Rabu, 27 Agustus 2008

Actually... Aishiteru!!

“Aoichan, di mana dirimu? Aku sudah menunggumu dari tadi. Tapi kenapa kau tidak segera keluar? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucap Kai dalam hati. Sudah satu jam dia menunggu Aoi di depan pintu gerbang sekolah. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang juga. Kai sudah hampir putus asa. Namun, hampir saja Kai menyerah, seorang laki-laki berwajah agak garang dengan menenteng tas sekolahnya keluar dan menghampiri Kai.

“Kaichan!” teriaknya.

“Ah! AOICHAN!!” sahut Kai. “Kenapa kau lama sekali baru keluar? Aku menunggumu dari tadi di sini.”

“Ada apa kau menungguku? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Aoi.

“Un! Aku ingin mengatakan... aku... aku... “ Kai berkata patah-patah.

“Ya?” tanya Aoi ingin memperjelas perkataan Kai.

“Aku... “ Kai menundukkan kepala “AKU MENYUKAI AOICHAN!!” Kai gugup dan langsung menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Aoi syok. Dia tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik.

“Nani kore? Kau menyukai aku?” Aoi seperti tak percaya. Kai masih menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah Aoi yang agak garang. Kai mengepalkan kedua tangannya siap-siap patah hati atas jawaban Aoi.

“Aoichan, kumohon! Jadilah pacarku!” Kai melanjutkan dengan suara yang lirih.

“E...too... Kaichan, gomen na! Untuk saat ini aku masih belum bisa menerimamu menjadi pacarku,” jawab Aoi yang menghancurkan hati Kai. “Hontou gomen! Nee... Kaichan, aku harus pulang sekarang. Hyde sudah menungguku untuk kerja kelompok.” Aoi meninggalkan Kai sendirian di depan pintu gerbang sekolah.

Kenapa Aoichan menolakku? Padahal aku dan dia sudah begitu dekat. Kami sudah berteman sejak kecil. Dia selalu menjagaku setiap waktu. Waktu aku sedih, aku selalu dihibur olehnya. Waktu ada preman yang ingin menggangguku saat pulang sekolah, dia selalu membelaku. Betapa bodohnya aku! Aku terlalu berharap banyak dari Aoichan. Hontou ni BAKA YARO!!!

Dengan tubuh gontai Kai pulang ke apartemennya. Di sepanjang jalan, dia selalu memikirkan Aoi. Dia sampai tidak sadar bahwa dia ternyata tidak berjalan ke apartemennya, melainkan pergi ke apartemen Reita, teman seperjuangannya dari kecil bersama Aoi.

“AH! KAICHAN!!” teriak Reita memanggil Kai. Kai yang merasa dipanggil tiba-tiba terbangun dari lamunannya dan mencari siapa yang memanggilnya.

“Hah? Rei-chan? Kenapa aku bisa di apartemen Rei-chan?” tanya Kai dalam hati.

“Kaichan, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kau sakit?” tanya Reita bertubi-tubi.

“Ah, aku sendiri juga tak tahu kenapa aku bisa berjalan sampai ke sini. Aku tadi baru saja pulang dari sekolah,” jelas Kai.

“Nani? Baru pulang dari sekolah? Kenapa kau baru pulang?” tanya Reita yang sangat mengkhawatirkan teman kecilnya itu. Tak disangka, air mata Kai menetes di pipinya.

“Nande? Kenapa kau menangis?” tanya Reita lebih khawatir. Tiba-tiba saja Kai memeluk Reita dan menangis dalam pelukan Reita. Reita bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan teman kecilnya itu.

“Ya Tuhan! Kaichan, kenapa badanmu panas sekali? Ayo masuklah ke dalam!” Reita menuntun Kai yang berjalan gontai seperti tak punya nyawa lagi. Reita menidurkan Kai di tempat tidurnya dan langsung mengambil air dingin untuk mengompres Kai. “Kaichan, ada apa denganmu? Kenapa kau tidak cerita padaku?”


Aoi menuju ruang kelas dengan berlari terburu-buru. Dia hampir saja terlambat tapi untungnya Tetsu sensei belum ada di kelas. Aoi menuju ke bangkunya dan melihat ternyata bangku Kai di sebelahnya kosong. Aoi menoleh ke belakang dan bertanya pada Reita. “Nee Rei-chan, kemana Kaichan? Tumben jam segini dia belum datang.”

“Kemarin dia demam tinggi,” kata Reita.

“Nani? Demam?” Aoi terkejut. “Kenapa dia bisa demam?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kemarin dia ke apartemenku dan menangis. Tapi dia tidak bilang apa sebabnya. Padahal dia selalu curhat setiap ada masalah,” kata Reita.

“Nee?? Jadi dia tidak bilang apa-apa?” tanya Aoi seperti tak percaya perkataan Reita.

“Iie. Dia tidak bicara apapun” Sekarang yang mempunyai wajah bingung adalah Aoi. Ternyata Kai tidak pernah bilang siapapun bahwa dia mencintai Aoi. Begitu pula Aoi. Dia tidak pernah bilang bahwa sebenarnya dia juga menyukai Kai.

“Rei-chan, apa kau setelah pulang sekolah mau menjenguk Kai?” tanya Aoi.

“Ano... gomen na! Aku tidak bisa hari ini. Karena aku sudah ada janji dengan Ruki untuk pergi bersama,” jawab Reita.

“Sou ka? Ya sudah aku nanti akan jenguk dia sendiri saja,” kata Aoi.


TOK... TOK... TOK!!! Pintu apartemen Kai diketuk oleh Aoi. Tapi Kai tak kunjung datang untuk membukakan pintu. Dia mengetuk sekali lagi. Tetap saja tak ada yang membukakan pintu.

“Kaichan!!” teriak Aoi.
“KAICHAN!!” suara Aoi mengeras. “KAICHAN!!! KAICHAN BUKA PINTUNYA!!! INI AKU AOI!!!”

Tak lama kemudian, pintu apartemen Kai terbuka. Kai muncul dengan wajah yang sangat pucat. Setelah membuka pintu, Kai langsung masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Kaichan, aku dengar dari Rei-chan kau kemarin demam. Apa kau sudah sembuh?” tanya Aoi. Tapi Kai mengabaikan Aoi dan segera merebahkan diri ke tempat tidurnya. Aoi mengikuti Kai ke tempat tidur

“Nee... Kaichan, apa kau masih marah denganku karena kejadian kemarin? Gomen na, Kaichan. Bukan maksudku ingin menolakmu. Tapi memang saat ini aku tidak bisa menerimamu,” jelas Aoi panjang lebar. Kai tetap tidak membuka mulutnya malah dia langsung tertidur.

“Kaichan, jangan marah lagi ya! Semoga suatu saat nanti aku bisa mengatakan hal yang ingin kau dengar itu.” Aoi memegangi tangan Kai tanpa melepasnya satu detik saja. Sampai dia tertidur di sebelah Kai.

Jam di dinding kamar Kai menunjukkan pukul tujuh malam. Aoipun terbangun dan melihat Kai masih belum melepaskan tangannya dan juga belum membuka matanya. Aoi membangunkan Kai dengan mengguncang badan Kai pelan. Namun, Kai tetap saja tidak bergeming.

“Kaichan!” panggil Aoi.

“Kaichan, bangun! Sudah malam. Aku harus pulang. Apa kau tidak mau mengantarku?”

“Kaichan?!”

“KAICHAN!”

“KAICHAN!!”

Tetap saja badan Kai tidak bergerak sama sekali. Aoi menjadi sangat panik. Aoi mengguncang badan Kai semakin keras. Tetap saja Kai tak ada tanda-tanda membuka matanya.

“KAICHAN!! JANGAN BEGINI TERUS!! AYO BANGUNLAH!!” kata Aoi yang sudah meneteskan air mata yang cukup banyak. Aoi teringat dia harus mencari bantuan. Diambilnyalah ponsel di saku celananya dan langsung memencet nomor ponsel Reita.

“Moshi moshi, Rei-chan? Apa kau bisa ke apartemen Kaichan sekarang juga?” tanya Aoi dengan nada yang sangat panik.

“Memangnya ada apa Aoichan? Ada apa dengan Kaichan? Kenapa kau menangis?” tanya Reita yang juga ikut-ikut menjadi cemas.
“Kaichan... Kaichan... Kaichan tidak bangun walaupun aku mengguncang badannya begitu keras. Kumohon! Bantulah aku!” Aoi memohon pada Reita.


“Untunglah kalian membawanya lebih awal. Mungkin jika kalian membawa dia terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tak akan tertolong,” kata dokter.

“Memangnya, dia sakit apa, Sensei?” tanya Aoi dengan cemas.

“Umm... dia hanya demam biasa. Namun jika tidak segera ditangani, mungkin akan fatal akibatnya,” jelas dokter.

“Doumo arigatou, Sensei! Ano... apa kami boleh menjenguknya?” tanya Aoi.

“Douzo,” dokter itu mengijinkan mereka berdua menemui Kai. Aoi segera melangkahkan kakinya menuju kamar Kai dirawat. Tapi tangan Reita memegangi tangan Aoi, menghalangi Aoi untuk masuk ke dalam.

“Matte!” Reita menunda langkah Aoi.

“Nande?” tanya Reita.

“Sebenarnya kau ada hubungannya kan dengan semua kejadian ini?” tanya Reita curiga.

“Apa maksudmu?” Aoi jadi bingung.

“Kau pasti mengetahui kenapa Kai seperti ini. Iya kan, Aoichan?” Aoi menghela napasnya dan mulai bercerita kepada Reita.

“Tapi kau harus janji padaku, kau tidak marah padaku. Karena aku tidak ingin persahabatan kita dari kecil hancur,” kata Aoi. Reita mengangguk. “Sebenarnya, sebelum dia jatuh pingsan di tempatmu, dia bertemu denganku di depan gerbang sekolah. Dia menungguku sampai selesai rapat,”

“Lalu?” Reita penasaran.

“Saat itu dia mengutarakan persaannya padaku. Dia menyukai aku. Namun aku menolaknya,” Aoi menundukkan kepalanya. Dan tiba-tiba, Reita meninjukan tangannya di tembok.

“KUSO!! Kenapa aku tidak mengetahui hal itu. Padahal aku seharusnya bisa menebak kelakuan Kaichan,” mata Reita berkaca-kaca.

“Gomen na! Bukan maksudku untuk membuat keadaan menjadi seperti ini. Aku sebenarnya juga menyukai Kaichan. Tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku ingin ini menjadi kejutan di ulang tahunnya besok. Tapi aku tak tahu kalau kejadiannya seperti ini,” Aoi tertunduk sambil meneteskan air mata lagi.

“BAKA NA!!! KENAPA KALIAN MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU? APA AKU BUKAN ORANG YANG KALIAN PERCAYAI SELAMA INI? HUH???” Reita menarik kerah baju Aoi.

“Bu... bu... bukan begitu, Rei-chan!” Reita melepaskan kerah baju Aoi dengan agak kasar. “Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu. Tapi saat aku ingin mengatakannya, kau pasti dalam keadaan bertengkar dengan Ruki. Jadi aku tidak punya kesempatan menceritakan padamu,” jelas Aoi.

“Besok adalah ulang tahun Kaichan. tapi sekarang dia malah terbaring tak berdaya di dalam,” Reita mulai menitikkan air matanya tapi dia masih ingin menahannya.

“Wakatta. Besok adalah ulang tahun Kaichan. Aku ingin dia membuka matanya,” kata Aoi.

Gomen na, Kaichan! gomen aku telah membuatmu sampai seperti ini karena kata-kataku yang bodoh kemarin. Aku menyesali semua ini! Aku mencintaimu, Kaichan! Kumohon, bukalah matamu. Besok adalah hari ulang tahunmu. Aku ingin segera mengatakan isi hatiku yang sebenarnya padamu.


“Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday to Kaichan... happy birthday to you!” Aoi menyanyikan lagu ulang tahun dengan lirih dan memegangi tangan Kai.

“Kumohon Kaichan, bukalah matamu! Aku mencintaimu!” kata Aoi dalam hati. Aoi mencium kening Kai yang agak pucat. Tak berapa lama, tangan Kai yang dipegang oleh bergerak.

“Kaichan??” panggil Aoi. “Kaichan, kau sudah sadar?” Aoi melihat Kai membuka matanya sedikit demi sedikit.

“Aoichan? Aku ada di mana?” tanya Kai dengan suara yang tak berdaya.

“Kau ada di rumah sakit, Kaichan. Kemarin kau pingsan karena demammu kambuh,” Aoi tersenyum sumringah melihat Kai mau berbicara kepadanya.

“Mana Rei-chan?” tanya Kai.

“Ano... Rei-chan sedang dalam perjalanan kemari bersama Ruki. Sebentar ya!” Aoi mengambil ponselnya dan memencet nomor Reita.

“Moshi moshi, Rei-chan! Kai sudah siuman! Segera datanglah ke rumah sakit!” Aoi menutup ponselnya segera dan mencari dokter untuk memeriksa keadaan Kai. Lalu dia kembali memegang tangan Kai yang masih sedikit lemah.

“Aoichan, apa tadi kau menyanyikan lagu ulang tahun untukku?” Aoi mengangguk.

“Ano... Kaichan, gomen na! Waktu itu aku tidak bermaksud untuk menolakmu. Sebenarnya aku juga suka dengan Kaichan. Tapi aku sudah mempunyai rencana aku ingin mengatakannya hari ini, di saat kau ulang tahun. Tapi aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini. Gomen na!”

“Aoichan, apa aku tidak salah dengar? Kau juga menyukaiku?” tanya Kai memperjelas.

“Aishiteru Kaichan! kau tidak salah dengar. Bahkan aku sudah menyukaimu saat pertama aku bertemu denganmu,” Aoi tersenyum pada Kai dan Kai juga tersenyum pada Aoi. Aoi mencium bibir Kai dengan lembut.

Dokter segera datang dan memeriksa Kai. Setelah memeriksa keadaan Kai, dokter mengatakan bahwa Kai sudah boleh pulang besok dan meninggalkan kamar Kai. Dan tak lama, Reita dan Ruki datang.

“Kaichan!” panggil Reita sambil mendekat. “Daijoubu ka?” Kai menganggukkan kepalanya dengan lemah. “Yokatta!”

“Rei-chan, apa kau lupa hari ini hari apa?” tanya Aoi.

“Ya Tuhan! Sampai lupa! Otanjoubi omedetou gozaimasu, Kaichan!” ucap Reita.

“Kai-kun, aku harap kau cepat sembuh ya! Dan juga, otanjoubi omedetou gozaimasu!” ucap Ruki tidak mau ketinggalan.

“Arigatou minna! Arigatou Ruki-kun! Kalian mengingat ulang tahunku dan aku sudah mendapat kado yang sangat istimewa hari ini. Tuhan benar-benar baik padaku hari ini. Arigatou Kamisama!” kata Kai.

“Nee Rei-chan, Kaichan sudah bisa dibawa pulang besok,” kata Aoi.

“Hontou ka? Yokatta!” Reita bersyukur.

“Rei-chan,” panggil Kai. Maaf aku tidak pernah bilang padamu. Tapi aku sudah menjadi milik Aoichan,”

“Nani? Yokatta!” Reita memandang Ruki kekasihnya dan menggandeng tangan kekasihnya itu. “Ayo kita rayakan!”

---OWARI---

2 komentar:

那津-natsu- mengatakan...

ya ya ya.. bagus koq chu.. cuma ya ituu.. kurang panjang.. gw ga puas baca na.. XDD next pik REITAxURUHA yaa.. ga ad AOIxURUHA!! huh.. ud janji lohhh kmaren.. kalo ga URUHAxKAI jg ble dehh.. pkk na ga ad AOI na dahh.. XP~ luph yaa.. muahh muahh.. X33 *kabur sblm dtavok yuke*

Rahma mengatakan...

kai Aoi?
wakakaa...pairing yg paling jarang^^

kasi komen ke fanficku juga dunkkk^^

bikin RUKIXKAI napa...

ckck...suamiku (ruki) ga dapet peran...teganya..