Title: Stalker
Author: Yuka
Pairing: ReitaxRuki
Chapter: Oneshot
Rating: PG
Genre: Romance
Warning:
“Aku pulang dulu ya!,” kata Reita berpamitan dengan teman satu bandnya. Dan disahut oleh lambaian tangan dari teman-temannya.
Karena hari ini Reita tidak membawa kendaraan, dia memutuskan untuk naik kereta listrik. Dia berjalan menuju stasiun dengan bersenandung. Namun sesuatu membuat dia tidak tenang saat dia berjalan di jalanan yang sepi. Seperti ada orang yang mengikutinya.
Reita menoleh ke belakang, namun dia tidak menemukan seseorang yang mencurigakan. Dia kembali berjalan dan bersenandung. Tapi dia kembali merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Namun sama seperti tadi, dia tidak melihat seseorang berada di belakangnya. Dia mulai waspada.
“Sial! Sebenarnya siapa yang mengikutiku malam-malam seperti ini? Apakah seorang fans fanatikku?” kata Reita samar-samar.
Karena Reita merasa kurang nyaman, dia segera berlari menuju stasiun kereta api. Dan tak lama kemudian akhirnya dia sampai di stasiun dan segera membeli tiket. Dia merasa sudah aman karena dia sudah di dalam lingkungan yang banyak orang.
Saat pintu kereta listrik yang akan dia naiki terbuka, Reita segera masuk dan segera duduk. Reita merasa lega karena dia terbebas dari sang penguntitnya.
Saat dia menunggu kereta untuk berangkat, tiba-tiba dia tersentak. Reita merasakan sepasang mata sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam.
“Sial! Ada apa sebenarnya ini? Kenapa mala mini aku merasa hidupku tidak tenang,” kata Reita dalam hati.
Reita membenarkan cara duduknya dan segera memasang mata waspada kepada setiap orang yang merasa mencurigakan sampai kereta itu berhenti dan Reita turun dari kereta itu.
“Untung apartemenku dekat dengan stasiun. Setidaknya aku tidak perlu berjalan jauh,” kata Reita.
Sesampainya di apartemen, Reita menghampiri resepsionis untuk mengambil kuncinya karena dia selalu menitipkan kunci apartemennya pada sang resepsionis.
“Selamat malam, Reita-san!” sapa sang resepsionis.
“Selamat malam, Keiko! Aku mau mengambil kunci apartemenku,” kata Reita.
“Tunggu sebentar. Oh ya, baru saja ada seseorang menitipkan ini pada saya. Dia mengatakan untuk menyerahkan pada anda,” sang resepsionis memberikan satu buket mawar merah kepada Reita.
“Eh? Untukku? Dari fans?” tanya Reita kebingungan sambil menerima mawar merah itu dari sang resepsionis.
“Entahlah. Saat saya menanyakan siapa pengirimnya, dia hanya mengatakan ini dari kekasih anda,” jawab resepsionis itu.
“Hah? Kekasih? Aku belum punya pacar. Hahaha,” Reita tertawa kecil. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Keiko!”
Reita berjalan menuju apartemennya sambil berpikir tentang malamnya yang sedikit misterius.
Reita membuka sepatunya, meletakkan mantel dan tasnya di atas sofanya lalu Reita merebahkan diri di sofa panjang sambil mengamati buket mawar itu.
“Hmm… Bagus sekali. Cantik. Tapi siapa pengirimnya?” Reita memutar-mutar buket bunga mawar itu dan dia menemukan secarik kertas di dalamnya.
Pelan-pelan Reita membuka kertas itu. Ada sebuah tulisan di kertas itu.
“I love you? Hanya ini tulisannya? Tak ada nama pengirimnya?” Reita membolak balik kertas itu namun dia tidak menemukan sebuah nama.
+++
“TING TONG!”
Suara bel apartemennya membangunkan Reita pagi itu. Dengan malas, Reita bangun dan membuka pintu apartemennya. Namun saat dia membukanya, dia tidak mendapati seseorang berdiri di balik pintu.
“Sial! Pagi-pagi membangunkanku dan berbuat iseng!” Reita emosi.
Saat dia hendak menutup pintu apartemennya, dia melihat setangkai mawar merah tergeletak di balik pintunya. Reita memungutnya dan mengambil kertas yang juga tergeletak di lantai bersama dengan mawar merah tersebut.
“You are my inspiration,” begitulah isi tulisan yang ada di atas kertas itu. Dan sekali lagi, tanpa nama pengirim.
Karena Reita berpikir bunga ini dikirim tidak lama, maka dia bergegas lari ke depan apartemennya untuk mengejar pegirimnya. Namun ternyata dia tidak menemukan siapapun.
Reita memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan meletakkan mawar merah itu ke dalam vas bunga bercampur dengan bunga mawar yang tadi malam dia dapatkan dari entah siapa.
Ponsel Reita berbunyi. Reita meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya dan membuka ponselnya. Sebuah pesan dari Ruki.
“Rei-chan, apa kau sedang sibuk? Aku ingin membicarakan hal penting denganmu. Aku tunggu di taman sekarang,” itulah isi pesan dari Ruki.
Setelah membaca pesan itu, Reita segera bersiap-siap dan segera menuju ke taman yang dikatakan Ruki.
Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di taman yang dikatakan Ruki. Dia mengirim pesan kepada Ruki untuk menanyakan di mana dia sekarang. Lalu Ruki membalas tak lama kemudian.
Reita segera menuju ke tempat Ruki berada. Setelah dia menemukan Ruki, dia melambaikan tangannya kepada Ruki dan disambut lambaian tangan dari Ruki. Reitapun menghampiri Ruki.
“Ohayou!” sapa Reita sambil duduk di depan Ruki.
“Ohayou!” sapa Ruki.
“Ada apa kau menyuruhku datang kemari?” tanya Reita.
“Ano… Rei, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi kumohon jangan marah padaku,” kata Ruki.
“Apa itu? Aku janji aku tak akan marah padamu,” sahut Reita.
“Hontou?” Ruki meyakinkan Reita.
“Hontou. Sekarang katakana padaku,” Reita menunggu Ruki berbicara.
“Baiklah kalau begitu,” kata Ruki. “Ini!” Ruki menyerahkan mawar merah kepada Reita.
“Eh? Mawar merah? Untukku?” tanya Reita heran. “Jangan-jangan kau adalah…”
“Kumohon jangan marah padaku! Kau sudah berjanji untuk tidak marah kan?” Ruki ketakutan mendengar kata-kata Reita.
“Jadi, jelaskan padaku! Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku hampir terkena sakit jantung gara-gara ulahmu, Ruki!” Reita berkata dengan nada agak tinggi.
“I… Iya aku akan jelaskan kepadamu. Iya, akulah orangnya. Aku yang memberikan mawar merah kemarin dan tadi pagi. Aku juga yang mengikutimu kemarin. Gomen!” Ruki menundukkan kepalanya.
“Apa alasannya?” tanya Reita.
“Itu… Itu karena… Karena aku… aku menyukai Rei-chan!” ucap Ruki sambil ketakutan.
“Menyukaiku? Hahaha,” Reita terbahak-bahak.
Tiba-tiba Reita berdiri dan mendekati Ruki. Sebuah ciuman lembut mendarat di kening Ruki. Reita mengangkat dagu Ruki. Terlihat wajah Ruki yang ketakutan bercampur kaget.
“I love you too, my inspiration,” Reita mencium bibir Ruki dengan lembut.
“Kau… Kau juga memiliki perasaan yang sama?” tanya Ruki yang merasa tidak percaya dengan semua ini. Reita mengangguk.
Sebuah senyuman manis terpancar dari bibir mungil Ruki. Dan Rukipun memeluk Reita.
“Happy birthday, Rei-chan!” sorak Ruki sambil memeluk kekasih barunya itu.
“Happy…?” tanya Reita pelan.
“Kau tak ingat ini adalah hari ulang tahunmu?” senyuman masih menghiasi wajah Ruki.
“Jadi, kau hanya mempermainkanku saja untuk memberiku kejutan?” nada tinggi sudah mulai terdengar dari mulut Reita.
“Bukan. Ini bukan kejutan untuk mempermainkanmu. Aku sungguh-sungguh mengatakan ini semua,” Ruki mengusap pipi Reita untuk menenangkannya.
“Kau tidak bohong kan?” tanya Reita.
Ruki menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Reita membalas senyumannya dan memeluk Ruki.
+++
“Rei,” panggil Ruki.
“Ya?” sahut Reita.
“Apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu hari ini?” Ruki menyandarkan kepalanya di bahu Reita dan Reita memeluk kekasihnya itu.
“Hmm… aku sudah punya sesuatu yang berharga di hari ulang tahunku ini. Jadi aku tidak perlu hadiah atau apapun,” kata Reita.
“Apa itu?” Ruki memandang wajah Reita.
“Kau,” jawab Reita singkat dan langsung mencium Ruki dengan penuh kelembutan. “Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa itu?” tanya Ruki.
“Kenapa kau kemarin mengikutiku?” lanjut Reita.
“Itu karena Uruha,” jawab Ruki.
“Uruha? Ada apa dengan Uruha?” tanya Reita.
“Uruha tahu aku menyukaimu. Dan beberapa hari yang lalu dia mengatakan padaku kalau kau akan menemui seseorang yang kau sukai. Karena itulah aku mengikutimu,” jawab Ruki.
“Hahaha,” Reita tertawa mendengar jawaban Ruki. “Jadi itu alasan kau mengikutiku sampai ke apartemenku?” tanya Reita dan dibalas anggukan pelan dari Ruki.
“Aku jadi terlihat bodoh di depanmu,” kata Ruki.
Reita mencium pipi Ruki dan memeluknya untuk menenangkannya.
“Tak usah dipikirkan, Ru-chan. Aku tidak akan berhenti mencintaimu walaupun kau berubah menjadi bodoh,” Reita memberikan senyum pada Ruki dan Rukipun memukul pelan dada Reita.
Wajah Ruki mendekat kepada Reita. Bibir mereka saling bertemu dan mereka berciuman dengan penuh nafsu. Lidah Reita mencoba menembus mulut Ruki dan disambut oleh lidah Ruki.
“Sekarang kau tak perlu mengikutiku lagi. Karena kau sudah tahu siapa orang yang aku sukai,” kata Reita dan kemudian mereka melanjutkan cumin mereka yang tertunda.
+++
OWARI