Senin, 15 Februari 2010

The love from a dead orchestra 1/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 1/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

“Kami-chan, bagaimana jika aku beli yang ini saja?”

“Hmm… Bagaimana kalau yang ini saja? Suaranya lebih bagus yang ini,”

“Sou ka? Baiklah aku ambil yang ini. Arigatou, Kami-chan!”

Kata-katanya itu teringat jelas saat aku melintasi toko alat musik yang dulu pernah kami kunjungi berdua. Masih kuingat tawanya saat itu. Sekarang tawa dan senyumnya tak akan pernah ada di depan mataku. Dia telah meninggalkan aku untuk selamanya. You-chan…

+++

“Kami-kun, kau tak apa-apa? Aku lihat kau selalu tidak bersemangat akhir-akhir ini semenjak You-san meninggalkan kita,” Hizaki menghampiriku.

“Oh… Iie. Aku baik-baik saja,” jawabku. “Memang tidak mudah melupakan orang yang yang kita sayangi dan kita cintai. Dan entah kenapa aku seperti kehilangan jiwaku saat aku tahu dia meninggal. Rasanya dia sangat jahat telah meninggalkan aku sendiri di sini.”

“Hmm… Ya memang semua ini sangat berat bagimu. Tapi aku juga tidak bisa diam saja saat melihatmu seperti ini. Ingat, kau masih memiliki Versailles dan penggemar-penggemarmu di luar sana. Bukannya aku menyuruhmu untuk melupakan You-san, tapi jangan terus larut dalam kesedihan. Aku juga sedih ditinggal oleh You-san, tapi aku berusaha untuk bangkit kembali. Berikan senyuman terbaikmu untuk kita yang masih ada untuk mendukungmu. Ne!” kata Hizaki memberikan sedikit pencerahan.

“Gomen, Hizaki-kun! Aku akan berusaha untuk tidak bersedih lagi. Arigatou na!” kataku.

“Yosh! Douita shimashite, Kami-kun! Dan aku yakin You-san tidak ingin melihatmu selalu bersedih seperti ini,” katanya. “Oh ya, aku akan pindah apartemen besok. Apa kau mau membantuku?”

“Kau pindah? Ke mana?” tanyaku dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Hizaki. “Hmm… Baiklah. Aku akan membantumu. Mumpung aku besok tidak ada kerjaan.”

“Baiklah. Aku tunggu kau jam 8 pagi di apartemenku,” kata Hizaki dan dia langsung pergi meninggalkanku.

Aku menginat kembali apa yang tadi dikatakan oleh Hizaki. Setelah aku pikirkan, mungkin ada benarnya juga kata-katanya. Aku tidak boleh bersedih terus seperti ini. Aku harus bias bangkit dari kesedihan ini dan kembali bersama Versailles untuk menghibur penggemarku. Dan setelah aku piker-pikir, Hizaki adalah satu-satunya orang yang selalu berusaha untuk memberiku semangat semenjak kepergian You-chan. Gomen, You-chan. Bukannya aku ingin melupakanmu. Kau akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Karena kau adalah cinta abadiku.

Keesokan paginya, aku bersiap-siap untuk membantu Hizaki untuk memindahkan barang-barangnya ke apartemennya yang baru. Tapi entah di mana letak apartemennya yang baru.

Aku keluar dari apartemenku menuju tempat parkir. Aku mengendarai mobilku dan langsung menuju ke tempat Hizaki.

Setelah aku sampai di tempat Hizaki, aku segera menghampirinya. Dan ternyata di sana ada Yuki dan Teru yang ikut membantu.

“Ah! Kami-kun! Ternyata kau juga. Gomen aku telah merepotkanmu hari ini,” kata Hizaki.

“Iie. Kau tidak merepotkanku. Kita adalah teman. Sudah sepatutnya untuk saling menolong. Oh ya, apa yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Tolong angkat kotak di sebelah sofaku itu ke dalam mobil box di depan. Aku akan membantu Teru-san,” katanya. Aku langsung melakukan apa yang dikatakannya. Dan tak lupa aku menyapa kedua temanku yang lainnya. Dengan membantu Hizaki, aku sedikit melupakan kesedihanku tentang You-chan. Gomen ne, You-chan.

Setelah beberapa jam membantu mengemasi barang-barang Hizaki, aku bersama Hizaki ke dalam mobilku untuk berangkat ke apartemen Hizaki yang baru.

“Hizaki-kun, sebenarnya di mana letak apartemenmu yang baru?” tanyaku.

“Tenang saja. Kau pasti akan tahu. Baiklah, kalau begitu, biar aku saja yang mengendarai mobilmu. Bagaimana?” katanya sambil tersenyum padaku. Dan aku menyetujuinya.

Setelah beberapa menit kami berada di dalam mobil, akhirnya Hizaki menghentikan mobilku. Dan setelah aku melihat ke luar, aku terkejut melihat apartemen barunya.

“Chotto Matte, Hizaki-kun! Bukankah ini apartemenku? Kenapa kau berhenti di sini?” tanyaku penasaran.

“Hahaha… Ne, Kami-kun, di sinilah aku akan tinggal nantinya. Inilah apartemen baruku,” jawabnya sambil tertawa melihat kekagetanku. “Sekarang bantu aku merapikan apartemen baruku, ne?”

Aku dan Hizaki turun dari mobil dan segera menuju ke mobil box lalu menurunkan barang-barang Hizaki. Aku berpikir, ada baiknya juga Hizaki tinggal di apartemen yang sama denganku. Setidaknya aku bisa lebih sering sharing dengannya tentang Versailles dan juga masalah pribadiku.

“Ano… Hizaki-kun, kamar mana yang akan kau tinggali?” tanyaku.

“Hmm… Tidak jauh dari tempatmu. Kita satu lantai dan juga kita bertetangga,” jawabnya sambil tersenyum.

“Eee… Sou ka? Yokatta! Kalau begitu bagus lah. Aku akan sering-sering mampir ke tempatmu,” kataku.

“Baiklah. Pintuku akan selalu aku buka untukmu,” Hizaki tersenyum kembali.

+++

“Ohayou gozaimasu, Kami-kun!” sapa Hizaki yang sudah berada di depan mataku saat aku bangun tidur.

“Ah! Hizaki-kun, kenapa kau ada di kamarku?” tanyaku yang terkejut melihatnya. Namun dia hanya tersenyum manis.

“Kau pasti lupa untuk mengunci apartemenmu, iya kan?” tanyanya. Aku mengingat-ingat lagi apa yang aku kerjakan semalam. Dan ternyata memang benar. Aku lupa menguncinya karena aku sudah terlanjur mengantuk tadi malam.

“Sekarang cepatlah mandi dan sarapan! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Hizaki sambil menarik selimut yang masih aku pakai. Dan entah kenapa aku merasa Hizaki adalah You-chan yang dulu selalu memperhatikanku.

Aku segera bangun dan menuju ke kamar mandi. Dan beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Lalu aku menuju ke ruang makan dan di sana tiba-tiba aku melihat sosok You-chan yang seddang menungguku untuk sarapan bersama.

“You-chan??” kataku lirih. Dan dia membalik badannya. Saat dia membalik badannya, ternyata dia bukan You-chan. Dia Hizaki. Hizaki yang menungguku untuk sarapan. Kuso!! Aku tidak bisa melupakan You-chan!

“Kami-kun, doaijoubu ka?” tanya Hizaki.

“Ah, daijoubu,” kataku dan langsung duduk. “Kau menyiapkan ini semua?”

“Un! Hanya ini yang ada di kulkasmu. Jadi aku pakai bahan yang ada,” jawabnya.

Aku mencicipi sarapan buatannya. Dan dia kembali membuatku terkejut. Ini… Ini sama dengan yang biasa dibuat oleh You-chan untukku. Kenapa bisa begini? Hizaki… Tak mungkin dia adalah You-chan!

“Nan desu ka, Kami-kun? Apa sarapan buatanku tidak enak?” tanyanya ragu-ragu.

“Nandemonai! Hanya… Sarapan buatanmu mengingatkanku pada You-chan. Gomen ne!” kataku.

Benar-benar hatiku tidak bisa menerima ini semua. You-chan tidak bisa digantikan dengan orang lain. Sekalipun itu adalah Hizaki. Beberapa menit kemudian, aku selesai memakan sarapanku yang dibuatkan oleh Hizaki.

“Baiklah. Sekarang mari kita pergi!” kata Hizaki sambil menarik tanganku.

“Ke… Ke mana kita akan pergi? Ini masih terlalu pagi,” kataku.

“Ke makam You-kun,” jawabnya.

“Makam… Makam You-chan? Nande?” aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya.

“Ada sesuatu yang harus aku katakan padanya,” jawabnya lagi.

“Lalu kenapa kau ajak aku bersamamu?” tanyaku lagi.

“Karena ini ada hubungannya denganmu. Jadi kau harus ikut,” katanya.

Dia menarik tanganku dan segera menuju ke tempat parkir. Aku hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Di dalam mobil pun aku hanya terdiam tanpa mengajaknya untuk berbicara. Walaupun aku merasa penasaran dengan apa yang akan dia perbuat padaku di makam You-chan.

Setelah sampai di makam You-chan, dia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku segera turun dari mobil. Dia membuka bagasi dan mengambil sebuah karangan bunga lili.

Aku mengikuti langkahnya pergi. Setelah berada di depan nisan You-chan, dia menaruh karangan bunga lili tersebut di makam You-chan dan berdoa. Dan aku juga tidak lupa berdoa untuk You-chan.

Setelah berdoa, aku bertanya padanya, “Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Dia tersenyum dan tiba-tiba menarik tanganku sehingga tak ada jarak antara aku dan dia. Dan dia tiba-tiba mendekatkan bibirnya padaku. Dan akhirnya… dia menciumku.

Secara reflek tanganku bergerak dan menampar wajahnya. Aku melepaskan dekapannya.

“APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN? KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?” aku berteriak karena marah pada Hizaki.

“Aku… Aku hanya ingin meminta ijin pada You-kun. Aku ingin menggantikan tempat You-kun di hatimu,” jawabnya.

“Hah? Apa maksudmu?”

“Aku mencintaimu, Kami-chan,” katanya.

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Hanya You-chan yang boleh memanggilku dengan nama itu!” kataku. “Aku pergi! Aku akan naik taksi!”

Aku benar-benar pergi dari situ. Hizaki sama sekali tidak mencoba menghentikan langkahku. Dia hanya melihatku pergi dari kejauhan.

“Ne You-chan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Aku ingin kau selamanya di hatiku. Aku tidak mau posisimu digantikan oleh siapapun,” dan tak kusadari, aku meneteskan air mataku.

+++
to be continued