Selasa, 18 Mei 2010

The love from a dead orchestra 3/3

Tittle: The Love From a Dead Orchestra
Chapter: 3/3
Author: Yukamijo
Ratings: PG
Pairing/characters: KamijoxJasmine; KamijoxHizaki
Disclaimer: I don’t own them

PART 3

“Kami-kun, aku di sini,” Teru melambaikan tangannya.

Aku mendatangi Teru dan duduk di sebelahnya.

“Apa yang ingin kau ceritakan padaku?” aku langsung bertanya kepada Teru.

“Kau tahu, aku sedang jatuh cinta sekarang. Kau tahu siapa yang aku sukai, Kami-kun?” tanya Teru.

“Jelas aku tidak tahu siapa yang kau sukai. Memang siapa dia?” tanyaku penasaran.

“Dia adalah seseorang yang manis menurutku. Kau pasti mengatakan hal itu,” kata Teru sambil tersenyum sendiri.

“Apa aku kenal dia, Teru-kun?” tanyaku sekali lagi dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.

“Un!”

“Dare?” tanyaku.

“Leader sekaligus gitaris Versailles, Hizaki-kun,” Teru masih memasang senyum di wajahnya.

“Are? Hi… Hizaki-kun?” aku sangat terkejut.

Tiba-tiba di dalam hatiku seperti ada sebuah api yang semula kecil kemudian berubah menjadi kobaran api yang sangat besar. Apa yang sebenarnya terjadi padaku sekarang ini?

“Kami-kun? Kani-kun? Kenapa kau diam?” Teru mengguncang bahuku.

“Ah… Gomen. Kau… Kau menyukai Hizaki-kun?” tanyaku lebih lanjut.

“Un. Hizaki-kun sangat manis bagiku. Kau juga berpikiran begitu kan? Dia selalu membantuku saat aku kesusahan berlatih gitar. Aku sangat menyukainya,” kata Teru.

“Lalu apakah kau akan menyatakan perasaanmu padanya?” tanyaku.

“Entahlah. Menurutmu, aku harus bagaimana? Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini besok saat kita bertemu untuk latihan,” jawab Teru.

“Hmm… Mungkin lebih baik kau mengatakan secepatnya. Sebelum semuanya terlambat,” kataku.

“Sou ka? Kalau begitu aku akan melakukannya besok. Tapi aku takut dia akan menolakku,” wajah kekanak-kanakan Teru mulai muncul.

“Optimislah pada dirimu sendiri!” jawabku.

“Un! Aku pasti bisa melakukannya besok. Kau tidak minum, Kami-kun?” Teru menawariku untuk minum.

“Iie. Sepertinya aku harus segera kembali. Aku masih ada urusan. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?” kataku berbohong kepada Teru.

“Daijoubu. Lagipula aku hanya ingin mengatakan hal itu padamu. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi ke tempat Yuki,” kata Teru.

Aku memberikan salam perpisahan pada Teru dan segera pulang ke apartemenku. Aku segera menyalakan mobilku dan segera pergi dari bar tersebut.

Setelah sekitar 1 jam aku mengendarai mobilku, akhirnya aku sampai di apartemenku. Aku langsung menuju ke atas dan membuka pintu apartemenku.

Saat aku membuka pintu apartemenku, aku melihat sosok Hizaki yang sedang tertidur di sofa rung tamuku.

Aku mengamati sosok Hizaki. Dan memang benar apa kata Teru. Dia memang manis. Tidak! Dia sangat manis. Aku segera mengambil selimut dari kamarku dan menyelimuti Hizaki. Namun belum selesai aku menyelimutinya, tiba-tiba dia terbangun.

“Kami-kun, okaeri!” sapa Hizaki dengan nada masih mengantuk.

“Ah, tadaima, Hizaki-kun. Kau tidur lah di kamarku. Daripada kau harus tidur di sofa.” Kataku.

“Iie. Aku tadi hanya ingin menyiapkan makan malam untukmu. Kau belum makan kan?” tanyanya dengan lembut.

“Hizaki-kun, mungkin mulai sekarang, kau tidak usah mengurusiku lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau tidak perlu membuatkan makanan dan sepertinya kau tidak perlu ke apartemenku lagi,” entah apa yang aku katakan padanya.

“Kami-kun, kau tidak apa-apa?” tanya Hizaki sambil menyentuh dahiku.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir padaku,” kataku.

“Tidak. Kau demam! Badanmu terasa panas,” katanya dan langsung mengambil air es dan sebuah handuk kecil dari dapur dan kembali ke ruang tamu.

“Aku tidak apa-apa, Hizaki-kun. Sekarang keluarlah dari apartemenku,” kataku.

“Tapi kau…,” sebelum dia selesai berbicara, aku menampik baskom berisi air es yang dia bawa sehingga airnya berceceran di mana-mana.

“PLAAAK!!!”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Amat sangat panas rasanya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba menjadi seperti ini padaku?! Apa aku berbuat sebuah kesalahan besar karena aku memperhatikanmu? Aku mencintaimu, Kamijo Yuji! Apapun yang terjadi padamu aku tetap akan mencintaimu! Walaupun kau berbuat kasar seperti ini, walaupun kau masih terbayang-bayang oleh You-kun, aku akan tetap mencintaimu! Ingat itu! Terserah kau mau atau tidak! Dan kalau kau tidak menyukai aku berada di sini, baiklah aku pergi sekarang!” kata Hizaki dengan sangat marah. Dia membanting pintu apartemenku.

“Hizaki-kun, andai saja kau tahu, sebenarnya aku juga menyukaimu. Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya. Tapi jika aku tetap berada di sampingmu, aku tidak tega dengan perasaan Teru yang juga mencintaimu. Jadi aku putuskan lebih baik aku mundur,” kataku dengan sedikit meneteskan air mata.

+++

“Kami-kun, ohayou!” terdengar suara Hizaki membangunkanku.

Aku perlahan-lahan membuka mataku dan betapa terkejutnya aku. Hizaki sudah berada di sebelahku sambil memeras sebuah handuk kecil.

“Ittai!” kepalaku terasa sangat berat. Badanku juga tersa seperti terbakar.

“Sudah aku katakan bahwa kau demam kemarin. Kau tak percaya padaku,” kata Hizaki seolah-olah kemarin tak terjadi apa-apa.

“Kenapa kau ada di sini? Sekarang sudah jam 9. Waktunya latihan, kau tahu?” kataku memaksa untuk bangun dari tempat tidur, namun Hizaki menahanku.

“Hari ini kita tidak ada latihan. Aku telah mengatakan kepada yang lain bahwa aku mengubah jadwal latihan besok pagi karena kau sedang sakit,” kata Hizaki.

“Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit!” bantahku.

“PLAAAK!!”

Sebuah tamparan kembali melayang ke pipiku.

“Kau tak usah keras kepala! Kau demam! Dan sekarang, suka atau tidak, aku tetap akan menjagamu. Aku akan menyiapkan bubur untukmu,” Hizaki keluar dari kamarku.

Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di meja sebelah tempat tidurku bergetar. Kulihat sejenak dan ternyata Yuki meneleponku.

“Moshi-moshi, Yuki-kun,” sapaku.

“Kami-kun, daijoubu ka? Aku mendengar kabar dari Hizaki-kun bahwa kau sedang sakit,”

“Ah, daijoubu. Aku hanya demam. Istirahat sebentar pasti aku akan sembuh kembali,”

“Sou ka? Aku segera menuju ke tempatmu bersama dengan Teru-kun. Jyaa!”

Yuki mewnutup teleponnya. Aku kembali meletakkan ponselku di meja. Dan tak lama kemudian, Hizaki datang membawakan sarapan untukku.

“Sekarang, saatnya kau sarapan dan setelah itu minum obat,” kata Hizaki sambil menyendokkan bubur untukku.

“Hizaki-kun,” aku membuka mulutku.

“Nani?” tanyanya.

“Kenapa kau mencintaiku?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja.

“Kau bertanya padaku kenapa? Hahaha…,” dia hanya tertawa. “Nee, Kami-kun, aku tak memiliki alasan yang spesifik untuk mencintai seseorang. Yang perlu kau tahu sekarang, aku mencintaimu lebih dulu sebelum kau bersama dengan You-kun,” katanya.

“Nani? Selama itukah kau memendam perasaan padaku? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” aku bertanya seperti menginterogasinya.

“You-kun mencintaimu. Itu alasannya kenapa aku tidak pernah mengatakannya padamu. Dan di saat-saat terakhir You-kun, dia memberiku pesan terakhir,” jawab Hizaki.

“Apa pesan terakhirny? Apa aku boleh mengetahuinya?” tanyaku.

“Dia berkata padaku untuk tetap mencintaimu selamanya dan tetap berada di sisimu selamanya,” jawabnya sambil menyuapiku.

“Dia bilang begitu? Aku tidak menyangka You-chan sejahat itu,” kataku.

“Kau bilang apa? You-chan tidak jahat! Awalnya dia tidak tahu kalau aku mencintaimu. Namun beberapa minggu sebelum dia meninggal, tak sengaja membaca buku harianku dan akhirnya dia mengetahuinya,” jelas Hizaki. “Kenapa kau tanyakan itu padaku?”

“Aku… Aku hanya…,” aku terdiam sejenak dan kemudian tanganku memelukny erat-erat. “Aishiteru!”

“Aku dat…,” suara Teru terdengar jelas di telingaku.

Dan saat aku menoleh melihat pintu kamarku, Teru dan Yuki sudah berdiri di sana. Dengan segera, aku melepaskan pelukanku dari Hizaki.

“Kami-kun, apa yang sedang kau lakukan? Kau mengkhianatiku?” kata Teru.

“Ano… Iie… Aku hanya…,” aku tersendat-sendat mengatakannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” kata Yuki.

Aku melihat ke arah Hizaki, Teru dan Yuki secara bergantian. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.

“Kami-kun, apa kau menyukai Hizaki-kun? Jawab aku dengan jujur!” teriak Teru sambil hampir melayangkan pukulan ke arahku. Untung Yuki langsung menahan Teru.

“Apa yang kau lakukan, Teru-chan? Kenapa kau harus memukul Kami-kun?” tanya Yuki sedikit emosi.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” Hizaki mulai menampakkan kebingungannya.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku tadi sekarang juga!” teriak Teru.

“Aku… Aku mencintai Hizaki,” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Hizaki-kun, apa kau juga mencintai Kami-kun?” tanya Teru masih dengan nada emosi yang tinggi.

“Aku… Aku mencintainya. Sangat mencintainya,” jawab Hizaki.

Tiba-tiba Teru memukul tembok kamarku dan menghela napasnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk cemburu kepada Kami-kun,” kata Teru.

“Apa sebenarnya maksudmu, Teru-kun?” tanya Yuki.

“Dia mencintai Hizaki-kun,” jawabku.

“Aku?” Hizaki terkejut.

“Hai. Kemarin malam dia mengatakannya padaku. Karena itulah aku menyuruhmu untuk tidak memperhatikanku lagi. Karena aku tidak terga melihat Teru-kun. Gomen nee, Hizaki-kun,” lanjutku.

“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan marah kepada kalian berdua. Sesuatu hal yang sia-sia nee? Hahaha…,” kata Teru yang tiba-tiba kembali ceria seperti biasanya.

“Lebih baik kita pulang saja, Teru-kun. Sepertinya memang Kami-kun hanya demam. Besok pasti dia sudah sehat kembali. Ikuzo!” Yuki mengajak Teru untuk segera meninggalkan apartemenku.

Dan akhirnya, hanya aku dan Hizaki di situ. Hizaki menatapku dengan tatapan yang tajam.

“Jadi, apa benar yang kau katakan tadi?” tanya Hizaki.

“Apa yang aku katakan tadi?” aku pura-pura melupakan hal yang terjadi tadi.

“Kau tak usah berpura-pura lupa kejadian barusan! Aku tidak bercanda denganmu, Kami-kun,” kata Hizaki.

“Aku… Aku tidak bercanda padamu,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Dan dia membalas senyumanku.

“Aishiteru, Hizaki-kun,” kataku sambil memeluknya.

“Hontou ka, Kami-kun?” aku mengangguk dan dia membalas pelukanku dengan sebuah ciuman yang sangat hangat di bibirku. “Aishiteru, Kami-kun.”

Kami berdua larut dalam ciuman yang hangat. You-chan, gomen nee. Aku sangat lega mengetahui bahwa kau telah merestui kami berdua untuk bersatu.

OWARI

+++

Tidak ada komentar: