Rabu, 29 Desember 2010

Mou Hitotsu no Hanayome

Title: Mou Hitotsu no Hanayome
Pairing: UruhaxKai; uruhaxofc
Chapter: 1/1 (oneshot)
Genre: Angst, romance, drama
Rating: PG
Warning: dead character

“KRIIIIIIING!!!”

Aku mulai membuka mataku. Ah… ternyata alarm jamku berbunyi. Kuambil jam dari meja dekat tempat tidurku. Mataku terbelalak melihat sekarang sudah jam sembilan pagi.

“Gawat! Aku terlambat! Kuso!” kataku sambil terburu-buru menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera mengenakan baju serba putih. Setelah memakai dasi, aku mengenakan tuxedo putih dan sedikit berdandan.

“Yosh! Aku sudah siap! Semoga aku tidak terlambat ke acara pemberkatan pernikahan,” kataku sambil meraih kunci mobilku.

Aku benar-benar tidak tenang. Karena ini adalah pertama kalinya. Pertama kalinya di dalam hidupku aku dihancurkan oleh orang yang benar-benar aku sayangi.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan sebuah gereja. Gereja di mana seharusnya aku merasa bahagia.

“Kai!” terdengar suara Aoi memanggilku. Aku melambaikan tangan dan menghampirinya.

“Aoi, Ruki, Reita, kalian sudah datang. Maaf aku terlambat. Kau tahu sendiri kan aku orangnya pelupa. Hahaha…,” aku menyebut ini senyum kamuflase.

“Kai, bisa kita berbicara berdua saja?” ajak Ruki.

“H… Hai,” jawabku.

Ruki melangkahkan kaki menjauh dari mereka dan mencari tempat sesepi mungkin. Dan akhirnya kami berhenti di belakang gereja. Tak ada orang sama sekali.

“Nah, di sini sudah tidak ada orang lagi. Jadi kau bisa menangis sekarang,” kata Ruki.

“Apa maksudmu, Ruki? Aku… Aku tidak ingin menangis. Kau tahu, hari ini kan hari bahagia untuk kita semua,” kataku.

“Kau tak usah berbohong! Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini,” tiba-tiba Ruki memelukku dan aku tiba-tiba merasa pipiku basah. Sangat basah.

Aku memeluk Ruki erat-erat sambil menangis di pelukannya. Benar-benar menangis seperti seorang anak kecil yang baru saja dipukul oleh temannya.

“Ruki… Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa harus begini? Aku mencintainya tapi kenapa harus berakhir seperti ini?” aku terus menangis di pelukan Ruki.

“Menangislah terus sampai kau tenang. Kai, aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi mungkin Tuhan berkata lain. Mungkin Uruha bukan jodohmu. Dan pasti ada seseorang yang lebih baik dari Uruha yang dipersiapkan Tuhan sebagai jodohmu,” kata Ruki yang sedikit membuatku tenang.

Aku melepaskan pelukan dari Ruki dan mengusap air mataku. Dan aku melihat wajah Ruki yang begitu perhatian kepadaku. Hanya dia yang bisa membuatku tenang di saat seperti ini. Dan hanya dia yang mengetahui bahwa aku mencintai Uruha.

“Baiklah, sekarang mari kita masuk. Acaranya segera dimulai,” Ruki menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju ke dalam gereja dan duduk di sebelah Reita dan Aoi.

“Kau tak apa-apa, Kai? Kenapa matamu merah?” tanya Reita.

“Ah… Tadi mataku kemasukan debu. Karena gatal aku mengusap mataku. Tapi aku tidak tahu kalau mataku menjadi merah,” jawabku dan langsung duduk.

Dan tepat saat aku duduk, aku melihat sosok Uruha yang sedang berdiri di depan altar menunggu pengantin wanita memasuki ruangan.

Aku harus kuat! Kataku di dalam hati. Ini demi kebaikan Uruha. Demi kebahagiaan Uruha! Aku tidak boleh menangis di depannya.

Aku memalingkan wajahku dari Uruha saat dia menatapku. Aku tidak bisa menatap matanya. Itu akan membuat hatiku sakit.

Pemberkatan segera dimulai. Aku melihat Uruha dan Erika sudah berada di depan altar. Aku hanya bisa menahan air mataku mengalir. Tangan Ruki menggenggam tanganku. Hal itu lah yang membuatku lebih kuat saat ini. Tapi… aku masih tidak bisa merelakan Uruha menikah dengan perempuan yang telah hamil 1 bulan itu.

“Ozaki Erika, apakah kau bersedia menerima Takashima Kouyou sebagai suamimu dalam susah dan senang?” pendeta itu memulai pemberkatannya.

“Ya. Saya bersedia,” jawab Erika.

“Takashima Kouyou, apakah kau bersedia menerima Ozaki Erika sebagai istrimu dalam susah dan senang?”

Dengan reflek, aku melepaskan tangan Ruki dari genggamanku dan mengambil pistol yang telah aku persiapkan dari rumah. Aku langsung berdiri dari tempat duduk dan mengacungkan moncong pistol itu ke arah Uruha. Aku menarik pemicunya dan… sebuah dentuman keras dari pistol menggema di gereja itu.

+++

“URUHA! URUHA!!” teriakku sambil terbangun dari tidurku.

Keringatdinginku bercucuran dari kepala hingga kaki. Semua tubuhku bergetar. Ya Tuhan… Ternyata aku baru saja mimpi buruk. Tapi mimpi buruk itu terlihat nyata. Mimpi buruk itu seakan-akan berada di depan mataku.

Ponselku bordering. Aku meraihnya dari atas laci dekat tempat tidurku. Dan ternyata Uruha yang meneleponku.

“Hai, moshi-moshi, Uruchan!” jawabku.

“Kai-chan, bisakah kita bertemu? Aku ingin mengatakan sesuatu denganmu,” tanya Uruha.

“Hmm… Baiklah. Di mana kita akan bertemu?” kataku.

“Di kafe dekat apartemenmu saja. Aku sedang menuju ke sana sekarang,” kata Uruha.

“Kenapa kau tidak langsung ke apartemenku? Kita kan bisa ngobrol di sini,” tanyaku.

“Aku tidak bisa lama-lama, sayang!” jawab Uruha.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan ke sana sebentar lagi,” kataku dan menutup teleponku.

Beberapa menit kemudian, aku sudah siap untuk menemui Uruha di kafe yang telah kita bicarakan. Aku masih memikirkan tentang mimpiku barusan. Dan aku berencana untuk membahasnya dengan Uruha nanti.

Aku menunggu Uruha di kafe tersebut. Dan tak lama kemudian, aku melihat Uruha datang. Aku melambaikan tangan kepada Uruha dan dia segera menuju ke arahku.

“Gomen nee, aku terlambat,” kata Uruha.

“Aku juga baru saja sampai. Oh ya, aku juga ada sesuatu yang ingin kubahas denganmu,” kataku.

“Oh ya? Kalau begitu katakan saja, Kai-chan!” kata Uruha.

“Tidak. Kau saja dahulu. Sepertinya kau ingin berbicara sesuatu yang penting,” kataku.

“Hmm… baiklah kalau begitu. Ini tentang hubungan kita berdua,” ujar Uruha.

“Kenapa dengan kita?” tanyaku sambil tersenyum dan memegang tangannya.

“Kai-chan, aku tidak tahu harus bagaimana menyampaikan padamu. Aku tahu ini hanya akan membuatmu membenciku seumur hidupmu. Tapi aku harus mengatakan hal ini. Aku harap kau bisa menerimanya,” ucap Uruha.

“Apa itu? Uruchan, tolong jangan membuatku penasaran,” tanyaku.

“Etooo… Aku rasa kita sudahi saja hubungan kita ini,” jawab Uruha sambil menundukkan kepala.

“Apa? Aku salah dengar kan, Uruchan? Kenapa? Kenapa kau bicara seperti itu?” tanyaku yang benar-benar merasa terkejut dengan perkataan Uruha tadi.

“Ini semua salahku! Aku… Aku… Aku menghamili perempuan lain. Dan… Dan sekarang dia sedang mengandung anakku, Kai-chan,” ujar Uruha dengan sangat ketakutan.

Tiba-tiba aku teringat akan mimpiku tadi. Menikah? Perempuan lain? Jadi inikah arti dari mimpiku tadi? Semua pertanyaan tiba-tiba berkerumun di otakku.

“Siapa? Siapa perempuan itu, Takashima Kouyou?” tanyaku dengan geram dan aku memegang sebuah gelas dengan sangat erat.

“Dia… Dia temanku saat aku SMA. Namanya Erika. Maafkan aku Kai-chan! Saat itu aku sedang mabuk dan aku tidak sadar saat melakukannya, hontou gomen!” Uruha berdiri dan berlutut di kakiku. Aku hanya bisa menahan emosi supaya air mataku tidak keluar di depan Uruha.

Aku menarik baju Uruha dengan sekuat tenaga. Tanganku sudah mengepal dengan sangat kuat. Aku merapatkannya ke dinding kafe itu.

“Kau berani mengkhianatiku, hah??” teriakku di depannya. Dan sebuah pukulan hebat kulayangkan ke wajahnya. Uruha merasa kesakitan.

Aku lepaskan Uruha. Dengan air mata yang menetes dari mataku, aku meninggalkannya meringkuk di sana. Aku segera kembali ke apartemenku dan segera menceritakan kepada Ruki tentang perbuatan Uruha.

Aku duduk di pinggir tempat tidur. Dengan putus asa aku mengambil sekaleng bir dari lemari es dan meminumnya. Tiba-tiba tanganku membuka laci di sebelah tempat tidurku. Lalu aku mengeluarkan sebuah pistol. Aku mengecek isinya dan setelah itu, aku mengarahkan pistol ke kepalaku.

“Kai? Apa kau di dalam?” tiba-tiba aku mendengar suara Ruki.

Dengan segera aku menarik pemicunya.

“DOOOR!!!”

Tubuhku mulai melemas dan aku segera terkulai. Aku masih mendengar sebuah langkah kaki yang berlari mendekat ke arahku.

“KAI!!!!! YA TUHAN, APA YANG KAU LAKUKAN?!” Ruki segera menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mataku dengan sayup.

“Ruki… Sakit! Kepalaku sakit,” aku menangis. Darah mengalir deras dan setiap aku bersuara, kekuatanku menghilang dengan cepat. Aku mulai lemas.

“KAI, BERTAHANLAH! AKU AKAN MEMANGGIL AMBULANS UNTUKMU! JANGAN PERGI DULU!” teriak Ruki sambil menangis.

“Gomen… nee… Ruki,” kataku dan setelah itu aku merasa kekuatanku hilang tak tersisa. Selamat tinggal Uruha. Kau pergi meninggalkan aku. Dan aku pergi meninggalkan dunia ini. Sangat adilkah semua yang aku lakukan ini? Tubuhku terasa ringan. Aku merasa terbang dan dapat melihat Ruki menangis dengan keras sambil memeluk tubuhku yang penuh darah.

+++
OWARI

Tidak ada komentar: