“Aoichan, di mana dirimu? Aku sudah menunggumu dari tadi. Tapi kenapa kau tidak segera keluar? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucap Kai dalam hati. Sudah satu jam dia menunggu Aoi di depan pintu gerbang sekolah. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang juga. Kai sudah hampir putus asa. Namun, hampir saja Kai menyerah, seorang laki-laki berwajah agak garang dengan menenteng tas sekolahnya keluar dan menghampiri Kai.
“Kaichan!” teriaknya.
“Ah! AOICHAN!!” sahut Kai. “Kenapa kau lama sekali baru keluar? Aku menunggumu dari tadi di sini.”
“Ada apa kau menungguku? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Aoi.
“Un! Aku ingin mengatakan... aku... aku... “ Kai berkata patah-patah.
“Ya?” tanya Aoi ingin memperjelas perkataan Kai.
“Aku... “ Kai menundukkan kepala “AKU MENYUKAI AOICHAN!!” Kai gugup dan langsung menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Aoi syok. Dia tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik.
“Nani kore? Kau menyukai aku?” Aoi seperti tak percaya. Kai masih menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah Aoi yang agak garang. Kai mengepalkan kedua tangannya siap-siap patah hati atas jawaban Aoi.
“Aoichan, kumohon! Jadilah pacarku!” Kai melanjutkan dengan suara yang lirih.
“E...too... Kaichan, gomen na! Untuk saat ini aku masih belum bisa menerimamu menjadi pacarku,” jawab Aoi yang menghancurkan hati Kai. “Hontou gomen! Nee... Kaichan, aku harus pulang sekarang. Hyde sudah menungguku untuk kerja kelompok.” Aoi meninggalkan Kai sendirian di depan pintu gerbang sekolah.
Kenapa Aoichan menolakku? Padahal aku dan dia sudah begitu dekat. Kami sudah berteman sejak kecil. Dia selalu menjagaku setiap waktu. Waktu aku sedih, aku selalu dihibur olehnya. Waktu ada preman yang ingin menggangguku saat pulang sekolah, dia selalu membelaku. Betapa bodohnya aku! Aku terlalu berharap banyak dari Aoichan. Hontou ni BAKA YARO!!!
Dengan tubuh gontai Kai pulang ke apartemennya. Di sepanjang jalan, dia selalu memikirkan Aoi. Dia sampai tidak sadar bahwa dia ternyata tidak berjalan ke apartemennya, melainkan pergi ke apartemen Reita, teman seperjuangannya dari kecil bersama Aoi.
“AH! KAICHAN!!” teriak Reita memanggil Kai. Kai yang merasa dipanggil tiba-tiba terbangun dari lamunannya dan mencari siapa yang memanggilnya.
“Hah? Rei-chan? Kenapa aku bisa di apartemen Rei-chan?” tanya Kai dalam hati.
“Kaichan, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kau sakit?” tanya Reita bertubi-tubi.
“Ah, aku sendiri juga tak tahu kenapa aku bisa berjalan sampai ke sini. Aku tadi baru saja pulang dari sekolah,” jelas Kai.
“Nani? Baru pulang dari sekolah? Kenapa kau baru pulang?” tanya Reita yang sangat mengkhawatirkan teman kecilnya itu. Tak disangka, air mata Kai menetes di pipinya.
“Nande? Kenapa kau menangis?” tanya Reita lebih khawatir. Tiba-tiba saja Kai memeluk Reita dan menangis dalam pelukan Reita. Reita bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan teman kecilnya itu.
“Ya Tuhan! Kaichan, kenapa badanmu panas sekali? Ayo masuklah ke dalam!” Reita menuntun Kai yang berjalan gontai seperti tak punya nyawa lagi. Reita menidurkan Kai di tempat tidurnya dan langsung mengambil air dingin untuk mengompres Kai. “Kaichan, ada apa denganmu? Kenapa kau tidak cerita padaku?”
Aoi menuju ruang kelas dengan berlari terburu-buru. Dia hampir saja terlambat tapi untungnya Tetsu sensei belum ada di kelas. Aoi menuju ke bangkunya dan melihat ternyata bangku Kai di sebelahnya kosong. Aoi menoleh ke belakang dan bertanya pada Reita. “Nee Rei-chan, kemana Kaichan? Tumben jam segini dia belum datang.”
“Kemarin dia demam tinggi,” kata Reita.
“Nani? Demam?” Aoi terkejut. “Kenapa dia bisa demam?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kemarin dia ke apartemenku dan menangis. Tapi dia tidak bilang apa sebabnya. Padahal dia selalu curhat setiap ada masalah,” kata Reita.
“Nee?? Jadi dia tidak bilang apa-apa?” tanya Aoi seperti tak percaya perkataan Reita.
“Iie. Dia tidak bicara apapun” Sekarang yang mempunyai wajah bingung adalah Aoi. Ternyata Kai tidak pernah bilang siapapun bahwa dia mencintai Aoi. Begitu pula Aoi. Dia tidak pernah bilang bahwa sebenarnya dia juga menyukai Kai.
“Rei-chan, apa kau setelah pulang sekolah mau menjenguk Kai?” tanya Aoi.
“Ano... gomen na! Aku tidak bisa hari ini. Karena aku sudah ada janji dengan Ruki untuk pergi bersama,” jawab Reita.
“Sou ka? Ya sudah aku nanti akan jenguk dia sendiri saja,” kata Aoi.
TOK... TOK... TOK!!! Pintu apartemen Kai diketuk oleh Aoi. Tapi Kai tak kunjung datang untuk membukakan pintu. Dia mengetuk sekali lagi. Tetap saja tak ada yang membukakan pintu.
“Kaichan!!” teriak Aoi.
“KAICHAN!!” suara Aoi mengeras. “KAICHAN!!! KAICHAN BUKA PINTUNYA!!! INI AKU AOI!!!”
Tak lama kemudian, pintu apartemen Kai terbuka. Kai muncul dengan wajah yang sangat pucat. Setelah membuka pintu, Kai langsung masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Kaichan, aku dengar dari Rei-chan kau kemarin demam. Apa kau sudah sembuh?” tanya Aoi. Tapi Kai mengabaikan Aoi dan segera merebahkan diri ke tempat tidurnya. Aoi mengikuti Kai ke tempat tidur
“Nee... Kaichan, apa kau masih marah denganku karena kejadian kemarin? Gomen na, Kaichan. Bukan maksudku ingin menolakmu. Tapi memang saat ini aku tidak bisa menerimamu,” jelas Aoi panjang lebar. Kai tetap tidak membuka mulutnya malah dia langsung tertidur.
“Kaichan, jangan marah lagi ya! Semoga suatu saat nanti aku bisa mengatakan hal yang ingin kau dengar itu.” Aoi memegangi tangan Kai tanpa melepasnya satu detik saja. Sampai dia tertidur di sebelah Kai.
Jam di dinding kamar Kai menunjukkan pukul tujuh malam. Aoipun terbangun dan melihat Kai masih belum melepaskan tangannya dan juga belum membuka matanya. Aoi membangunkan Kai dengan mengguncang badan Kai pelan. Namun, Kai tetap saja tidak bergeming.
“Kaichan!” panggil Aoi.
“Kaichan, bangun! Sudah malam. Aku harus pulang. Apa kau tidak mau mengantarku?”
“Kaichan?!”
“KAICHAN!”
“KAICHAN!!”
Tetap saja badan Kai tidak bergerak sama sekali. Aoi menjadi sangat panik. Aoi mengguncang badan Kai semakin keras. Tetap saja Kai tak ada tanda-tanda membuka matanya.
“KAICHAN!! JANGAN BEGINI TERUS!! AYO BANGUNLAH!!” kata Aoi yang sudah meneteskan air mata yang cukup banyak. Aoi teringat dia harus mencari bantuan. Diambilnyalah ponsel di saku celananya dan langsung memencet nomor ponsel Reita.
“Moshi moshi, Rei-chan? Apa kau bisa ke apartemen Kaichan sekarang juga?” tanya Aoi dengan nada yang sangat panik.
“Memangnya ada apa Aoichan? Ada apa dengan Kaichan? Kenapa kau menangis?” tanya Reita yang juga ikut-ikut menjadi cemas.
“Kaichan... Kaichan... Kaichan tidak bangun walaupun aku mengguncang badannya begitu keras. Kumohon! Bantulah aku!” Aoi memohon pada Reita.
“Untunglah kalian membawanya lebih awal. Mungkin jika kalian membawa dia terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tak akan tertolong,” kata dokter.
“Memangnya, dia sakit apa, Sensei?” tanya Aoi dengan cemas.
“Umm... dia hanya demam biasa. Namun jika tidak segera ditangani, mungkin akan fatal akibatnya,” jelas dokter.
“Doumo arigatou, Sensei! Ano... apa kami boleh menjenguknya?” tanya Aoi.
“Douzo,” dokter itu mengijinkan mereka berdua menemui Kai. Aoi segera melangkahkan kakinya menuju kamar Kai dirawat. Tapi tangan Reita memegangi tangan Aoi, menghalangi Aoi untuk masuk ke dalam.
“Matte!” Reita menunda langkah Aoi.
“Nande?” tanya Reita.
“Sebenarnya kau ada hubungannya kan dengan semua kejadian ini?” tanya Reita curiga.
“Apa maksudmu?” Aoi jadi bingung.
“Kau pasti mengetahui kenapa Kai seperti ini. Iya kan, Aoichan?” Aoi menghela napasnya dan mulai bercerita kepada Reita.
“Tapi kau harus janji padaku, kau tidak marah padaku. Karena aku tidak ingin persahabatan kita dari kecil hancur,” kata Aoi. Reita mengangguk. “Sebenarnya, sebelum dia jatuh pingsan di tempatmu, dia bertemu denganku di depan gerbang sekolah. Dia menungguku sampai selesai rapat,”
“Lalu?” Reita penasaran.
“Saat itu dia mengutarakan persaannya padaku. Dia menyukai aku. Namun aku menolaknya,” Aoi menundukkan kepalanya. Dan tiba-tiba, Reita meninjukan tangannya di tembok.
“KUSO!! Kenapa aku tidak mengetahui hal itu. Padahal aku seharusnya bisa menebak kelakuan Kaichan,” mata Reita berkaca-kaca.
“Gomen na! Bukan maksudku untuk membuat keadaan menjadi seperti ini. Aku sebenarnya juga menyukai Kaichan. Tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku ingin ini menjadi kejutan di ulang tahunnya besok. Tapi aku tak tahu kalau kejadiannya seperti ini,” Aoi tertunduk sambil meneteskan air mata lagi.
“BAKA NA!!! KENAPA KALIAN MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU? APA AKU BUKAN ORANG YANG KALIAN PERCAYAI SELAMA INI? HUH???” Reita menarik kerah baju Aoi.
“Bu... bu... bukan begitu, Rei-chan!” Reita melepaskan kerah baju Aoi dengan agak kasar. “Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu. Tapi saat aku ingin mengatakannya, kau pasti dalam keadaan bertengkar dengan Ruki. Jadi aku tidak punya kesempatan menceritakan padamu,” jelas Aoi.
“Besok adalah ulang tahun Kaichan. tapi sekarang dia malah terbaring tak berdaya di dalam,” Reita mulai menitikkan air matanya tapi dia masih ingin menahannya.
“Wakatta. Besok adalah ulang tahun Kaichan. Aku ingin dia membuka matanya,” kata Aoi.
Gomen na, Kaichan! gomen aku telah membuatmu sampai seperti ini karena kata-kataku yang bodoh kemarin. Aku menyesali semua ini! Aku mencintaimu, Kaichan! Kumohon, bukalah matamu. Besok adalah hari ulang tahunmu. Aku ingin segera mengatakan isi hatiku yang sebenarnya padamu.
“Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday to Kaichan... happy birthday to you!” Aoi menyanyikan lagu ulang tahun dengan lirih dan memegangi tangan Kai.
“Kumohon Kaichan, bukalah matamu! Aku mencintaimu!” kata Aoi dalam hati. Aoi mencium kening Kai yang agak pucat. Tak berapa lama, tangan Kai yang dipegang oleh bergerak.
“Kaichan??” panggil Aoi. “Kaichan, kau sudah sadar?” Aoi melihat Kai membuka matanya sedikit demi sedikit.
“Aoichan? Aku ada di mana?” tanya Kai dengan suara yang tak berdaya.
“Kau ada di rumah sakit, Kaichan. Kemarin kau pingsan karena demammu kambuh,” Aoi tersenyum sumringah melihat Kai mau berbicara kepadanya.
“Mana Rei-chan?” tanya Kai.
“Ano... Rei-chan sedang dalam perjalanan kemari bersama Ruki. Sebentar ya!” Aoi mengambil ponselnya dan memencet nomor Reita.
“Moshi moshi, Rei-chan! Kai sudah siuman! Segera datanglah ke rumah sakit!” Aoi menutup ponselnya segera dan mencari dokter untuk memeriksa keadaan Kai. Lalu dia kembali memegang tangan Kai yang masih sedikit lemah.
“Aoichan, apa tadi kau menyanyikan lagu ulang tahun untukku?” Aoi mengangguk.
“Ano... Kaichan, gomen na! Waktu itu aku tidak bermaksud untuk menolakmu. Sebenarnya aku juga suka dengan Kaichan. Tapi aku sudah mempunyai rencana aku ingin mengatakannya hari ini, di saat kau ulang tahun. Tapi aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini. Gomen na!”
“Aoichan, apa aku tidak salah dengar? Kau juga menyukaiku?” tanya Kai memperjelas.
“Aishiteru Kaichan! kau tidak salah dengar. Bahkan aku sudah menyukaimu saat pertama aku bertemu denganmu,” Aoi tersenyum pada Kai dan Kai juga tersenyum pada Aoi. Aoi mencium bibir Kai dengan lembut.
Dokter segera datang dan memeriksa Kai. Setelah memeriksa keadaan Kai, dokter mengatakan bahwa Kai sudah boleh pulang besok dan meninggalkan kamar Kai. Dan tak lama, Reita dan Ruki datang.
“Kaichan!” panggil Reita sambil mendekat. “Daijoubu ka?” Kai menganggukkan kepalanya dengan lemah. “Yokatta!”
“Rei-chan, apa kau lupa hari ini hari apa?” tanya Aoi.
“Ya Tuhan! Sampai lupa! Otanjoubi omedetou gozaimasu, Kaichan!” ucap Reita.
“Kai-kun, aku harap kau cepat sembuh ya! Dan juga, otanjoubi omedetou gozaimasu!” ucap Ruki tidak mau ketinggalan.
“Arigatou minna! Arigatou Ruki-kun! Kalian mengingat ulang tahunku dan aku sudah mendapat kado yang sangat istimewa hari ini. Tuhan benar-benar baik padaku hari ini. Arigatou Kamisama!” kata Kai.
“Nee Rei-chan, Kaichan sudah bisa dibawa pulang besok,” kata Aoi.
“Hontou ka? Yokatta!” Reita bersyukur.
“Rei-chan,” panggil Kai. Maaf aku tidak pernah bilang padamu. Tapi aku sudah menjadi milik Aoichan,”
“Nani? Yokatta!” Reita memandang Ruki kekasihnya dan menggandeng tangan kekasihnya itu. “Ayo kita rayakan!”
---OWARI---
Rabu, 27 Agustus 2008
Rabu, 20 Agustus 2008
kagak tau ap y???
Ah! Indahnya punya sekolah dan teman-teman baru. Itulah yang dibayangkan oleh Kai saat dia pergi ke sekolah barunya. dia optimis akan mendapat banyak teman. Kai melangkahkan kakinya ke kelas 3-C yang telah ditetapkan sebagai kelasnya yang baru. Semua murid di kelas itu melihat Kai secara seksama seperti Kai adalah korban baru di sarang penyamun.
“Ohayou, minna san!” sapa Kai waktu masuk ke kelas barunya. Namun tak seorangpun yang membalas sapa
“Ohayou, minna san!” sapa Kai waktu masuk ke kelas barunya. Namun tak seorangpun yang membalas sapa
Minggu, 10 Agustus 2008
I’M SORRY I BREAK YOUR HEART
Tittle: I’M SORRY I BREAK YOUR HEART
Chapter: oneshot
Pairing: UruhaxKai
Rating: PG
Ting... tong! Bel apartemen Uruha terdengar dipencet oleh seseorang. Uruha pun bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Saat membuka pintu, Uruha pun terkejut. Ternyata yang datang adalah Kai dengan dua koper besar di sampingnya.
Kai : (dengan memasang senyum di wajahnya) Hai Uruchan!
Uruha : Sedang apa kau malam-malam ke sini dengan dua koper itu?
Kai : Maaf, Uruchan. Malam-malam begini aku mengganggumu. Ano... apa boleh aku untuk sementara tinggal di apartemenmu?
Uruha : Memang ada apa dengan apartemenmu?
Kai : (dengan senyuman) Umm... apartemenku sudah dihuni orang lain
Uruha : Hah? Apa maksudmu?
Kai : Umm... begini, sebenarnya aku sudah nunggak pembayaran sewa apartemen selama tiga bulan. (tertawa kecil)
Uruha : Nani? Tiga bulan? (agak marah) Ya ampun, Kaichan! Bukannya kemarin kau baru dapat uang? Kenapa untuk bayar sewa saja kau tak bisa? Kemarin kan uangmu lebih kalau hanya untuk bayar sewa selama tiga bulan.
Kai : (memasang wajah melas) Maaf, Uruchan! Tapi uangku baru dirampok oleh orang waktu aku mau membayar sewa.
Uruha : Ya sudah. Kau boleh tidur di sini untuk sementara sampai kau punya uang untuk sewa apartemen baru.
Kai : (senyum gembira) Hontou ka? Arigatou na Uruchan!! (mencium pipi Uruha dan langsung mengangkat kopernya)
Uruha : (sambil membantu Kai) Nee... Kaichan! Sebenarnya aku senang kau bisa tinggal di sini bersamaku. Jadi aku bisa punya teman untuk berbicara jika ada waktu senggang.
Kai : (menatap Uruha dan terseyum) Aku juga senang kau memperbolehkan aku tinggal di sini. (wajah memuram) Habisnya, tadi aku sudah ke apartemen Aoi, Reita, dan Ruki. Tapi mereka mengusirku dan ngomel-ngomel. Kau memang teman yang baik, Uruchan. (tersenyum kembali)
Uruha : (wajahnya tersenyum) Oia, aku ada janji dengan Reita dan Ruki. Apa kau mau ikut?
Kai : Ah... tidak usah. Aku di sini saja. Lagipula aku harus menata barang-barangku dulu.
Uruha : Sou ka? Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa kabari aku.
Kai : (mengangguk)
Uruha : (menyalami Reita dan Ruki) Yow!
Reita : Yosh!
Ruki : Konbanwa!
Uruha : (duduk di sebelah Ruki) Aku ada sedikit kabar
Ruki : Kabar apa?
Uruha : Kabar bahwa ada penghuni baru di apartemenku
Reita : Nani? Penghuni apa maksudmu? Hantu?
Uruha : Bukan. Kai.
Reita : Nee? Kai? Apa maksudmu?
Uruha : Baka! Jangan berlagak kalian tak tahu soal Kai. Kalian tadi juga mengusirnya dari apartemen kalian kan?
Reita : Aaa... Wakatta! Ternyata Kai sekarang tinggal di apartemenmu?
Ruki : Sugoi! Jadi kau tak kesepian lagi kan? Ada teman yang bisa menjagamu sekarang. (tertawa setan)
Uruha : Diam kau! Memang aku akui aku senang ada teman buatku. Tapi aku tak tahu karakter Kai. Dia kan baru di kelompok kita.
Ruki : Kau kan bisa sekalian menjalin persahabatan dengannya. Ya kan?
Reita : (mengangguk) Oh! Benar kata Ruki.
Uruha : Yosh! Tapi aku lihat Kai adalah anak yang manis. Dia sangat ramah dan murah senyum. (sambil tersenyum)
Reita : Nee... Uruha. Sepertinya kau mulai menyukai Kai pada pandangan pertama. (tersenyum mengejek)
Uruha : Gila kau! Aku tak percaya cinta pada pandangan pertama.
Ruki : Hahaha... tapi kau jangan lupakan temanmu. Aoi.
Uruha : Memang ada apa dengan Aoi?
Reita : Uruha, apakah kau tak tahu cerita Aoi adalah pacar Kai?
Uruha : Eee? Nani? Hontou ka?
Ruki : (tertawa mengejek Uruha) Nee... Uruha, kau pikir siapa yang mengenal Kai lebih dulu?
Reita : Aoi.
Ruki : Siapa yang mengajak Kai bergabung?
Reita : Aoi.
Ruki : Dan kau juga ingat tidak waktu dia mengatakan dia menyukai seseorang? Dia menyukai Kai. Aoi sangat menyukai bahkan mencintai Kai.
Reita : Yosh! Itu benar. Waktu Aoi bingung mencarikan obat demam, itu semua untuk Kai.
Uruha : Sou ka? Tapi kenapa Aoi tidak menerima Kai di tempatnya? Bukannya Aoi mencintai Kai?
Ruki : (tampang terkejut) Sou ka? Kenapa aku tak tahu soal itu?
Reita : (juga terkejut) Aku juga baru tahu hal itu.
Uruha : Tapi itulah kenyataannya.
Reita : Nee... Aoi, aku dengar Kai menginap di tempat Uruha untuk beberapa hari.
Aoi : (tampang cuek) Sou ka?
Reita : Sepertinya ada yang aneh denganmu. Apa kau sakit?
Aoi : Iie. Aku baik-baik saja.
Reita : Lalu kenapa kau cuek terhadap Kai? Kau tidak menampung Kai di tempatmu padahal tempatmu ini lumayan besar daripada tempat Uruha.
Aoi : Kau mau tahu? Kai selingkuh di belakangku.
Reita : Nani? Selingkuh? Dari mana kau tahu?
Aoi : YA PASTINYA AKU TAHU! AKU MELIHAT DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI! DIA BERGANDENGAN TANGAN DAN BERMESRAAN DENGAN MIYAVI!
Reita : Hah? Dengan adikmu sendiri? Lalu kau tidak bertanya pada Kai alasannya?
Aoi : Iie. Buat apa aku bertanya. Itu semua sudah jelas. Sudahlah! Jangan bertanya atau mengungkit-ungkit tentang Kai!
Reita : Ya sudah. Aku mau pergi dulu. Ada janji dengan Kaoru dan Natsu. Jaa na!
Aoi : Yosh!
Ah... jadi bete aku di sini terus menerus. Sial! Rokok juga habis!
Kai : Yosh! Sudah sampai di tempat Aoi. Dia pasti suka aku datang dengan membawa kue kesukaannya.
Aoi : (dari kejauhan) Kai? Ada apa dia masih mencariku? (mendekati Kai)
Kai! Ada apa kau di tempatku? Kita sudah berakhir! Kau ingat itu?
Kai : (terkejut) Aoichan! Apa maksudmu? Kenapa kau begitu denganku? Apa salahku?
Aoi : Apa salahmu? Masuk kau! (Aoi mencengkeram kerah baju Kai dan menyeretnya ke dalam apartemennya)
Kai : Aoi! Lepaskan! Sakit!
Aoi : Kau mau tahu apa salahmu? OK! APA KAU INGAT KAU PULANG BERSAMA MIYAVI DAN KAU BERMESRAAN DENGANNYA! KAU SELINGKUH DENGAN MIYAVI! AKU SAKIT HATI!
Kai : Apa maksudmu? Aku tak pernah bermesraan dengan Miyavi.
Aoi : OH! KAU TAK INGAT? ITU TERJADI SATU HARI SETELAH KAU BERULANG TAHUN! KAU PIKIR AKU TAK MELIHATMU?
Kai : Waktu itu.... Aku bisa menjelaskan padamu. Aku tidak selingkuh dengan Miyavi. Kau salah!
Aoi : (agak tenang) Tak perlu! Kau tak perlu susah payah berbohong padaku!
Kai : Nani? Berbohong? Aku tak bohong! Waktu itu Miyavi sedang mabuk dan aku membantunya pulang. Tak lebih. Dia memelukku karena dia tak kuat untuk berdiri.kau jangan cemburu, Aoichan!
Aoi : Apa benar itu semua? Kau tak bohong kan?
Kai : Memangnya aku pernah bohong padamu? Mana mungkin aku bohong pada orang yang aku cintai?
Aoi : (melepaskan cengkeramannya dan memeluk lalu mencium Kai)
Uruha : (melihat dari pintu apartemen Aoi dan terkejut. Lalu pergi meninggalkan apartemen Aoi)
Uruha : Doushite? Doushite? Kenapa aku harus lari dan menangis? Aku kan tidak mungkin cemburu dengan mereka. Aku kan tidak menyukai Kai. Aku baru mengenal Kai. Tak mungkin perasaan suka bisa datang secepat itu. Tapi apa mungkin yang dikatakan Reita dan Ruki? Apa aku mengalami yang disebut cinta pada pandangan pertama? Uso dake! Tidak mungkin! TIDAAAAKKKK!!!! Tapi senyumnya sangat manis. Dia lembut, baik, aku tak bisa melupakannya.
Uruha : Nee... Reita. Ajari aku caranya merebut kekasih orang.
Reita : Hah? Aku tak salah dengar? Memang kau mau merebut siapa dari siapa?
Uruha : Kai
Reita : Nani? Jadi kau benar-benar suka dengan Kai? Rasanya aku benar-benar salah dengar.
Uruha : (tiba-tiba menoleh ke arah Reita dan mencengkeram kerah Reita) Aku tidak main-main! (melepaskan cengkeramannya dan mengambil botol bir)
Reita : OK! OK! Gomen na! Demo, apa kau tidak takut dengan Aoi? Kau bisa dihajar habis-habisan. Kau tahu sendiri Aoi orang yang seperti apa.
Uruha : Wakatta. Aku juga tahu akibatnya aku bisa saja mati di tangan Aoi dan mungkin saja grup kita akan bubar.
Reita : Apa kau benar-benar menyukai Kai?
Uruha : Entahlah. Tapi aku saat ini selalu memikirkan Kai. Kemarin aku pergi ke tempat Aoi. Dan kau tahu apa yang aku lihat?
Reita : Apa ?
Uruha : Mereka berpelukan dan Aoi mencium Kai. Kai sepertinya menikmati ciuman yang diberika Aoi. Kuso!!
Reita : Akhirnya mereka berbaikan.
Uruha : Reita.... tolong aku! Aku harus berbuat apa sekarang?
Reita : Gomen na, Uruha. Aku tak tahu menahu tentang cinta. Yang aku tahu adalah bermain. Mungkin kau bisa bertanya pada Ruki.
Uruha : Jadi kau tak bisa membantuku? Kau tak bisa membantu apalagi Ruki. Ruki tak pernah punya pacar. Dia juga tak pernah menyukai laki-laki maupun perempuan. Ya sudah lah. Aku pergi dulu. Jaa na!
Reita : Jaa na! Kau mau ke mana? Natsu sebentar lagi datang. Katanya kau mau berkenalan dengannya?
Uruha : Kapan-kapan saja kalau masalahku ini sudah selesai.
Kai : Uruchan! Apa kau ada di dalam? (Kai memanggil-manggil Uruha sambil mencarinya di semua ruangan di apartemen Uruha.
Uruha : (berdiri di depan pintu apartemen) Nande Kaichan?
Kai : Oh! Akhirnya aku menemukanmu. Etoo... aku mau mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah memperbolehkan aku tinggal di sini untuk beberapa hari. Doumo arigatou gozaimasu!
Uruha : Douitashimashite. Kenapa kau bilang seperti itu? Seperti kau ingin pergi dari sini saja.
Kai : (tersenyum kaku) Umm... sebenarnya memang aku mau pergi dari sini. Karena aku sudah mendapatkan apartemen yang baru.
Uruha : Hontou ka? Di mana apartemenmu?
Kai : Di sebelah apartemen Aoichan. (sambil tersenyum)
Uruha : (sangat terkejut) Hah? Umm... Oh! Di sebelah Aoi ya? Kapan kau akan pindah?
Kai : Sekarang.
Uruha : Hah? Sekarang? Kenapa begitu cepat?
Kai : (tersenyum kecil) Umm... mungkin Uruchan sudah mendengar bahwa aku adalah pacar Aoi. Kemarin aku sempat bertengkar dengannya. Tapi aku sudah berbaikan lagi dengannya. Dan Aoi menyarankan supaya aku pindah di sebelah apartemennya yang mumpung kosong.
Uruha : Oh! Baguslah kau sudah mendapatkan apartemen yang baru. Di sebelah ornag yang kau cintai pula. Tapi aku pasti akan kesepian jika kau tidak tinggal di sini lagi. Beberapa hari bersamamu di sini membuat aku merasa bahagia. Aku merasa damai begitu aku pulang dan melihat kau tersenyum. Kai, apa kau benar-benar mau pergi dari sini?
Kai : Gomen na, Uruchan. Aku akan tetap pergi dari sini karena aku tidak mau menyusahkanmu terlalu lama. Saa... itekimasu! Sayounara, Uruchan! (berjalan menuju pintu depan)
Uruha : Kai! (berlari menuju Kai dan memeluk Kai dari belakang) Kai kumohon jangan tinggalkan aku! Aku tak mau sendirian! Aku mencintaimu!
Kai : (ingin menghindar dari pelukan Uruha namun tak bisa. Kai hanya bisa terdiam)
Uruha : Kumohon Kai! Jangan tinggalkan aku!
Aoi : (melihat kejadian tersebut dan langsung mendatangi Uruha. Melepaskan Kai dari Uruha dan memukul Uruha) LEPASKAN KAICHAN!! KAU TAK AKAN MUNGKIN BISA BERSAMA KAICHAN! DIA MILIKKU! BERANI-BERANINYA KAU SENTUH KAICHANKU!
Uruha : (sangat terkejut) Tu...tu... tunggu Aoi! Aku bisa menjelaskannya padamu!
Aoi : APA YANG INGIN KAU JELASKAN? APA KAU INGIN MENJELASKAN KAICHAN YANG MEMULAI? KAICHAN YANG MENGGODAMU?
Uruha : Bu... bu... (hantaman dari Aoi mendarat di perutnya) Ittai!!
Aoi : Sekali lagi kau berani menyentuh Kaichan, kau akan keluar dari grup dan akan pergi dari dunia ini! Awas kau! Ayo pergi, Kaichan! (menggandeng Kai dengan agak kasar)
Uruha : KUSO!!! (meninju tembok apartemennya)
Ruki : Aduh Uruha! Kenapa kau bisa melakukan itu pada Aoi? Dia adalah teman kita. Tak sepantasnya kau mengkhianatinya seperti ini.
Uruha : Aku tidak mengkhianati siapapun. Aku hanya ingin mengejar cintaku.
Reita : Tapi kau kan sudah tahu bahwa Kai adalah pacar Aoi.
Uruha : DIAM KAU!
Ruki : Ikhlaskan saja Kai dengan Aoi. Biarkan mereka hidup bahagia. Umm... aku punya solusi. Bagaimana kalau kau denganku saja?
Uruha : Hah? Aku tidak gila! Aku tidak mencintaimu. Aku hanya cinta dengan Kai!
Ruki : Ya sudahlah. Lagipula aku tidak menyukaimu. Khu khu khu... Begini saja, bagaimana jika kita tanyakan saja pada Kai siapa yang akan dia pilih. Karena cinta itu tak harus memiliki. Tapi, kau juga harus menghargai semua pilihan Kai. Jika dia memilih Aoi, kau harus relakan dia.
Kai : (tiba-tiba muncul di depan apartemen Uruha) Aku memilih Aoi!
Uruha, Reita, dan Ruki : (terkejut melihat kedatangan Kai)
Kai : Maafkan aku, Uruchan! Tapi aku tak mau kau dan Aoi bermusuhan dan grup ini bubar. Umm... Ruki, Reita, maafkan aku juga karena aku membuat keadaan seperti ini.
Ruki dan reita : Oh! Daijoubu.
Kai : Jadi, Uruchan. Terima kasih kau telah mencintaiku. Aku sungguh senang sekali bisa dapat cinta darimu. Demo, hontou ni gomen nasai!
Uruha : Oh! Daijoubu! Seperti yang dikatakan Ruki, aku harus ikhlas atas semua pilihanmu. Jadi, aku biarkan kau bersama Aoi. Tapi jika Aoi berani menyakitimu, aku tak akan tinggal diam.
Kai : (tersenyum dan memeluk Uruha)
Uruha : Oia, mana Aoi?
Aoi : Aku di sini. (dia terlihat di balik pintu apartemen Uruha)
Uruha : Kau dengar apa kata-kataku barusan?
Aoi : Yosh! Aku dengar
Uruha : Ingat itu baik-baik! Awas jika kau menyakiti Kaichan! Kau pasti yang akan pergi dari dunia ini. Nee... Aoi, gomen nasai! Maafkan aku atas semuanya.
Aoi : Yosh! Aku maafkan kau! (tersenyum dan memeluk Uruha)
Ruki, Reita, dan Kai berkumpul bersama Uruha dan Aoi. Dan mereka saling berpelukan.
===OWARI===
Chapter: oneshot
Pairing: UruhaxKai
Rating: PG
Ting... tong! Bel apartemen Uruha terdengar dipencet oleh seseorang. Uruha pun bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Saat membuka pintu, Uruha pun terkejut. Ternyata yang datang adalah Kai dengan dua koper besar di sampingnya.
Kai : (dengan memasang senyum di wajahnya) Hai Uruchan!
Uruha : Sedang apa kau malam-malam ke sini dengan dua koper itu?
Kai : Maaf, Uruchan. Malam-malam begini aku mengganggumu. Ano... apa boleh aku untuk sementara tinggal di apartemenmu?
Uruha : Memang ada apa dengan apartemenmu?
Kai : (dengan senyuman) Umm... apartemenku sudah dihuni orang lain
Uruha : Hah? Apa maksudmu?
Kai : Umm... begini, sebenarnya aku sudah nunggak pembayaran sewa apartemen selama tiga bulan. (tertawa kecil)
Uruha : Nani? Tiga bulan? (agak marah) Ya ampun, Kaichan! Bukannya kemarin kau baru dapat uang? Kenapa untuk bayar sewa saja kau tak bisa? Kemarin kan uangmu lebih kalau hanya untuk bayar sewa selama tiga bulan.
Kai : (memasang wajah melas) Maaf, Uruchan! Tapi uangku baru dirampok oleh orang waktu aku mau membayar sewa.
Uruha : Ya sudah. Kau boleh tidur di sini untuk sementara sampai kau punya uang untuk sewa apartemen baru.
Kai : (senyum gembira) Hontou ka? Arigatou na Uruchan!! (mencium pipi Uruha dan langsung mengangkat kopernya)
Uruha : (sambil membantu Kai) Nee... Kaichan! Sebenarnya aku senang kau bisa tinggal di sini bersamaku. Jadi aku bisa punya teman untuk berbicara jika ada waktu senggang.
Kai : (menatap Uruha dan terseyum) Aku juga senang kau memperbolehkan aku tinggal di sini. (wajah memuram) Habisnya, tadi aku sudah ke apartemen Aoi, Reita, dan Ruki. Tapi mereka mengusirku dan ngomel-ngomel. Kau memang teman yang baik, Uruchan. (tersenyum kembali)
Uruha : (wajahnya tersenyum) Oia, aku ada janji dengan Reita dan Ruki. Apa kau mau ikut?
Kai : Ah... tidak usah. Aku di sini saja. Lagipula aku harus menata barang-barangku dulu.
Uruha : Sou ka? Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa kabari aku.
Kai : (mengangguk)
Uruha : (menyalami Reita dan Ruki) Yow!
Reita : Yosh!
Ruki : Konbanwa!
Uruha : (duduk di sebelah Ruki) Aku ada sedikit kabar
Ruki : Kabar apa?
Uruha : Kabar bahwa ada penghuni baru di apartemenku
Reita : Nani? Penghuni apa maksudmu? Hantu?
Uruha : Bukan. Kai.
Reita : Nee? Kai? Apa maksudmu?
Uruha : Baka! Jangan berlagak kalian tak tahu soal Kai. Kalian tadi juga mengusirnya dari apartemen kalian kan?
Reita : Aaa... Wakatta! Ternyata Kai sekarang tinggal di apartemenmu?
Ruki : Sugoi! Jadi kau tak kesepian lagi kan? Ada teman yang bisa menjagamu sekarang. (tertawa setan)
Uruha : Diam kau! Memang aku akui aku senang ada teman buatku. Tapi aku tak tahu karakter Kai. Dia kan baru di kelompok kita.
Ruki : Kau kan bisa sekalian menjalin persahabatan dengannya. Ya kan?
Reita : (mengangguk) Oh! Benar kata Ruki.
Uruha : Yosh! Tapi aku lihat Kai adalah anak yang manis. Dia sangat ramah dan murah senyum. (sambil tersenyum)
Reita : Nee... Uruha. Sepertinya kau mulai menyukai Kai pada pandangan pertama. (tersenyum mengejek)
Uruha : Gila kau! Aku tak percaya cinta pada pandangan pertama.
Ruki : Hahaha... tapi kau jangan lupakan temanmu. Aoi.
Uruha : Memang ada apa dengan Aoi?
Reita : Uruha, apakah kau tak tahu cerita Aoi adalah pacar Kai?
Uruha : Eee? Nani? Hontou ka?
Ruki : (tertawa mengejek Uruha) Nee... Uruha, kau pikir siapa yang mengenal Kai lebih dulu?
Reita : Aoi.
Ruki : Siapa yang mengajak Kai bergabung?
Reita : Aoi.
Ruki : Dan kau juga ingat tidak waktu dia mengatakan dia menyukai seseorang? Dia menyukai Kai. Aoi sangat menyukai bahkan mencintai Kai.
Reita : Yosh! Itu benar. Waktu Aoi bingung mencarikan obat demam, itu semua untuk Kai.
Uruha : Sou ka? Tapi kenapa Aoi tidak menerima Kai di tempatnya? Bukannya Aoi mencintai Kai?
Ruki : (tampang terkejut) Sou ka? Kenapa aku tak tahu soal itu?
Reita : (juga terkejut) Aku juga baru tahu hal itu.
Uruha : Tapi itulah kenyataannya.
Reita : Nee... Aoi, aku dengar Kai menginap di tempat Uruha untuk beberapa hari.
Aoi : (tampang cuek) Sou ka?
Reita : Sepertinya ada yang aneh denganmu. Apa kau sakit?
Aoi : Iie. Aku baik-baik saja.
Reita : Lalu kenapa kau cuek terhadap Kai? Kau tidak menampung Kai di tempatmu padahal tempatmu ini lumayan besar daripada tempat Uruha.
Aoi : Kau mau tahu? Kai selingkuh di belakangku.
Reita : Nani? Selingkuh? Dari mana kau tahu?
Aoi : YA PASTINYA AKU TAHU! AKU MELIHAT DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI! DIA BERGANDENGAN TANGAN DAN BERMESRAAN DENGAN MIYAVI!
Reita : Hah? Dengan adikmu sendiri? Lalu kau tidak bertanya pada Kai alasannya?
Aoi : Iie. Buat apa aku bertanya. Itu semua sudah jelas. Sudahlah! Jangan bertanya atau mengungkit-ungkit tentang Kai!
Reita : Ya sudah. Aku mau pergi dulu. Ada janji dengan Kaoru dan Natsu. Jaa na!
Aoi : Yosh!
Ah... jadi bete aku di sini terus menerus. Sial! Rokok juga habis!
Kai : Yosh! Sudah sampai di tempat Aoi. Dia pasti suka aku datang dengan membawa kue kesukaannya.
Aoi : (dari kejauhan) Kai? Ada apa dia masih mencariku? (mendekati Kai)
Kai! Ada apa kau di tempatku? Kita sudah berakhir! Kau ingat itu?
Kai : (terkejut) Aoichan! Apa maksudmu? Kenapa kau begitu denganku? Apa salahku?
Aoi : Apa salahmu? Masuk kau! (Aoi mencengkeram kerah baju Kai dan menyeretnya ke dalam apartemennya)
Kai : Aoi! Lepaskan! Sakit!
Aoi : Kau mau tahu apa salahmu? OK! APA KAU INGAT KAU PULANG BERSAMA MIYAVI DAN KAU BERMESRAAN DENGANNYA! KAU SELINGKUH DENGAN MIYAVI! AKU SAKIT HATI!
Kai : Apa maksudmu? Aku tak pernah bermesraan dengan Miyavi.
Aoi : OH! KAU TAK INGAT? ITU TERJADI SATU HARI SETELAH KAU BERULANG TAHUN! KAU PIKIR AKU TAK MELIHATMU?
Kai : Waktu itu.... Aku bisa menjelaskan padamu. Aku tidak selingkuh dengan Miyavi. Kau salah!
Aoi : (agak tenang) Tak perlu! Kau tak perlu susah payah berbohong padaku!
Kai : Nani? Berbohong? Aku tak bohong! Waktu itu Miyavi sedang mabuk dan aku membantunya pulang. Tak lebih. Dia memelukku karena dia tak kuat untuk berdiri.kau jangan cemburu, Aoichan!
Aoi : Apa benar itu semua? Kau tak bohong kan?
Kai : Memangnya aku pernah bohong padamu? Mana mungkin aku bohong pada orang yang aku cintai?
Aoi : (melepaskan cengkeramannya dan memeluk lalu mencium Kai)
Uruha : (melihat dari pintu apartemen Aoi dan terkejut. Lalu pergi meninggalkan apartemen Aoi)
Uruha : Doushite? Doushite? Kenapa aku harus lari dan menangis? Aku kan tidak mungkin cemburu dengan mereka. Aku kan tidak menyukai Kai. Aku baru mengenal Kai. Tak mungkin perasaan suka bisa datang secepat itu. Tapi apa mungkin yang dikatakan Reita dan Ruki? Apa aku mengalami yang disebut cinta pada pandangan pertama? Uso dake! Tidak mungkin! TIDAAAAKKKK!!!! Tapi senyumnya sangat manis. Dia lembut, baik, aku tak bisa melupakannya.
Uruha : Nee... Reita. Ajari aku caranya merebut kekasih orang.
Reita : Hah? Aku tak salah dengar? Memang kau mau merebut siapa dari siapa?
Uruha : Kai
Reita : Nani? Jadi kau benar-benar suka dengan Kai? Rasanya aku benar-benar salah dengar.
Uruha : (tiba-tiba menoleh ke arah Reita dan mencengkeram kerah Reita) Aku tidak main-main! (melepaskan cengkeramannya dan mengambil botol bir)
Reita : OK! OK! Gomen na! Demo, apa kau tidak takut dengan Aoi? Kau bisa dihajar habis-habisan. Kau tahu sendiri Aoi orang yang seperti apa.
Uruha : Wakatta. Aku juga tahu akibatnya aku bisa saja mati di tangan Aoi dan mungkin saja grup kita akan bubar.
Reita : Apa kau benar-benar menyukai Kai?
Uruha : Entahlah. Tapi aku saat ini selalu memikirkan Kai. Kemarin aku pergi ke tempat Aoi. Dan kau tahu apa yang aku lihat?
Reita : Apa ?
Uruha : Mereka berpelukan dan Aoi mencium Kai. Kai sepertinya menikmati ciuman yang diberika Aoi. Kuso!!
Reita : Akhirnya mereka berbaikan.
Uruha : Reita.... tolong aku! Aku harus berbuat apa sekarang?
Reita : Gomen na, Uruha. Aku tak tahu menahu tentang cinta. Yang aku tahu adalah bermain. Mungkin kau bisa bertanya pada Ruki.
Uruha : Jadi kau tak bisa membantuku? Kau tak bisa membantu apalagi Ruki. Ruki tak pernah punya pacar. Dia juga tak pernah menyukai laki-laki maupun perempuan. Ya sudah lah. Aku pergi dulu. Jaa na!
Reita : Jaa na! Kau mau ke mana? Natsu sebentar lagi datang. Katanya kau mau berkenalan dengannya?
Uruha : Kapan-kapan saja kalau masalahku ini sudah selesai.
Kai : Uruchan! Apa kau ada di dalam? (Kai memanggil-manggil Uruha sambil mencarinya di semua ruangan di apartemen Uruha.
Uruha : (berdiri di depan pintu apartemen) Nande Kaichan?
Kai : Oh! Akhirnya aku menemukanmu. Etoo... aku mau mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah memperbolehkan aku tinggal di sini untuk beberapa hari. Doumo arigatou gozaimasu!
Uruha : Douitashimashite. Kenapa kau bilang seperti itu? Seperti kau ingin pergi dari sini saja.
Kai : (tersenyum kaku) Umm... sebenarnya memang aku mau pergi dari sini. Karena aku sudah mendapatkan apartemen yang baru.
Uruha : Hontou ka? Di mana apartemenmu?
Kai : Di sebelah apartemen Aoichan. (sambil tersenyum)
Uruha : (sangat terkejut) Hah? Umm... Oh! Di sebelah Aoi ya? Kapan kau akan pindah?
Kai : Sekarang.
Uruha : Hah? Sekarang? Kenapa begitu cepat?
Kai : (tersenyum kecil) Umm... mungkin Uruchan sudah mendengar bahwa aku adalah pacar Aoi. Kemarin aku sempat bertengkar dengannya. Tapi aku sudah berbaikan lagi dengannya. Dan Aoi menyarankan supaya aku pindah di sebelah apartemennya yang mumpung kosong.
Uruha : Oh! Baguslah kau sudah mendapatkan apartemen yang baru. Di sebelah ornag yang kau cintai pula. Tapi aku pasti akan kesepian jika kau tidak tinggal di sini lagi. Beberapa hari bersamamu di sini membuat aku merasa bahagia. Aku merasa damai begitu aku pulang dan melihat kau tersenyum. Kai, apa kau benar-benar mau pergi dari sini?
Kai : Gomen na, Uruchan. Aku akan tetap pergi dari sini karena aku tidak mau menyusahkanmu terlalu lama. Saa... itekimasu! Sayounara, Uruchan! (berjalan menuju pintu depan)
Uruha : Kai! (berlari menuju Kai dan memeluk Kai dari belakang) Kai kumohon jangan tinggalkan aku! Aku tak mau sendirian! Aku mencintaimu!
Kai : (ingin menghindar dari pelukan Uruha namun tak bisa. Kai hanya bisa terdiam)
Uruha : Kumohon Kai! Jangan tinggalkan aku!
Aoi : (melihat kejadian tersebut dan langsung mendatangi Uruha. Melepaskan Kai dari Uruha dan memukul Uruha) LEPASKAN KAICHAN!! KAU TAK AKAN MUNGKIN BISA BERSAMA KAICHAN! DIA MILIKKU! BERANI-BERANINYA KAU SENTUH KAICHANKU!
Uruha : (sangat terkejut) Tu...tu... tunggu Aoi! Aku bisa menjelaskannya padamu!
Aoi : APA YANG INGIN KAU JELASKAN? APA KAU INGIN MENJELASKAN KAICHAN YANG MEMULAI? KAICHAN YANG MENGGODAMU?
Uruha : Bu... bu... (hantaman dari Aoi mendarat di perutnya) Ittai!!
Aoi : Sekali lagi kau berani menyentuh Kaichan, kau akan keluar dari grup dan akan pergi dari dunia ini! Awas kau! Ayo pergi, Kaichan! (menggandeng Kai dengan agak kasar)
Uruha : KUSO!!! (meninju tembok apartemennya)
Ruki : Aduh Uruha! Kenapa kau bisa melakukan itu pada Aoi? Dia adalah teman kita. Tak sepantasnya kau mengkhianatinya seperti ini.
Uruha : Aku tidak mengkhianati siapapun. Aku hanya ingin mengejar cintaku.
Reita : Tapi kau kan sudah tahu bahwa Kai adalah pacar Aoi.
Uruha : DIAM KAU!
Ruki : Ikhlaskan saja Kai dengan Aoi. Biarkan mereka hidup bahagia. Umm... aku punya solusi. Bagaimana kalau kau denganku saja?
Uruha : Hah? Aku tidak gila! Aku tidak mencintaimu. Aku hanya cinta dengan Kai!
Ruki : Ya sudahlah. Lagipula aku tidak menyukaimu. Khu khu khu... Begini saja, bagaimana jika kita tanyakan saja pada Kai siapa yang akan dia pilih. Karena cinta itu tak harus memiliki. Tapi, kau juga harus menghargai semua pilihan Kai. Jika dia memilih Aoi, kau harus relakan dia.
Kai : (tiba-tiba muncul di depan apartemen Uruha) Aku memilih Aoi!
Uruha, Reita, dan Ruki : (terkejut melihat kedatangan Kai)
Kai : Maafkan aku, Uruchan! Tapi aku tak mau kau dan Aoi bermusuhan dan grup ini bubar. Umm... Ruki, Reita, maafkan aku juga karena aku membuat keadaan seperti ini.
Ruki dan reita : Oh! Daijoubu.
Kai : Jadi, Uruchan. Terima kasih kau telah mencintaiku. Aku sungguh senang sekali bisa dapat cinta darimu. Demo, hontou ni gomen nasai!
Uruha : Oh! Daijoubu! Seperti yang dikatakan Ruki, aku harus ikhlas atas semua pilihanmu. Jadi, aku biarkan kau bersama Aoi. Tapi jika Aoi berani menyakitimu, aku tak akan tinggal diam.
Kai : (tersenyum dan memeluk Uruha)
Uruha : Oia, mana Aoi?
Aoi : Aku di sini. (dia terlihat di balik pintu apartemen Uruha)
Uruha : Kau dengar apa kata-kataku barusan?
Aoi : Yosh! Aku dengar
Uruha : Ingat itu baik-baik! Awas jika kau menyakiti Kaichan! Kau pasti yang akan pergi dari dunia ini. Nee... Aoi, gomen nasai! Maafkan aku atas semuanya.
Aoi : Yosh! Aku maafkan kau! (tersenyum dan memeluk Uruha)
Ruki, Reita, dan Kai berkumpul bersama Uruha dan Aoi. Dan mereka saling berpelukan.
===OWARI===
Langganan:
Postingan (Atom)