Selasa, 18 Mei 2010

The love from a dead orchestra 2/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 2/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

PART 2

You-chan, aku benar-benar ingin bertemu denganmu saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Hizaki membuatku bimbang. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku.

Ting… Tong… Terdengar suara bel apartemenku berbunyi. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan membukakan pintu.

“Hizaki-kun?” aku terkejut melihat Hizaki di depan pintu.

“Kami-kun, aku… aku… Apakah aku boleh masuk sebentar?” kata Hizaki penuh dengan ketakutan.

“Ma… Masuklah!” kataku mempersilakan dia masuk. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

“Aku… Aku ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tahu aku telah melakukan hal yang keterlaluan padamu,” kata Hizaki agak gugup karena ketakutan.

“Oh… Aku juga minta maaf padamu tentang kejadian kemarin. Sebenarnya aku tidak bermaksud marah dan meninggalkanmu di makam You-chan sendirian,” kataku.

“Ja… Jadi, kau memaafkanku, Kami-kun?” Hizaki sedikit memperlihatkan senyuman bahagianya di depanku. Dan tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam dadaku. Tapi aku tidak tahu apa itu.

“Kau tidak salah apapun terhadapku. Jadi tidak ada yang harus dimaafkan. Dan aku juga berterima kasih kau mau jujur padaku tentang perasaanmu padaku,” kataku sambil sedikit tersenyum.

“Arigatou, Kami-kun!” Hizaki tiba-tiba memelukku dengan erat. “Lalu, apakah kau menjawab perasaanku?”

“Eh?” aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hizaki itu.

“Hahaha… Lupakan! Aku hanya bercanda,” jawab Hizaki. “Apa kau sudah makan malam?”

“Ah, belum. Aku tidak tahu harus makan apa mala mini,” aku menjawab seadanya.

“Kalau begitu biar aku saja yang memasak sesuatu untukmu,” Hizaki langsung menuju ka dapurku dan membuka isi kulkasku.

Semua bahan makanan di dalam kulkasku dia cek satu per satu. Jika ada bahan yang sudah tidak bisa dipakai, dia membuangnya. Dan entah kenapa bayanganmu selalu terlihat di dalam diri Hizaki, You-chan.

“Bukan, dia bukan You-chan!” kataku lirih sambil memukul-mukul kepalaku sendiri.

“Apa yang kau lakukan, Kami-kun?” Hizaki melihatku sedang memukul-mukul kepalaku. Seketika itu aku langsung berhenti melakukannya.

“Ah… Iie. Hanya saja aku sedikit pusing,” aku berbohong.

“Kau sakit? Kalau begitu duduklah! Biar aku yang menyiapkan makan malam untukmu,” kata Hizaki sambil mendudukkanku di kursi meja makan.

Kenapa dia sangat baik padaku? Padahal saat itu aku sudah jahat dan menolaknya mentah-mentah. Aku mulai berpikir, apakah dia yang terlalu baik padaku atau mungkin aku yang terlalu menutup diriku dari orang lain sehingga aku tidak bisa melihat kebaikan orang lain.

Beberapa menit kemudian, Hizaki mulai menghidangkan makan malam untukku.

“Nee Kami-kun, makanlah!” kata Hizaki sambil duduk di depanku.

“Kau tidak ikut makan? Kita makan bersama-sama,” kataku.

“Ah, aku sudah makan. Kau makan saja!” kata Hizaki.

“Baiklah kalau begitu. Itadakimasu!” ucapku.

“Kami-kun, apa kau besok ada waktu? Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat. Tenang saja, bukan ke makam You-kun” cepat-cepat Hizaki memperjelas perkataannya.

“Lalu, ke mana kau ingin mengajakku?” tanyaku.

“Etoo… aku ingin mengajakmu untuk menemaniku membeli gitar yang baru. Gitarku sekarang sudah sedikit rusak,” jawab Hizaki.

“Oh, baiklah. Besok aku akan menemanimu. Hitung-hitung aku ingin meminta maaf padamu,” kataku sambil tersenyum.

“Sudahlah, kau tak memiliki kesalahan apapun padaku,” kata Hizaki. “Kalau begitu, aku harus kembali ke apartemenku. Jyaa na!” ucap Hizaki.

“Jyaa! Mata ashita! Ano Hizaki-kun, arigatou kau sudah memasakkan ini untukku,” Hizaki hanya tersenyum dan keluar dari apartemenku.

Tiba-tiba di dalam pikiranku, aku membayangkan Hizaki menjadi kekasihku. Entah apa yang ada di otakku sekarang ini. Di dalam diriku terasa seperti ada gunung es yang tiba-tiba leleh dan melebur menjadi air yang mengalir tenang saat aku mengingat Hizaki. You-chan, bukan maksudku untuk melupakanmu. Aku akan tetap mengingat dirimu.

+++

Aku bersiap-siap untuk mengantarkan Hizaki membeli gitar barunya. Aku mengambil mantel yang kugantung di dekat pintu depan. Setelah itu aku mengunci apartemenku dan berjalan menuju apartemen Hizaki.

Aku mengetuk pintu apartemennya dan tak lama kemudian, dia muncul.

“Ah, Kami-kun. Kau sudah siap?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia menggandeng tanganku, mengajakku untuk langsung pergi.

Hari itu terasa seperti aku tak memiliki beban sama sekali selama aku pergi dengan Hizaki. Hizaki selalu memiliki bahan pembicaraan untuk diperbincangkan. Dan aku merasa terhibur berada di dekatnya.

“Ittai!” teriak Hizaki.

“Nande?” tanyaku khawatir.

“Ada debu masuk di mataku. Sakit sekali,” kata Hizaki.

“Kalau begitu, buka matamu pelan-pelan. Aku akan meniup matamu supaya debunya keluar,” aku memegang pipinya dan mendekatkan bibirku ke wajahnya dan aku meniup matanya.

“Ah, terima kasih, Kami-kun. Aku sudah merasa enakan,” kata Hizaki. “Kami-kun? Kenapa kau diam saja? Kami-kun?”

Aku memperhatikan wajahnya yang sangat manis tanpa berkedip sama sekali. Dan tiba-tiba, wajahku mendekat ke wajahnya. Seperti ada sebuat magnet yang hebat yang menyedotku. Bibirku sekarang mendekat pada bibirnya dan akhirnya bibir kami bersatu. Dan aku menciumnya!

Entah apa yang membuatku melakukan ini semua, namun saat aku menciumnya, sebuah perasaan yang manis meloncat-loncat di dalam diriku.

“Ano… Kami-kun,” katanya.

“Ah, Gomen nee, Hizaki-kun. Aku… Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu,” kataku segera meminta maaf padanya.

“Dai… Daijoubu, Kami-kun. Kita harus secepatnya membeli gitar. Aku tidak mau pulang terlalu malam nanti,” kata Hizaki sambil langsung berjalan mendahuluiku.

Aku mengikutinya dari belakang. Hizaki tidak menoleh ke belakang sama sekali. Seperti dia tidak menyadari keberadaanku. Di saat aku sedang memikirkan Hizaki, tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar.

“Moshi-moshi, Teru-kun,” ternyata itu adalah telepon dari Teru.

“Kami-kun, apa kau bisa menemaniku minum nanti malam? Aku membutuhkan seorang teman untuk menemaniku,”

“Minum? Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi kenapa kau tidak mengajak Yuki-kun atau Hizaki-kun?”

“Mereka sibuk. Aku hanya ingin bercerita sesuatu hal denganmu. Baiklah kalau kau bisa, kita bertemu di bar biasanya. Aku tunggu kau di sana jam 7 malam. Jyaa!”

Setelah kata terakhir itu, aku langsung menutup teleponku dan aku kembali mendekati Hizaki.

+++

Tidak ada komentar: