Rabu, 08 Oktober 2008

my best friend is my love

Hari ini adalah hari yang cerah. Ruki memutuskan untuk jalan-jalan siang itu. Dia memutuskan untuk pergi ke kafe langganannya yang tidak jauh dari apartemennya.

Setelah sampai di kafe, Ruki mengeluarkan sekotak rokok dan pemantiknya. Diambilnya satu batang rokok dari kotak rokoknya dan dia menyalakan api dari pemantiknya. Dengan santai, dia memanggil pelayan dan memesan minuman.

Tiba-tiba wajah Ruki berubah pucat karena terkejut ketika melihat seorang laki-laki memakai noseband memasuki kafe di mana Ruki berada. Dengan segera, Ruki pergi dari mejanya menuju ke belakang kafe.

“Yosh!” sapa laki-laki yang baru masuk itu kepada pemilik kafe bernama Tetsu.

“Reita! Lama kau tak menampakkan wajahmu di sini. Kenapa tak bersama Ruki? Biasanya kalian datang berdua. Tapi kenapa hari ini dia datang tanpa dirimu, dan dirimu datang tanpa dia?” tanya Tetsu heran.

“Nani? Ruki ke sini? Kapan?” laki-laki yang ternyata bernama Reita itu bertanya dengan antusias.

“Baru saja dia memesan minuman. Mungkin sekarang dia sedang ke toilet,” jawab Tetsu.

“Owh. Di meja mana dia duduk?” tanya Reita.

“Di meja nomor delapan,” jawab Tetsu.

“Ok! Aku ke sana. Dan jangan lupa bawakan aku minuman yang biasanya ya!” kata Reita langsung menuju ke meja Ruki dengan senyuman seperti dia telah mendapatkan sesuatu yang telah lama dia cari.

Di belakang kafe, Ruki celingak-celinguk seperti sedang main petak umpet. Kadang Ruki ingin melangkahkan kakinya menuju mejanya, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti. Dan sampai akhirnya Tetsu mengejutkan Ruki.

“Ruki, sedang apa kau di sini?” tanya Tetsu.

“Ah, Tet-chan. Ano... Ano... ” Ruki tak bisa berkata-kata.

“Ada apa kau ini? Reita menunggumu di mejamu,” kata Tetsu.

“Oh! Sebentar lagi aku ke sana. Tapi...” Ruki memutus kata-katanya dan mulai mengatur napas.

“Jangan-jangan kau bertengkar dengan Reita ya?” tanya Tetsu agak curiga.

“Iie... Iie... Siapa yang bertengkar? Kau ada-ada saja. Sudah dulu ya!” Ruki meninggalkan Tetsu dan memberanikan diri untuk menemui Reita.

Dengan agak gugup dan takut, Ruki mendekat ke mejanya. Ruki sangat ragu-ragu untuk memulai pembicaraan dengan Reita. Namun, akhirnya Ruki mengatur napas lagi dan mulai menyapa Reita.

“Rei-chan!” sapa Ruki.

“Oh! Ruki-chan!” Reita menyapa balik.

“Emm... Su... Sudah lama di sini?” tanya Ruki dengan gugup.

“Iie. Baru saja. Aku mencarimu beberapa hari ini. Kau ke mana saja, Ruki-chan?” Reita bertanya pada Ruki.

“Eto... Aku... Aku baru saja dari toilet. Ya. Toilet,” Ruki menjawab sambil tersenyum aneh.

“Maksudku beberapa hari ini. Sepertinya kau sekarang sedang menghindar dariku. Iya kan?” tanya Reita penuh kecurigaan.

“Hah? Menghindar? Darimu? Iie.. Iie... Itu mungkin perasaanmu saja. A... Aku tidak pernah menghindar darimu,” jawab Ruki gugup.

“Sou ka? Lalu kenapa setiap aku ke apartemenmu kau tak mau keluar padahal kau di dalam? Kenapa setiap aku telepon, kau malah mematikan teleponmu?” Reita menginterogasi.

“Itu... Itu....” Ruki sudah kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa memberi alasan kepada sahabat baiknya itu.

“Kau tak bisa menjawabnya kan? Berarti aku benar. kau memang menghindar dariku,” kata Reita dengan wajah yang agak sedih.

“Iie! Aku tidak menghindar! Tapi... Tapi...” kata-kata Ruki terpotong lagi.

“Tapi apa?” tanya Reita lebih lanjut.

“Ah! Sudah jam tiga. Waktunya kita latihan! Aku pergi dulu ya, Rei-chan!” Ruki segera mengemasi barang-barangnya dan segera pergi dari kafe itu.

“Matte ne, Ruki-chan!” Reita menghentikan langkah Ruki. “Itu salah satu bukti bahwa kau memang menghindar dariku,” Ruki menolehkan wajahnya dan dengan hati-hati memandang mata Reita.

Tiba-tiba Reita berjalan dengan wajah agak marah dan menggandeng tangan Ruki dengan paksa.

“Kau ikut denganku!” kata Reita. Ruki sudah ketakutan melihat wajah Reita. Dengan pasrah dia ikut ke mana Reita berjalan karena tangan Ruki digenggam dengan erat oleh Reita.


“Kai-chan, tasukete kure!” Ruki mendekap tubuh teman satu bandnya, Kai.

“Nande kore, Ruki-chan?” Kai terkejut saat melihat Ruki mulai menitikkan air mata.

“Rei-chan... Rei-chan....” kata Ruki sesrenggukan.

“Ada apa dengan Rei-chan? Apa dia sakit?” tanya Kai khawatir.

“Iie... Demo... Demo... Dia marah padaku!” Ruki mulai mengeraskan tangisannya.

“Rei-chan marah? Kok bisa? Kamu pasti bikin ulah ya? Cerita donk!” kata Kai perhatian sekali.

“Aku nggak bikin ulah! Tapi.... semua ini gara-gara gosip di majalah,” Ruki sedikit menenangkan dirinya.

“Gosip di majalah? Gosip apa?” Kai sangat penasaran.

“Majalah itu menulis bahwa aku dan Rei-chan sudah tidak seperti sahabat pada umumnya. Hubunganku dengan Rei-chan seperti sepasang kekasih. Padahal aku tidak mau seperti itu. Makanya aku beberapa hari ini menghindar dari Rei-chan,” cerita Ruki pada Kai.

“Aiih! Cuma gosip seperti itu saja. Nggak usah dimasukin ke dalam hati lah! Dulu kau juga tahu kan aku juga pernah digosipkan begitu dengan Aoi-chan?” Kai menenangkan hati Ruki.

“Tapi kau kan akhirnya juga jadian sama Aoi-chan? Sama saja!” Ruki mulai kesal dengan Kai. Kai hanya tersenyum pada Ruki.

“Hanya satu yang ingin aku katakan. Semuanya tanyakan pada hatimu. Ayo latihan! Waktu kita nggak banyak!” Kai menepuk bahu Ruki dan pergi meninggalkan Ruki.

“Tanya pada hatiku? Apa maksud Kai-chan?” Ruki berpikir sejenak lalu pergi ke tempat latihan.


Sepulang dari latihan, Ruki masih bertanya-tanya tentang perkataan Kai padanya tadi. Tapi lamunannya menghilang setelah melihat Reita yang memasang tampang cuek kepada Ruki keluar dari studio.

“Rei-chan!” Ruki berteriak memanggil Reita, namun Reita terus berjalan seakan tidak mendengar namanya dipanggil.

Ruki dengan merasa bersalah, berlari ke arah Reita. Reita tetap dengan tampang cueknya, membuka pintu mobil dan masuk ke mobil. Ruki yang sudah lelah berlari, menggedor-gedor pintu mobil Reita.

“Rei-chan! Buka pintunya! Kita perlu bicara!” Ruki memohon kepada Reita.

Reita membuka jendelanya dan memberi isyarat kepada Ruki untuk naik ke mobilnya. Dengan sedikit senyuman di wajah Ruki, Rukipun naik ke mobil Reita dan duduk di sebelah Reita.

“Arigatou, Rei-chan!” kata Ruki.

“Jadi sekarang kau mau bilang alasan kenapa kau menghindar dariku?” tanya Reita ketus.

“Eto...” Ruki masih belum bisa bicara.

“Baiklah! Sekarang kau turun dari mobilku!” ucap Reita dengan wajah lebih marah kepada Ruki.

“Matte ne! Ok! Aku akan bilang alasannya,” Ruki memberanikan diri mengatakan pada Reita.

“Apa alasannya? Dan aku mau alasan yang masuk akal,” kata Reita. Ruki mengatur napasnya.

“Alasannya... Karena... Beberapa hari yang lalu aku membaca majalah. Dan di majalah itu memuat berita kita berdua,” ucap Ruki.

“Apa beritanya?” Reita penasaran.

“Beritanya... Beritanya... Majalah itu menulis bahwa aku dan Rei-chan sudah tidak seperti sahabat pada umumnya. Hubunganku dengan Rei-chan seperti sepasang kekasih,” Ruki lega setelah menceritakan hal itu.

Reita tertawa terbahak-bahak. Dan itu membuat Ruki menjadi heran.

“Kanapa kau tertawa, Rei-chan?” tanya Ruki.

“Ceritamu lucu sekali!” Reita tak berhenti tertawa.

“Tapi itu kenyataannya! Kau jahat!” kata Ruki dengan amukan manja. Reita menghentikan tertawanya.

“Nee Ruki-chan, bagaimana kalau berita itu benar? Bagaimana kalau kita benar-benar sepasang kekasih?” tanya Reita dengan tampang serius.

“Hah? Nani? Apa maksudmu, Rei-chan?” Ruki mulai gugup melihat wajah Reita.

“Sebenarnya selama ini aku mencintaimu. Mungkin karena tingkahku yang berlebihan padamu membuat berita itu muncul. Tapi apa yang aku rasakan ini benar-benar terjadi. Aku benar-benar mencintaimu. Suki da yo,” kata Reita mendekatkan wajahnya ke Ruki tapi Ruki menjauh dari Reita.

“Iie! Ini tidak boleh terjadi! Kita hanya sahabat! Nggak lebih!” Ruki yang ketakutan mendorong tubuh Reita yang lebih besar darinya dan langsung membuka pintu mobil Reita dan keluar menjauh dari Reita.


Malamnya, Ruki tidak bisa tidur. Dia benar-benar stres mengingat kata-kata Kai dan Reita. Berulang kali dia mengganti posisi tidurnya ke kiri dan ke kanan. Kadang bantalnya ditutupkan ke kepalanya.

“DOUSHITE!!! KENAPA HARUS BEGINI?” Ruki berteriak sekeras-kerasnya. “Nggak! Ini nggak boleh terjadi! Rei-chan harus tetap jadi sahabat, nggak lebih dari itu!”

TING TONG!! Bel apartemen Ruki dipencet oleh seseorang.

“Siapa sih yang bertamu malam-malam begini?” tanya Ruki kesal. Dengan langkah kaki yang berat Ruki membuka pintu. Wajah Ruki yang semula mengantuk, tiba-tiba terbangun.

“Uru-chan? Ada apa ini?” Ruki bertanya keheranan.

“Ruki-chan, bantu aku mengurus Rei-chan! Dia mabuk di bar dan karena ini sudah malam dan apartemen Rei-chan jauh, makanya aku bawa dia ke tempatmu. Karena apartemenmu yang terdekat. Kau mau kan merawatnya?” kata Uruha.

“Lalu kau? Dan kenapa Rei-chan bisa mabuk?” Tanya Ruki.

“Entahlah. Tadi aku ditelepon oleh seorang bartender di bar. Dan sekarang aku harus pergi ke tempat Saga,” jawab Uruha.

“Hah? Saga-kun? Apa kau pacaran dengan dia?” Ruki terkejut.

“Hehehe... Ya begitulah,” Uruha tersenyum malu. “Ya sudah. Aku titip Rei-chan ya! Jaa na!”

Ruki melambaikan tangannya kepada Uruha dan segera membawa masuk Reita karena di luar dingin sekali. Ruki membaringkan Reita di tempat tidurnya. Sepatu Reita dilepasnya dengan hati-hati takut membangunkan Reita.

“Rei-chan, kenapa kau jadi mabuk? Apa gara-gara aku tadi? Gomen na, Rei-chan. Aku tidak bisa menerimamu. Aku tidak seperti Aoi-chan dan Kai-chan ataupun Uru-chan dan Saga-kun,” Ruki berbicara dengan menatap Reita yang sedang tertidur karena mabuk.


Keesokan paginya, saat Reita terbangun, dia terkejut karena dia telah tidur di kamar orang lain. Tapi kamar yang dia tiduri sangat dikenalnya. Perlahan-lahan Reita keluar dari kamar Ruki dan mendapati Ruki sedang tidur di sofa.

“Ruki-chan!” Reita membangunkan Ruki dengan perlahan-lahan. Ruki mulai menggeliat pertanda dia telah terbangun.

“Ah, Rei-chan. Kau sudah bangun rupanya. Berarti sudah waktunya membuat sarapan,” kata Ruki dan segera dia bangun dan pergi ke dapur.

“Matte! Ruki-chan, maaf soal kejadian yang kemarin. Aku... Aku benar-benar kehilangan akal sehat. Aku tahu pasti Ruki-chan tidak akan menerimaku,” kata Reita.

“Daijoubu! Aku juga minta maaf, Rei-chan. Beberapa hari ini aku sudah membuatmu khawatir gara-gara berita di majalah itu,” Ruki tersenyum kepada Reita.

“Nee Ruki-chan, kenapa aku bisa tidur di apartemenmu? Perasaan kemarin aku ada di bar,” tanya Reita.

“Oh, Uru-chan yang membawamu ke sini. Kemarin dia ditelepon oleh bartender di bar tempatmu mabuk. Dan katanya dia kemarin sedang buru-buru karena ada janji dengan Saga-kun, makanya kau dititipkan di sini. Oh ya, kau mabuk gara-gara aku ya? Gomen ne,” kata Ruki. Reita tersenyum melihat Ruki yang sudah tidak bermain petak umpet dengannya.

“Mau aku bantu kau memasak?” Reita menawarkan bantuan.

“Memang kau bisa memasak? Tidak usah, Rei-chan. Kau masih terlihat pucat karena mabuk. Kau mandi saja dulu biar badanmu segar,” suruh Ruki.

“Baiklah. Bajuku yang tertinggal masih di sini kan?” tanya Reita.

“Un! Ada di lemari bagian atas. Ambil saja,” jawab Ruki dari dapur.


Siang yang begitu panas. Ruki memutuskan untuk pergi ke mini market dekat apartemennya untuk membeli minuman karena Reita sedang berada di apartemennya, sekalian membelikan cemilan untuk Reita.

“Apa perlu aku antar?” tanya Reita.

“Iie. Aku bisa sendiri. Kau mau titip sesuatu, Rei-chan?” tanya Ruki. Reita menggelengkan kepalanya. “Baiklah. Aku pergi dulu. Jaa na!”

Setelah berjalan lima menit, akhirnya Ruki sampai juga di mini market. Saat sedang asik memilih barang belanjaan, terdengar seseorang memanggil namanya.

“Ruki-chan!” sapa Kai dari kejauhan.

“Oh! Kai-chan! Aoi-chan!” Ruki menyapa mereka.

“Bagaimana kabar Rei-chan? Apa dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan kalian sudah jadian?” ledek Kai.

“Hey! Siapa yang jadian? Rei-chan baik-baik saja. Sekarang dia ada di apartemenku,” jawab Ruki.

“Wah, sebentar lagi ada satu pasangan baru yang menyusul Uru-chan dan Saga-kun,” ledek Aoi.

“Diam kalian! Aku dan Rei-chan hanya sahabat. Tak ada hubungan spesial,” kata Ruki hampir berteriak.

“Aoi-chan, aku berani bertaruh sebentar lagi pasti mereka memproklamirkan hubungan mereka kepada kita,” kata Kai kepada Aoi kekasihnya.

“Un! Aku juga yakin itu. Aku tunggu ya, Ruki-chan!” kata Aoi.

“Tunggu saja. Aku tak akan pernah pacaran dengan Rei-chan. Rei-chan kan sahabatku. Oh ya, apa kalian mau mampir ke apartemenku?” tanya Ruki. Kai dan Aoi berpandangan sebentar dan menganggukkan kepalanya.

Mereka segera membayar barang belanjaan mereka masing-masing dan segera pergi ke apartemen Ruki.

“Tadaima!” ucap Ruki sesampainya dia di apartemennya.

“Okaeri!” sahut Reita. “Oh, Kai-chan! Aoi-chan!” sapa Reita.

“Yosh!” sahut Kai dan Aoi bersamaan.

“Aku tadi bertemu mereka berdua di mini market jadi aku ajak mereka ke sini biar ramai,” kata Ruki.

“Apa kedatangan kami mengganggumu, Rei-chan?” tanya Aoi.

“Ah, iie. Tidak sama sekali. Duduklah!” jawab Reita.

“AHH!! DOMPETKU KETINGGALAN DI MINI MARKET!” teriak Kai saat menyadari dompetnya tidak ada di tangan.

“Hah? Kok bisa, yank?” tanya Aoi begitu perhatian. “Kalau begitu, kita kembali ke mini market itu,”

“Maaf ya, yank! Aku merepotkanmu. Minna, aku pergi dulu ya! Nanti aku akan kembali ke sini kok. Jaa na!” kata Kai dengan cengirannya yang khas.

Kai dan Aoi membuka pintu dan meninggalkan Ruki dan Reita.

“Yah, sepi lagi. Tetap saja kita berdua di sini,” kata Ruki agak mengeluh.

Ruki merebahkan diri duduk di sofa di sebelah Reita. Ruki iseng-iseng melihat wajah Reita. Reita yang sedang asik nonton TV tidak sadar bahwa dia sedang diperhatikan oleh Ruki.

“Rei-chan, ternyata setelah aku perhatikan, ternyata kau cakep juga. Tapi kita tidak mungkin jadi pacar. Kau adalah sahabatku,” kata Ruki dalam hati.

Dan saat Ruki masih berada di lamunan, Reita menoleh ke arah Ruki dan mendapati wajahnya sedang ditatap oleh laki-laki yang dicintainya sekaligus sahabatnya.

“Ruki-chan,” panggil Reita. Namun Ruki masih tetap memandangi Reita.

Reita memanggilnya sekali lagi tapi tetap tak ada respon dari Ruki. Tanpa basa-basi, Reita mendekatkan wajahnya ke wajah Ruki. Dan entah apa yang terjadi dengan Ruki, Ruki juga mendekatkan wajahnya ke wajah Reita. Tinggal satu senti bibir mereka akan bersentuhan. Lima mili...

TLULULULUT!!! Telepon genggam Ruki berdering. Keduanya segera menjauh dan wajah mereka menjadi pucat. Dengan salah tingkah, Ruki mengambil telepon genggam yang berada di saku celananya.

“Moshi-moshi! Ada apa, Kai-chan?” tanya Ruki. “Oh... Daijoubu! Ada Aoi-chan kan di sebelahmu? Baiklah, hati-hati di jalan ya!”

“Dare?” tanya Reita basa-basi.

“Kai-chan. Dia tidak bisa kembali ke sini karena dia ada janji dengan Nao-kun untuk makan bersama,” jawab Ruki.

“Oh,” kata Reita.

Suasana menjadi sunyi karena mereka melakukan aksi diam. Duduk mereka sedikit berjauhan. Tentu saja yang menjauhkan diri adalah Ruki. Tapi tiba-tiba suara Reita memecah kesunyian.

“Ruki-chan,” panggil Reita. Ruki menoleh ke arah Reita.

“Kau juga menyukaiku kan?” tanya Reita tiba-tiba.

“Hah? Na... Nani?” Ruki terkejut mendengar kata-kata Reita.

“Tak usah kau tutup-tutupi. Aku tahu dari tatapanmu tadi. Kau menyukaiku,” kata Reita sambil nonton TV.

“He... Hehehehe.... Itu... Itu hanya kebetulan. Aku tadi hanya memperhatikan ada lalat di rambutmu,” Ruki mencari-cari alasan.

“Hah? Lalat di apartemenmu? Sejak kapan apartemenmu ada binatang hina itu?” Reita tidak mempercayai perkataan Ruki.

Dengan sigap Reita mendekati Ruki yang sedang ketakutan. Reita mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Ruki. Ruki semakin ketakutan dengan tingkah laku Reita yang baginya ini kelewatan.

“Rei... Rei-chan... Kau...” kata Ruki gagap.

“Ssshhh! Jangan mengeluarkan suara apapun!” perintah Reita.

Entah kenapa Ruki mentaati perintah dari Reita. Dia duduk diam membatu dengan tatapan waspada kepada Reita. Dan Reita tetap mendekatkan wajahnya ke Ruki.

Sampai akhirnya bibir mereka berdua bertemu. Ruki memejamkan matanya karena ketakutan. Dan Reita melumat bibir Ruki yang lembut dengan bernafsu. Lidahnya mencoba menerobos bibir Ruki yang tertutup rapat.

Tangan Reita memegang leher Ruki dan dengan sedikit paksaan, akhirnya Ruki mempersilahkan lidah Reita masuk ke dalam mulutnya.

“Akhirnya kau mengakuinya. Kau memang benar-benar menyukaiku,” kata Reita menghentikan ciumannya dan tersenyum penuh kemenangan.

“Eto... Sebenarnya... Aku sudah menyukaimu dari dulu. Demo, aku takut suatu hari nanti persahabatan kita akan menjadi berantakan dan aku takut kehilangan Rei-chan,” kata Ruki sambil menitikkan air matanya.

Reita hanya tersenyum dan memeluk tubuh mungil Ruki yang sedang menangis.

“Aku berjanji hal itu tak akan terjadi. Kau tak akan kehilangan diriku,” kata Reita menenangkan Ruki.

Reita mengangkat wajah Ruki yang sedih itu, dan mendekatkan kembali bibirnya ke bibir Ruki. Dengan penuh cinta mereka bercumbu saat itu. Reita terus menerus melumat bibir Ruki. Tangannya mulai menggerayangi tubuh mungil Ruki.

Beberapa menit kemudian, Reita menurunkan bibirnya dan berganti melumat leher Ruki. Sedikit desahan terdengar dari mulut Ruki.

“Nhh... Rei... chan...” desah Ruki.

Jari telunjuk Reita mendarat ke bibir Ruki memberi isyarat kepada Ruki untuk diam. Ruki hanya pasrah saat Reita membuka kancing kemejanya satu per satu dan menurunkan resleting celana Ruki.

“Shall we dance?” tanya Reita lirih di telinga Ruki. Ruki hanya pasrah dan menganggukkan kepalanya. Dan Reita segera melepas bajunya dan melakukan hal itu dengan Ruki.


“Ruki-chan, ada apa dengan wajahmu?” tanya Uruha waktu di studio untuk latihan keesokan harinya.

“Ah, Iie. Daijoubu, Uru-chan. Aku tidak apa-apa,” jawab Ruki dengan wajah memerah gara-gara teringat adegan yang terjadi kemarin bersama Reita..

“Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu memerah. Apa kau demam? Mau aku panggilkan Kai-chan?” Uruha khawatir dengan keadaan teman satu bandnya itu.

“Nggak. Nggak usah repot-repot. Aku benar-benar nggak apa-apa,” kata Ruki.

“Ohayou!” sapa Reita yang tiba-tiba datang.

“Ohayou, Rei-chan!” sapa Uruha.

“Ruki-chan, ada apa dengan dirimu? Apa kau baik-baik saja?” kata Reita ikut khawatir melihat wajah Ruki yang lebih merah saat Reita datang.

Tanpa basa-basi, Reita mencium bibir Ruki. Dan ciuman Reita membelalakkan mata Ruki dan Uruha. Uruha yang tidak mempercayai penglihatannya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan langsung berlari ke dalam studio meninggalkan mereka berdua.

Di dalam studio, Uruha menyebarluaskan apa yang baru saja dilihatnya kepada Kai dan Aoi.

“Kabar terbaru! Kabar terbaru!” teriak Uruha.

“Ada apa denganmu, Uru-chan? Kabar terbaru apa?” tanya Aoi.

“Di depan... Di depan...” kata Uruha terbata-bata.

“Ada apa di depan?” tanya Kai penasaran.

“Ruki-chan... Rei-chan....”

“Ada apa dengan mereka berdua?” Aoi semakin dibuat ketakutan oleh Uruha.

“Mereka kecelakaan?” tanya Kai. Uruha menggelengkan kepala.

“Mereka kecopetan?” tanya Kai lagi. Uruha menggelengkan kepalanya lagi.

“Lalu apa?” Aoi bertanya sedikit marah kepada Uruha.

“Ruki-chan... Rei-chan... Di depan... Ciuman!” kata Uruha terpotong-potong.

“SERIUS?” tanya Kai dan Aoi bersamaan saking terkejutnya. Uruha yang speechless hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Dengan segera Aoi dan Kai ngacir ke depan mengintip Ruki dan Reita. Uruha ikut-ikutan.

Mereka bertiga mengintip Ruki dan Reita yang sedang bermesraan. Tanpa disengaja kaki Uruha menginjak kaki Kai.

“Ittai!!!” teriak Kai kencang.

“Ah, gomen ne, Kai-chan!” Uruha meminta maaf.

“Kai-chan, daijoubu ka?” tanya Aoi.

“Sakit tauk!” Kai memukul kepala Uruha.

Tanpa disadari oleh ketiganya, ternyata Ruki dan Reita menghampiri mereka.

“Ada apa kalian bergerumbul di sini?” tanya Reita.

“Ah! Rei-chan. Hehehehe....” Kai tertawa kecut melihat kedatangan Reita dan Ruki.

“Kelihatannya ada pasangan baru ya?” kata Aoi menyindir Ruki dan Reita. Ruki yang sedang disindir hanya senyum-senyum sendiri.

“Ruki-chan, wajahmu sudah tidak merah lagi?” tanya Uruha. Ruki menggelengkan kepalanya.

“Ya pastinya tidak merah lagi, kan sudah ada Rei-chan kekasihnya,” ledek Kai.

“Apa benar kalian sudah jadian?” tanya Aoi ingin memastikan.

“Hmm... Hai! Kami baru jadian kemarin,” jawab Reita.

“Hah? Bagaimana ceritanya? Aku sebagai leader di band ini harus tahu,” tanya Kai.

“Untuk hal ini, kau tak perlu tahu, Kai-chan,” jawab Ruki.

“Jahat sekali kalian!” kata Kai.

“Benar kan apa yang aku bilang kemarin. Cepat atau lambat kau pasti pacaran dengan Rei-chan,” kata Aoi. Ruki hanya bisa senyum-senyum malu mendengar kata-kata Aoi.

“Ah! Sudah waktunya kita latihan! Iko!” kata Ruki mengingatkan teman-temannya.

“Tapi kalian berdua harus berjanji pada kami!” kata Uruha.

“Apa?” tanya Reita penasaran.

“Kalian harus traktir kami semua plus Saga-chan,” jawab Uruha.

“Hmm... Bagaimana ya? Ok! Nanti setelah latihan aku traktir kalian,” kata Reita sambil menggandeng kekasih barunya.

“YATTA!!!” teriak Kai, Aoi, dan Uruha.

= OWARI=
(^.^)

Tidak ada komentar: