aku saja yang memasak sesuatu untukmu,” Hizaki langsung menuju ka dapurku dan membuka isi kulkasku.
Semua bahan makanan di dalam kulkasku dia cek satu per satu. Jika ada bahan yang sudah tidak bisa dipakai, dia membuangnya. Dan entah kenapa bayanganmu selalu terlihat di dalam diri Hizaki, You-chan.
“Bukan, dia bukan You-chan!” kataku lirih sambil memukul-mukul kepalaku sendiri.
“Apa yang kau lakukan, Kami-kun?” Hizaki melihatku sedang memukul-mukul kepalaku. Seketika itu aku langsung berhenti melakukannya.
“Ah… Iie. Hanya saja aku sedikit pusing,” aku berbohong.
“Kau sakit? Kalau begitu duduklah! Biar aku yang menyiapkan makan malam untukmu,” kata Hizaki sambil mendudukkanku di kursi meja makan.
Kenapa dia sangat baik padaku? Padahal saat itu aku sudah jahat dan menolaknya mentah-mentah. Aku mulai berpikir, apakah dia yang terlalu baik padaku atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku dari orang lain sehingga aku tidak bisa melihat kebaikan orang lain.
Beberapa menit kemudian, Hizaki mulai menghidangkan makan malam untukku.
“Nee Kami-kun, makanlah!” kata Hizaki sambil duduk di depanku.
“Kau tidak ikut makan? Kita makan bersama-sama,” kataku.
“Ah, aku sudah makan. Kau makan saja!” kata Hizaki.
“Baiklah kalau begitu. Itadakimasu!” ucapku.
“Kami-kun, apa kau besok ada waktu? Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat. Tenang saja, bukan ke makam You-kun” cepat-cepat Hizaki memperjelas perkataannya.
“Lalu, ke mana kau ingin mengajakku?” tanyaku.
“Etoo… aku ingin mengajakmu untuk menemaniku membeli gitar yang baru. Gitarku sekarang sudah sedikit rusak,” jawab Hizaki.
“Oh, baiklah. Besok aku akan menemanimu. Hitung-hitung aku ingin meminta maaf padamu,” kataku sambil tersenyum.
“Sudahlah, kau tak memiliki kesalahan apapun padaku,” kata Hizaki. “Kalau begitu, aku harus kembali ke apartemenku. Jyaa na!” ucap Hizaki.
“Jyaa! Mata ashita! Ano Hizaki-kun, arigatou kau sudah memasakkan ini untukku,” Hizaki hanya tersenyum dan keluar dari apartemenku.
Tiba-tiba di dalam pikiranku, aku membayangkan Hizaki menjadi kekasihku. Entah apa yang ada di otakku sekarang ini. Di dalam diriku terasa seperti ada gunung es yang tiba-tiba leleh dan melebur menjadi air yang mengalir tenang saat aku mengingat Hizaki. You-chan, bukan maksudku untuk melupakanmu. Aku akan tetap mengingat dirimu.
+++
Aku bersiap-siap untuk mengantarkan Hizaki membeli gitar barunya. Aku mengambil mantel yang kugantung di dekat pintu depan. Setelah itu aku mengunci apartemenku dan berjalan menuju apartemen Hizaki.
Aku mengetuk pintu apartemennya dan tak lama kemudian, dia muncul.
“Ah, Kami-kun. Kau sudah siap?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia menggandeng tanganku, mengajakku untuk langsung pergi.
Hari itu terasa seperti aku tak memiliki beban sama sekali selama aku pergi dengan Hizaki. Hizaki selalu memiliki bahan pembicaraan untuk diperbincangkan. Dan aku merasa terhibur berada di dekatnya.
“Ittai!” teriak Hizaki.
“Nande?” tanyaku khawatir.
“Ada debu masuk di mataku. Sakit sekali,” kata Hizaki.
“Kalau begitu, buka matamu pelan-pelan. Aku akan meniup matamu supaya debunya keluar,” aku memegang pipinya dan mendekatkan bibirku ke wajahnya dan aku meniup matanya.
“Ah, terima kasih, Kami-kun. Aku sudah merasa enakan,” kata Hizaki. “Kami-kun? Kenapa kau diam saja? Kami-kun?”
Aku memperhatikan wajahnya yang sangat manis tanpa berkedip sama sekali. Dan tiba-tiba, wajahku mendekat ke wajahnya. Seperti ada sebuat magnet yang hebat yang menyedotku. Bibirku sekarang mendekat pada bibirnya dan akhirnya bibir kami bersatu. Dan aku menciumnya!
Entah apa yang membuatku melakukan ini semua, namun saat aku menciumnya, sebuah perasaan yang manis meloncat-loncat di dalam diriku.
“Ano… Kami-kun,” katanya.
“Ah, Gomen nee, Hizaki-kun. Aku… Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu,” kataku segera meminta maaf padanya.
“Dai… Daijoubu, Kami-kun. Kita harus secepatnya membeli gitar. Aku tidak mau pulang terlalu malam nanti,” kata Hizaki sambil langsung berjalan mendahuluiku.
Aku mengikutinya dari belakang. Hizaki tidak menoleh ke belakang sama sekali. Seperti dia tidak menyadari keberadaanku. Di saat aku sedang memikirkan Hizaki, tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar.
“Moshi-moshi, Teru-kun,” ternyata itu adalah telepon dari Teru.
“Kami-kun, apa kau bisa menemaniku minum nanti malam? Aku membutuhkan seorang teman untuk menemaniku,”
“Minum? Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi kenapa kau tidak mengajak Yuki-kun atau Hizaki-kun?”
“Mereka sibuk. Aku hanya ingin bercerita sesuatu hal denganmu. Baiklah kalau kau bisa, kita bertemu di bar biasanya. Aku tunggu kau di sana jam 7 malam. Jyaa!”
Setelah kata terakhir itu, aku langsung menutup teleponku dan aku kembali mendekati Hizaki.
+++
Chapter: 2/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them
PART 2
You-chan, aku benar-benar ingin bertemu denganmu saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Hizaki membuatku bimbang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku.
Ting… Tong… Terdengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan membukakan pintu.
“Hizaki-kun?” aku terkejut melihat Hizaki di depan pintu.
“Kami-kun, aku… aku… Apakah aku boleh masuk sebentar?” kata Hizaki penuh dengan ketakutan.
“Ma… Masuklah!” kataku mempersilakan dia masuk. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”
“Aku… Aku ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tahu aku telah melakukan hal yang keterlaluan padamu,” kata Hizaki agak gugup karena ketakutan.
“Oh… Aku juga minta maaf padamu tentang kejadian kemarin. Sebenarnya aku tidak bermaksud marah dan meninggalkanmu di makam You-chan sendirian,” kataku.
“Ja… Jadi, kau memaafkanku, Kami-kun?” Hizaki sedikit memperlihatkan senyuman bahagianya di depanku. Dan tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam dadaku. Tapi aku tidak tahu apa itu.
“Kau tidak salah apapun terhadapku. Jadi tidak ada yang harus dimaafkan. Dan aku juga berterima kasih kau mau jujur padaku tentang perasaanmu padaku,” kataku sambil sedikit tersenyum.
“Arigatou, Kami-kun!” Hizaki tiba-tiba memelukku dengan erat. “Lalu, apakah kau menjawab perasaanku?”
“Eh?” aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hizaki itu.
“Hahaha… Lupakan! Aku hanya bercanda,” jawab Hizaki. “Apa kau sudah makan malam?”
“Ah, belum. Aku tidak tahu harus makan apa mala mini,” aku menjawab seadanya.
“Kalau begitu biar aku saja yang memasak sesuatu untukmu,” Hizaki langsung menuju ka dapurku dan membuka isi kulkasku.
Semua bahan makanan di dalam kulkasku dia cek satu per satu. Jika ada bahan yang sudah tidak bisa dipakai, dia membuangnya. Dan entah kenapa bayanganmu selalu terlihat di dalam diri Hizaki, You-chan.
“Bukan, dia bukan You-chan!” kataku lirih sambil memukul-mukul kepalaku sendiri.
“Apa yang kau lakukan, Kami-kun?” Hizaki melihatku sedang memukul-mukul kepalaku. Seketika itu aku langsung berhenti melakukannya.
“Ah… Iie. Hanya saja aku sedikit pusing,” aku berbohong.
“Kau sakit? Kalau begitu duduklah! Biar aku yang menyiapkan makan malam untukmu,” kata Hizaki sambil mendudukkanku di kursi meja makan.
Kenapa dia sangat baik padaku? Padahal saat itu aku sudah jahat dan menolaknya mentah-mentah. Aku mulai berpikir, apakah dia yang terlalu baik padaku atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku dari orang lain sehingga aku tidak bisa melihat kebaikan orang lain.
Beberapa menit kemudian, Hizaki mulai menghidangkan makan malam untukku.
“Nee Kami-kun, makanlah!” kata Hizaki sambil duduk di depanku.
“Kau tidak ikut makan? Kita makan bersama-sama,” kataku.
“Ah, aku sudah makan. Kau makan saja!” kata Hizaki.
“Baiklah kalau begitu. Itadakimasu!” ucapku.
“Kami-kun, apa kau besok ada waktu? Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat. Tenang saja, bukan ke makam You-kun” cepat-cepat Hizaki memperjelas perkataannya.
“Lalu, ke mana kau ingin mengajakku?” tanyaku.
“Etoo… aku ingin mengajakmu untuk menemaniku membeli gitar yang baru. Gitarku sekarang sudah sedikit rusak,” jawab Hizaki.
“Oh, baiklah. Besok aku akan menemanimu. Hitung-hitung aku ingin meminta maaf padamu,” kataku sambil tersenyum.
“Sudahlah, kau tak memiliki kesalahan apapun padaku,” kata Hizaki. “Kalau begitu, aku harus kembali ke apartemenku. Jyaa na!” ucap Hizaki.
“Jyaa! Mata ashita! Ano Hizaki-kun, arigatou kau sudah memasakkan ini untukku,” Hizaki hanya tersenyum dan keluar dari apartemenku.
Tiba-tiba di dalam pikiranku, aku membayangkan Hizaki menjadi kekasihku. Entah apa yang ada di otakku sekarang ini. Di dalam diriku terasa seperti ada gunung es yang tiba-tiba leleh dan melebur menjadi air yang mengalir tenang saat aku mengingat Hizaki. You-chan, bukan maksudku untuk melupakanmu. Aku akan tetap mengingat dirimu.
+++
Aku bersiap-siap untuk mengantarkan Hizaki membeli gitar barunya. Aku mengambil mantel yang kugantung di dekat pintu depan. Setelah itu aku mengunci apartemenku dan berjalan menuju apartemen Hizaki.
Aku mengetuk pintu apartemennya dan tak lama kemudian, dia muncul.
“Ah, Kami-kun. Kau sudah siap?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia menggandeng tanganku, mengajakku untuk langsung pergi.
Hari itu terasa seperti aku tak memiliki beban sama sekali selama aku pergi dengan Hizaki. Hizaki selalu memiliki bahan pembicaraan untuk diperbincangkan. Dan aku merasa terhibur berada di dekatnya.
“Ittai!” teriak Hizaki.
“Nande?” tanyaku khawatir.
“Ada debu masuk di mataku. Sakit sekali,” kata Hizaki.
“Kalau begitu, buka matamu pelan-pelan. Aku akan meniup matamu supaya debunya keluar,” aku memegang pipinya dan mendekatkan bibirku ke wajahnya dan aku meniup matanya.
“Ah, terima kasih, Kami-kun. Aku sudah merasa enakan,” kata Hizaki. “Kami-kun? Kenapa kau diam saja? Kami-kun?”
Aku memperhatikan wajahnya yang sangat manis tanpa berkedip sama sekali. Dan tiba-tiba, wajahku mendekat ke wajahnya. Seperti ada sebuat magnet yang hebat yang menyedotku. Bibirku sekarang mendekat pada bibirnya dan akhirnya bibir kami bersatu. Dan aku menciumnya!
Entah apa yang membuatku melakukan ini semua, namun saat aku menciumnya, sebuah perasaan yang manis meloncat-loncat di dalam diriku.
“Ano… Kami-kun,” katanya.
“Ah, Gomen nee, Hizaki-kun. Aku… Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu,” kataku segera meminta maaf padanya.
“Dai… Daijoubu, Kami-kun. Kita harus secepatnya membeli gitar. Aku tidak mau pulang terlalu malam nanti,” kata Hizaki sambil langsung berjalan mendahuluiku.
Aku mengikutinya dari belakang. Hizaki tidak menoleh ke belakang sama sekali. Seperti dia tidak menyadari keberadaanku. Di saat aku sedang memikirkan Hizaki, tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar.
“Moshi-moshi, Teru-kun,” ternyata itu adalah telepon dari Teru.
“Kami-kun, apa kau bisa menemaniku minum nanti malam? Aku membutuhkan seorang teman untuk menemaniku,”
“Minum? Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi kenapa kau tidak mengajak Yuki-kun atau Hizaki-kun?”
“Mereka sibuk. Aku hanya ingin bercerita sesuatu hal denganmu. Baiklah kalau kau bisa, kita bertemu di bar biasanya. Aku tunggu kau di sana jam 7 malam. Jyaa!”
Setelah kata terakhir itu, aku langsung menutup teleponku dan aku kembali mendekati Hizaki.
+++
Label:
fanfic,
KamijoxHizaki,
KamijoxYou,
Versailles
Langganan:
Postingan (Atom)